Palestina Cermin Kondisi Umat Islam

18 11 2007

Oleh. Najmudin Ansorullah*
al-aqsha.jpg

Penting mana, pesoalan nasib al-Aqsha dan umat Islam di Palestina atau masalah kemiskinan, kemerosotan moral, penanggulangan bencana alam dan berbagai persoalan lain di negeri ini?
Pertanyaan itu sering diajukan sebagian umat Islam di negeri ini seiring kondisi umaAl-Aqsha Mosque Palestinet Islam akhir-akhir ini. Jika melihat cermin kondisi umat Islam sekarang, kiranya pertanyaan itu sangat relevan. Di saat umat Islam semarak memperingati Isra Mi’raj dari istana hingga astana tanggal 27 Rajab kemarin, nasib Masjid al-Aqsha hingga hari ini tengah dalam rencana penghancuran oleh Zionis Yahudi Radikal Israel. Pertanyaannya kini, apakah kondisi (al-Aqsha) ini pertanda cermin kekhawatiran bagi umat Islam?

Al-Aqsha dan Masjid Kita

Di antara hikmah dan pelajaran penting dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah untuk mengingatkan bahwa umat Islam dalam kegiatan dan aktivitasnya harus dimulai dari masjid dalam rangka mencapai satu kebangkitan. “Tanpa itu umat Islam tidak mungkin bangkit”. Dalam Isra Mi’raj ada perintah penting berkaitan dengan perintah shalat. “Shalat adalah Mi’rajul Mukminin” (Dialog Jum’at, 10/08).
Tapi, pernahkah Anda berkeliling di sekitar tempat tinggal untuk melihat kondisi, misalnya shalat Shubuh berjama’ah di masjid? Terlihat umat Islam kurang begitu semarak, sehingga masjid menjadi sepi. Para da’i sering menggambarkan dalam ceramahnya, hanya kalangan orang tua atau kakek-kakek yang mengisi masjid saat shalat Shubuh. Bahkan, bukan karena kapasitas keislamannya yang mencla-mencle (kurang), sekedar identitas dan sebagainya, tapi kini cenderung kalangan umat Islam banyak yang lebih paham agama mulai meninggalkan masjid.
Memang, pada dasarnya shalat dapat dilakukan di mana saja asalkan tempat itu bersih dan layak untuk melakukan shalat, setiap tempat adalah masjid (kullu ardin masajid). Namun, dalam shalat Islam memberikan toleransi sekaligus solusi. Apabila umat Islam melakukan shalat di tengan jalan dapat mengganggu aktivitas kendaraan dan mengancam dirinya atau melakukannya di tempat-tempat lain yang tak layak dan kotor. Karena itu, masjid merupakan kebutuhan pokok (primer) untuk melakukan shalat.
Demikian dalam fiqh bahwa tidak sah seseorang memimpin (mengimami) shalat, karena tidak fasih membaca al-Quran. Hal ini, oleh sebagian kalangan (meski paham betul agama) merasa lebih baik memisahkan diri (tafaruq) dalam shalat berjama’ah di masjid. Pertanyaanya, kenapa tidak lebih awal memimpin shalat atau apakah tidak ada cara lain selain menganggap bodoh sang imam?.
Selain itu, mengenai ketepatan arah kiblat mushalla dan masjid, sebagian mempersoalkan bahwa banyak mushalla dan masjid di negeri ini yang kurang tepat dengan arah kiblat. Selama ini, memang arah kiblat lebih mengarah ke Barat, yang dalam alat ukur kompas atau peta cenderung mengarah ke Afrika. Ketidak-tepatan arah kiblat, juga telah membuat sebagian warga muslim merasa merasa kurang sah shalatnya di masjid bersangkutan. Apakah tidak lebih baik memperbaiki keadaan dari pada lari memisahkan diri meninggalkan masjid yang akhirnya terjebak perpecahan?
Perbedaan aliran paham keagamaan juga telah mengakibatkan seakan masjid yang semula menjadi rumah Allah (baitullah) menjadi tempat privat. Dalam shalat Shubuh, sebagian merasa amalan qunut adalah bid’ah, lalu merasa enggan melakukan berjama’ah di masjid yang menjalaninya atau sebaliknya. Begitu pun pada bulan Ramadhan, sebagian umat Islam ada yang merasa kurang nyaman melakukan shalat Tarawih di masjid yang notabene berbeda paham karena perbedaan jumlah bilangan raka’atnya.
Masih banyak persoalan-persoalan seperti itu yang menyulutkan umat Islam ke jurang perpecahan. Kini, umat Islam tak perlu lagi membuat suatu argument untuk menjauhi masjid. Karena itu, saatnya umat Islam mengembalikan fungsi utama masjid sebagai rumah Allah (baitullah) untuk mengakhiri persoalan umat Islam.
Lalu, mengapa Masjid al-Aqsha? Kekurang-pedulian umat Islam sendiri terhadap masjid, rupanya telah menurunkan juga kesadaran terhadap nasib Masjid al-Aqsha yang disebutkan dalam QS al-Isra ayat 1, “Mahasuci (Allah), Dzat yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS al-Isra [17]: 1).
Peristiwa Isra atau perjalanan malam dari Masjid Haram (Makkah) ke Masjid Aqsha (Palestina), dilanjutkan dengan Mi’raj (“naik”) ke Sidratul Muntaha menghadap Allah SWT (QS an-Najm [43]: 13-14). Peristiwa itu hingga kini sering diperingati umat Islam seluruh dunia dengan Isra Mi’raj. Isra Mi’raj merupakan mukjizat Nabi SAW setelah al-Qur’an, karena saat itu Nabi SAW menerima perintah Allah SWT berupa shalat lima waktu.
Dalam Tafsir Munir karya Nawawi al-Bantani, bahwa kata barakna hawlahu yang tercantum dalam QS al-Isra ayat 1 mempunyai dua makna keberkahan: Pertama, keberkahan dunia. As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain, menafsirkan keberkahan itu dengan buah-buahan dan aliran-aliran sungai. Kedua, keberkahan pahala yang berlipat ganda. Masjid al-Aqsha (Palestina) merupakan tempat suci ketiga umat Islam setelah Masjid Al-Haram (Makkah) dan Masjid Nabawi (Madinah). Rasulullah bersabda: “Shalat di Masjid al-Haram sama dengan 10.000 shalat di masjid lainnya. Dan shalat di Masjidku sama dengan 1000 shalat di masjid lainnya dan shalat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 kali shalat di masjid lainnya (HR al-Thabrani).
Demikian itu, mengabaikan Masjid Al-Aqsha berarti mengabaikan derajat dan keberkahan dari Allah SWT. Masjid Al-Aqsha merupakan tanggung jawab setiap umat Islam agar tetap terpelihara dalam pangkuan kaum Muslimin yang sampai kini sedang dikuasai Zionis Yahudi Israel?
Ironisnya, umat Islam selalu terjebak pada perdebatan-perdebatan yang tak membawa ke arah kemajuan umat Islam. Dalam reorientasi masalah al-Aqsha, misalnya, umat Islam malah mempertanyakan letak Masjid al-Aqsha. Perdebatan ini, terkait keberadaan Haikal Sulaiman yang dianggap karakteristik Masjid al-Aqsha. Mengkhawatirkan, umat Islam masih meragukan, bahkan tak tahu Masjid al-Aqsha di Palestina. Sebagian kalangan menyebutkan bahwa pada masa Umar bin Khatab Haikal Sulaiman itu telah dipindahkan ke Masjid Al-Haram. Sebagian lagi menyebutkan telah dihancurkan.
Kini, Haikal Sulaiman atau Kuil Sulaiman tidak terbukti keberadaannya. Dengan dalih untuk mencari kuil, Israel melakukan penggalian (excapation) Masjid al-Aqsha yang Nabi SAW menyebutnya masjid berkubah hijau.
Israel membuat kekeliruan dan rekayasa sedemikian rupa melalui media massa, termasuk media massa Arab terhadap muslim di dunia dengan menampilkan Masjid Umar bin Khatab yang memiliki Qubbah al-Sakhra (Dome of The Rock) sebagai Masjid al-Aqsha.
Terowongan di bawah Masjid al-Aqsha yang dibuat Israel, tepatnya di bawah fondasi masjid diklaim sebagai sejarah mereka. Rencana Israel adalah menghancurkan Masjid al-Aqsha dan simbol-simbol Islam lainnya di al-Quds (Yerusalem). Israel mulai membangun Syinagouge tempat ibadah kaum Yahudi tahun 1996 di salah satu terowongan. Sebuah lembaga yang dibentuk rezim Yahudi Israel mengklaim, Synagouge ini telah dibangun untuk menerangi rumah-rumah di sekitar al-Quds selama lebih 3 ribu tahun dalam sejarah Yahudi. Sejarah yang mana? Kebohongan tentu tidak terbukti. Israel yang mereka (Yahudi) sebut negara adalah suatu bangsa Zionis yang dibentuk di atas darah rakyat Palestina.
Rencana kaum Zionis Yahudi Israel itu tentu merupakan penodaan atas kehormatan Islam yang telah diperjuangkan Nabi Saw dan umatnya sejak dulu hingga sekarang. Demikian itu, bagaimana sikap umat Islam? Tentu kita tak mengharap peringatan Isra Mi’raj hanya sebatas kenangan semata di saat al-Aqsha dan Palestina dalam kekuasaan kaum Zionis Yahudi Israel.

Konidisi Islam Masa Kini

Meski peristiwa Isra Mi’raj terjadi pada 14 abad lalu, kiranya masih relevan dengan kondisi umat Islam sekarang. Maka, tepat kiranya kalau dikatakan Timur Tengah, khususnya Masjid Al-Aqsha dan rakyat Palestina merupakan cermin kondisi umat Islam dunia masa kini jika Palestina yang penuh berkah itu dapat dikuasai kaum Zionis Yahudi Israel.
Israel dan negara-negara sekutunya sengaja merekayasa dan menebar kebohongan pada umat Islam untuk terpecah, sehingga perselisihan dan pertikaian internal dalam tubuh umat Islam terus terjadi. Tidak menutup kemungkinan kekuasaan dan politik Israel dengan dukungan negara sekutunya akan melumat negara-negara Arab dan berpenduduk Muslim lainnya untuk mereka musnahkan, bahkan sampai baitullah al-Haram (Makkah) yang sering dikunjungi jama’ah haji dari penjuru dunia. Hal ini, dapat terlihat ketika Zionis Yahudi Israel mampu mengantungi triliunan dolar dari ongkos naik haji (ONH) setiap tahunnya melalui saham-saham mereka yang disimpan di perusahaan transfortasi.
Setelah Israel diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai negara tahun 1947, Israel hadir sebagai pelanggar HAM berat terhadap bangsa Palestina. Dengan batuan negara adidaya (Inggris dan Amerika, Israel menguasai sebagian besar aset perekonomian negara-negara berpenduduk muslim di dunia.
Semantara itu, bangsa Palestina ibarat hidup dalam keterasingan. Hal ini, diperparah dengan kondisi negara-negara Arab dan negara muslim lainnya yang tunduk terhadap kekuatan negara sekutu Israel. Irak yang semula menentang setiap kebijakan Israel berhasil dilumat Amerika, sehingga yang terjadi sekarang bukan hanya agresi militer dan kekuatan politik Israel, tetapi pemusnahan suatu bangsa yang mayoritas Islam. Peradaban Islam yang telah dilalui sejak 14 abad yang lalu cepat atau lambat diguncang oleh kekuatan nafsu ketamakan dan materialisme bangsa Israel dan sekutunya semata.
Di sinilah, sebenarnya letak keimanan umat Islam diuji dengan kesadaran terhadap bangsa-bangsa muslim lainnya, terutama tehadap nasib al-Aqsha dan Palestina. Apabila muncul kesadaran untuk bersatu bahu-membahu melepaskan derita nasib Palestina dan menjadikan al-Aqsha kembali ke pangkuan Muslimin, maka derajat dan kehormatan Islam akan terpancar di seantero jagad. Tapi, jika sebaliknya umat Islam sendiri atau negara-negara muslim tidak mempunyai rasa kepedulian, maka bencana dan malapetaka, kemiskinan, korupsi, kemaksiatan, kerusakan lingkungan sampai isu teroris yang difitnahkan terhadap Islam akan terus berlanjut dan tinggal menunggu waktu.
Isra Mi’raj bukanlah program rekreasi atau tour nabi Saw dari Masjid al-Haram ke Masjid al-Aqsha, dilanjutkan ke Sidratul Muntaha. Tapi, Isra Mi’raj merupakan peristiwa suci karena dimulai dengan pembersihan diri Nabi SAW dari sifat-sifat kotor manusia. Bukan pula peristiwa yang berkaitan dengan akal rasio semata. Tapi, Isra Mi’raj merupakan peristiwa yang berkaitan dengan keimanan. Sehingga akan semakin kokoh iman yang mempercayai, menghayati dan mengamalkan perintahnya. Sebaliknya, akan semakin ingkar orang yang meragukan dan mengabaikannya.

Harapan dari Indonesia

Sebagaimana al-Aqsha dan Palestina merupakan cermin umat Islam masa kini, negara-negara Arab walau pun kebanyakan penghasil minyak terbesar dunia dan negara-negara muslim lain yang kekayaan alamnya melimpah terlihat kurang serius mengatasi gejolak di Palestina dan nasib al-Aqsha. Kondisi itu menjadikan rakyat Palestina harus bosan dengan dukungan-dukungan moral dan isu perdamaian yang tak kunjung menyelesaian masalah.
Imam besar Masjid al-Aqsha Syeikh DR Muhammad Shiyam dalam ceramahnya hampir satu jam di Ponpes Al-Fatah Cileungsi Bogor menyatakan, “Tidak ada kendala apapun dalam perjuangan Palestina kecuali perpecahan di dalam dan di antara para pemimpin negara-negara Arab”. Lebih lanjut, Syeikh mengatakan dalam akhir ceramahnya, “Harapan terakhir kami (untuk membebaskan al-Aqsha dari cengkraman Zionis Yahudi Israel) adalah dari muslimin Indonesia.”
Pertanyaannya kini, apakah dengan 85 persen populasi penduduk muslim Indonesia masih akan terus terlena dengan hiruk-pikuk kekuasaan dan politik yang tak kunjung membawa perubahan terhadap kondisi bangsa, sehingga kondisi ekonomi telah membuat kaum muslim khususnya di Indonesia surut menyadari bahwa nasib rakyat Palestina dan Masjid al-Aqsha sedang dijadikan hidangan kaum Zionis Israel? Bukankah itu pertanda derajat dan martabat Islam sedang ternodai?
Dengan memperjuangkan Al-Aqsha dan Palestina semoga Allah SWT tidak mencabut keberkahan dan kemuliaan Umat Islam. Wallahu‘alam

* Penulis Peminat Kajian Masalah Timur Tengah


Aksi

Information

One response

5 07 2008
Zahra

Assalamu’alaikum..,
Bntk usaha real ap yg dpt qt lakukn untk mnyelamtkn al-aqsa slain doa?
Jazakumullah khoir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: