“Suara Belantara”

16 11 2007

Remang-remang

Di tengah malam gelap gulita seseorang tertidur sekejap, dua jam. Dalam tidur yang singkat itu, Ia terbawa mimpi ke kampung halaman. Di depan sebuah warung, Ia bersama temannya memperbincangkan tentang kampung halamannya. Temannya bertanya, bagaimana keadaan kampung kita sekarang? Ia berkata, kampung halaman kita sekarang sudah kurang pesonanya! Wah sekarang gaya bicara kamu sudah seperti pejabat saja!, kata temannya. Ketika terbangun dari tidurnya, Ia sadarkan diri dan termenung, ternyata hanya mimpi malam di tengah cuaca yang sedang remang, gumamnya.

Di tengah kegelapan malam, desis suara angin menyambat pori-pori menusuk kelembutan sukma yang sedang gundah dan gelisah. Ia bergegas pergi ke air sembari menenteng lampu minyak tanah untuk mengambil air wudhu. Berulang-ulang Kitab Suci terdengar dengan nada lembut seakan mengalahkan malam yang kelam.

Malam hampir mendekati Shubuh, hujan baru saja membasuh bumi yang penuh debu kemunafikan dan keangkuhan manusia. Sisa-sisa hujan mulai tampak diiringi kabut dan sayup-sayup cahaya putih dari langit. Pandangan menjadi remang seakan rabun berjalan tanpa tongkat.

Tiba-tiba teringat teman pernah berkata, bahwa seorang pemikir itu harus rajin bangun pagi, banyak berjalan, berolah-raga, mempunyai ide, rencana, strategi yang baik berwawasan luas dan ketajaman pikiran. Mau tak mau pemikir itu jangan hanya mengandalkan membaca, menulis dan menghabiskan waktu di kamar. Sebisa mungkin harus banyak berbaur dengan masyarakat menyelesaikan masalah, katanya. Hanya remang-remang seperti mimpi malam, karena ucapan teman itu sulit diterima dan dilakukan, sementara pendidikan di negeri ini remang-remang saja, gumamnya.

Di tengah kondisi keremangan, manusia penuh ketidakpastian, yang tidak pasti adalah remang-remang. Seakan hidup di dunia maya, panca indra menangkap dunia yang penuh ketidak-pastian, yang nampak hanya remang-remang. Jika manusia tidak terbukti bukan terbuat dari tanah, api, udara air, (bawah dan atas), tak pelak lagi manusia adalah makhluk remang-remang. Ia mengetahui bahwa dirinya adalah manusia dari seseorang -orang lain, bahwa kita semua adalah manusia.

Wanita penjajak cinta atau WTS (wanita tuna susila) sering disebut “wanita harapan”, harapan siapa? Konon, WTS kerjanya di tempat remang-remang, tapi pak Polisi dan petugas Pol PP (Polisi Pamong Praja) bertugas menjaring kupu-kupu malam di tempat remang-remang. Jadi, siapa yang suka kerja di tempat remang-remang?

Pujangga sering mengatakan, dunia penuh keremangan, dalam keremangan malam, remangnya rembulan atau hidup dalam remang-remang.***

Ibarat Gunung dan Kelinci

Dari pandangan kejauhan keremangan gunung perkasa terlihat berwarna biru, namun jika dari jarak dekat banyak pohon hijau menghiasai keindahan gunung. Orang mengira gunung hanya diisi binatang buas atau mengeluarkan letusan lahar, pijaran api panas dan debu. Padahal, bila seisi gunung berbicara mungkin mereka mempunyai cerita pengalaman yang indah.

Gunung telah bersahabat dengan binatang, air, udara sejuk termasuk manusia. Namun, manusia membuat remang-remang terhadap gunung. Apabila gunung memiliki hasrat untuk membuktikan dirinya bahwa ia bisa membuat manusia remang-remang, tentu manusia menghadapi kesulitan. Gunung cukup bersabar, hanya menatap, duduk bersila tanpa berdiri atau melangkah menonton kelakuan manusia yang serba-serbi.

Andaikan gunung nan indah dapat bicara, mungkin terdapat cerita. Di suatu rimba belantara terdapat beberapa hewan berkeliaran. Di antaranya kelinci yang cantik dan mempesona, lincah dan menawan. Setelah sekian lama kelinci itu berlari dengan gontai, tapi sebenarnya kencang, gunung menyambut kelinci dengan tersenyum.

 

Gunung berkata pada kelinci,

“duhai puteri cantik, kuingin memberikan hadiah untukmu, jangan engkau bebani dirimu dengan serentetan pertanyaan, siapa sang pemberi, dari mana dan apa hadiah ini, engkau cukup tersenyum terserah mau di dalam hati atau terbahak-bahak itu adalah hak kebahagiaanmu yang tak bisa dicabut dan diganggu-gugat, sekarang dan mudah-mudahan selamanya”.

Kelinci itu membalas tersenyum sambil memberikan tarian indah mempesona dan memikat perhatian gunung sehingga luluh tak berdaya dengan tarian kelinci.

“Terima kasih kelinci engkau telah membuatku senang dan bahagia”, kata gunung.

Binatang lain bertanya,

“wahai gunung, kenapa tak bertekuk lutut saja di depan kelinci itu”!

Gunung menjawab,

“sebenarnya aku sudah lama sedang asik bermain petak-umpet dengannya. Bukan aku malu bersujud, tapi hujan terus turun hingga aku harus melidunginya dari kedinginan. Kabut tebal turun dari singgasananya menutupi pandangan, aku hampir kehilangannya. Tiba-tiba kilatan cahaya datang, aku sangat khawatir. Untung saja aku sadar, bahwa potretan Sang Khalik lebih tajam mengintip di berbagai sela-sela penjuru, menitipkan serentetan tugas suci”.

Seekor ayam berkata dengan lantang,

“bangun wahai petani!”.

Sesosok tubuh tak dikenal datang mencaci maki gunung, lalu berkata,

“hai gunung kau sangat congkak, biarkan kelinci itu bersamaku untuk menjadi penghibur disaat aku kesepian”. Makhluk tak dikenal itu melanjutkan,
“jika kelinci itu sudah ada dipangkuanku niscaya ia akan mencintaiku”.

Ia berjalan terus ke arah bukit lebih tinggi sambil membawa bunga mawar untuk sang kelinci, tapi hatinya tak tenang karena gunung lawan kuatnya untuk mendapatkan kelinci. Di benak tubuh tak dikenal itu, ia berbisik,

“ah dasar gunung suatu saat engkau akan mengetahui kekuatanku dan mengaku kalah”. Sambil meludah, tubuh tak dikenal itu berkata, “kelinci menarilah untuku”.

Seeokor anjing datang mencium air ludah yang tercecer di atas tanah itu. Anjing bertanya,

“milik siapa air ludah ini”?. Dengan girang anjing menghampiri air ludah itu lebih dekat, lalu menciumnya, anjing berkata, “ah najis”.

Sementara gunung kian malang nasibnya, mukanya bersedih seperti mau menangis.

Harimau bertanya,

“kenapa engkau keluarkan air sungai di mukamu”?

Gunung menjawab,

“ini bukan mauku, tapi aku kasihan petani tak kebagian air untuk bercocok-tanam”.

Air berkata pada gunung,

“aku tak mau keluar lagi karena harus melewati limbah pabrik kimia, mereka banyak membuang kotoran sembarangan”

Lalu, gunung menengadahkan kepalanya ke atas lalu menunduk bersujud.

Allahu Akbar!

saat ini, gemetar dan rendah rasa hatiku

untuk menghilangkan ingatan masa lalu

dari kesan keterpurukan masa mendatang

tanpa disadari semua musti tahu

8,9 itu telah meluluh-lantakan bangunan kokoh

mayat-mayat terlihat tergeletak di beberapa persimpangan dan sudut “Serambi”

masa lalu tak akan terlewati kembali

tapi baru ini yang aku mampu

“entah” sampai kapan aku berhenti?

karena “entah” pertanda ketidak-tahuan

terkadang harus membayar mahal demi sebuah kata “entah”

sampai kapan kata “entah” dapat terjawab?

ini bagian potret kecil di persinggahan

dari hutan belantara di pedalaman

menuju Tanah Suci menyambut panggilan Ilahi

siapa tahu puteri kecil menjadi Ratu Sulthan

yang berwibawa melahirkan “wakil kesempurnaan”

kala layar kapal lalu-lalang dari Timur ke Selatan

dan Tenggara ke arah Timur

sampai Sri Maharaja memberi perintah membawa puteri China

Ratu Agung ke Luragung

merubah menjadi Nyi Mas

belum lama dari Barat

bahkan pelosok buana

berbondong-bondong bertebaran

layang-layang bermesin nyawa manusia

menuju “Tanah Rencong”.

ketika ketimpangan kian menjadi busana

angin tak mengizinkan layar kapal ikut menggelombang

bersama ombak sejarah yang terasa kering

sehingga sulit untuk berenang

hawa udara telah menyesakan nafas

hanya mimpi yang membuat terbangun dalam cerita kelam

lebarnya jalan sudah tak menentukan arah

meski tak sesempit yang terduga

lampu-lampu kota tak seindah rasi bintang

di atas langit yang membuat poros berbentuk layang-layang

atau seperti kalajengking

jalan berlekuk dengan kerikil-kerikil tajam

tanah berlubang di antara semak-semak

jurang dan hawa sejuk yang segar

namun terkadang bisa kehilangan arah jalan

basah tak terasa telah kering

karena secercah jalan keluar di antara samudera ketidak-pastian

ingin rasanya mendobrak

melewati

melawan kerinduan yang menggigil

dalam bara api panas

meleleh dan berbaur dalam air jernih

adat bukan lagi nostalgia

tapi kebiasaan itu sudah luar dari biasa

larut dalam peradaban manusia

darah tak lagi terpisah atau dipisahkan

tapi bersatu melahirkan kejayaan

“trah” bukan suatu kebanggaan

tapi yang musti diluruskan dan memohon “limpahan”

kemarin tak terasa untuk esok yang terasa

berapapun makhluk di dunia

dan malaikat di atas langit ke-tujuh sampai “Arsyi al-Majid”

tak dapat menghitung nikmat Tuhan

beribu kejenuhan hanya terjawab dengan yang tak terpancar oleh mata

perlindungan terbalik arah menjadi yang dilindungi

dari manis menjadi pahit

pahit menjadi manis

tertawa terbahak-bahak

bebas tanpa rasa malu

kemegahan lenyap tanpa bekas

diganti sebuah reruntuhan

Untuk Masa Depan

Masa lalu memang tak akan terulang lagi, kendati sesosok hadir dengan wajah yang berbeda, tapi setidaknya ada sebuah makna yang tersisa. Harus kah teringat sebuah nama, kisah, kelapa di perkebunan, luka, atau sebuah kedamaian yang tak kenal panasnya perut bumi.

Seorang bocah kecil bersandalkan jepit dan kaki seperti ubi bakar orang katakan. Tak tahu debu itu kotor, air bisa juga berbahaya, api lampu akan membakar alisnya, membuat meriam dari minyak tanah dan sepotong bambu, perahu-perahu berlayar di kolam terbuat dari kertas atau dedaunan. Melihat kenakalan sang kakak marah menggosok kulitnya dengan batu hingga kakinya lecet. Lalu, bocah itu mengintip sang ibu sedang apa di rumah. Padahal, sang ibu dan keluarga sedang sibuk sambil tertawa melihat kelakuan bocah itu.

Ahli jiwa mengatakan hilangkanlah masa lalu yang buruk, tapi kenapa yang baik tidak? Bukan sungguhan tapi sebuah mainan di kala bocah itu memegang senjata dari kayu bercat merah putih, tertidur lelap mempermainkan ayahnya, menyetir mobil dari kayu atau sendal jepit. Menggelinding bocah itu terjatuh di lantai karena tembok licin terbasahi air hingga kepalanya benjol.

“Manuk dadali, manuk pang-gagahna” itu bisa menjadi “manuk piit” atau “manuk-manukan” yang bisa di lempar batu dengan ketapel dari jarak dekat tatkala singgah di abad “era-era-an”. Tertawa dan gembira, bersedih dan menangis sambil telanjang tanpa sehelai kain di tengah lapangan terbuka sambil memperebutkan bola dengan temannya. Bocah itu merasakan dinginya air hujan yang membasahi tubuh hingga harus jatuh bangun dari sakit. Tanah merah memenuhi kepalanya sehingga tubuh kotor serta rambut lengket dengan tanah.

Geremas cuaca menghanyutkan tubuh yang gemetar terhampiri sebuah kenangan kelam. Akan kah bisa terhapuskan? Gunung selalu mengajak bercanda bermain petak umpet, di pagi atau sore hari tertutup kabut tebal. Dulu, bukan sekarang orang mengajaknya bercerita dan menjadikan pendengar setia tentang suatu masa. Kini, bukan dulu bocah itu tidak lagi menjadi pendengar atau penonton, tapi layar itu telah roboh tersapu angin zaman yang berlari kian cepat.

Jika Maling Kundang diberikan ramuan ingatan tentang suatu masa, maka Ia tak akan membendung sungai Citarum hingga Priyangan tak lagi berbusana, seperti bocah kecil itu. Tapi, bila tidak ada ayunan tangan dan tiupan melodi angin zaman, bocah itu akan menendang kembali membalikan perahu membuat candi menjadi saksi bisu yang hanya mengangap-angap saja.

Memori itu akan terulang kembali bila tidak dilarutkan ke dalam cairan tinta zaman yang hanya akan menodai kertas putih berayun menyisiri pantai mengikuti ombak dunia yang penuh warna-warni.

Pagi di Perkampungan

Dari penjuru arah, terihat kampung yang amat sejuk dan indah. Sebuah gunung berundak seperti kulit buah yang melapis. Dari kejauhan terlihat warnanya bukan cokelat, tapi hijau. Megah dan perkasa, seakan ingin mengucapkan “selamat”, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat pagi dan selamat berjuang kepada penghuni tempat itu. Air sungai mengalir dengan riak bagai bertepuk tangan dari sumber mata air yang jernih.

Dingin menembus pori-pori menusuk jemari kalbu menantikan sang surya tiba. Gemericik air hujan malam hari membuat udara terasa dingin. Pagi tiba kabut pun menyambut seperti turun dari singgasananya. Suatu hari yang tak kenal pantangan bagi alam telah berlaku di tempat itu. Dengan rasa tertegun kepada Ilahy, layar lebar tertutup hawa dingin berwarna putih, membasahi semua yang tersinggahi. Potretan sinar datang seakan ingin mengabadikan suasana nan indah.

Bangun wahai petani! Ayam sudah berkokok pagi kelam. Sungguh malu mereka sudah bersiap-siap bahkan dari tadi menemani “kongkorongok”-nya sang jago merah jantan.

Padi yang menguning di ladang sawah bagaikan hamparan emas. Petani seakan tak pernah mengenal lelah mengolah tanah. Rasanya tak akan cukup untuk menyebutkan karunia yang telah diberikan-Nya kepada penghuni bumi pertiwi. Benarkah bahwa alam kita termasuk paling kaya di antara negara lain? Jika demikian, kenapa masih banyak terlihat masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan pengangguran merajalela?

Terdengar riuh gemuruh air di sebelah Timur membuat warga menyambut dan menyirami tubuh yang sudah kedinginan. Di sebelah Barat terdengar suara gaung mobil yang mengisyaratkan dan mengatakan, “ayo saya sudah siap!” Bergelinding roda empat membawa warga menuju sejuta harapan.

Anak-anak berseragam sekolah dengan asik berjingklak-jingklak berjalan menyusuri jalanan becek dan licin pinggir sawah mencari bebatuan atau menginjak rerumputan melompat-lompat menghindari air dan kotoran yang dapat menodai baju putih dan celana merah.

Tak ketinggalan anak-anak berseragam rapi mengenakan celana panjang dan pendek berwarna biru tua dan biru kemuda-mudaan bertuliskan OSIS berwarna kuning dan ada juga berwarna cokelat dengan celana panjang abu-abu mengenakan tas berjalan dengan gagah di pinggir sawah yang licin.

Benar, tiba-tiba air hujan menetes dari atas, lalu menderas. Anak-anak itu tak kehabisan cara, mereka berteduh di bawah pohon sambil memegang sehelai daun pisang di tengah pesawahan. Bahkan ada yang tidak menghiraukan hujan, Ia maju jalan terus pantang mundur untuk menyongsong masa depan dengan sehelai daun pisang.

Orang tua tersenyum melihat anaknya kehujanan seperti yang pernah merasakannya. Kalau sakit tentu orang tua yang harus merawatnya. Mungkin pikirnya, dengan dedaunan, sakit akan tersembuhkan. Seperti ayam yang suatu waktu terjangkit penyakit ayan dipercayai bisa sembuh dengan ditutupi daun talas.

Salah seorang anak sakit panas dan tidak bisa pergi sekolah. Sang bapak langsung membawa daun Ki Hujan (daun lebat berukuran kecil) dan membasahi kepala anaknya dengan air hangat yang sudah diramu dengan dedaunan.

Di sekolah, ibu guru menerangkan pelajaran dan berkata,

“anak-anak sekarang kata pemerintah bahwa Indonesia sudah masuk musim hujan, jadi kita harus siap, siap apa anak-anak”?

Salah satu murid menjawab,

“siap-siap ibu guru”!

Di sebelah belakang seorang murid menjawab,

“siap payung sebelum hujan”!, kata anak-anak.

“Betul sekali anak-anak”, kata ibu guru.

Ibu guru menambahkan,

“kita juga harus siap-siap menjaga kesehatan agar tidak terkena, tidak terkena apa anak-anak”?, tanya ibu guru.

Anak-anak menjawab,

“agar tidak terkena diare dan demam berdarah”, jawab anak-anak.

“Betul kamu”, kata ibu guru cantik kepada anak-anak agar kelihatan anak-anak tetap ceria.

Di pinggir sebelah kanan bangku ke-dua dari depan seorang anak bercerita,

“ibu guru, ibu guru, kemarin ada orang di kampung saya yang sedang di sawah meninggal tersengat petir, matanya melotot tubuhnya hitam hangus terbakar, tubuhnya terbalik ke tanah ketika di angkat tetangga yang melihat Ia terasa keras seperti patung, kenapa ya ibu”?

Ibu guru tersentak kaget dan merinding mendengar anak yang bercerita dengan polos tanpa mengenal rasa ngeri itu. Ibu guru pun langsung duduk yang semula berdiri dengan ceria menuju kursi dengan tubuh lemas terkepar di depan kelas.***

Bandung, Rabu, 06:30 Pagi 23-02-2005


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: