Menuju Masyarkat Sadar Lingkungan

16 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Pembangunan yang sedang terjadi bisa dikatakan pesat diberbagai bidang di Indonesia. Dalam rangka mewujudkan negara yang adil dan makmur, “keadilan sosial” harus serta merta dilandaskan sebagai perwujudan sikap pengamalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui pensejahteraan lingkungan alam dan atau makhluk secara utuh. Selanjutnya, bila kita bersikap jujur apakah perhitungan terhadap dampak lingkungan alam yang tidak sedikit mengancam setiap nyawa manusia khususnya dan makhluk-makhluk lain telah dilaksanakan? Tidaklah sedikit akibat ulah manusia yang tidak memandang setiap tempat; tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan makhluk-makhluk lain yang merupakan bagian dari kehidupan diri(nya) dan senantiasa menuntut keputusan manusia untuk berbuat adil dan bijaksana terhadap lingkungan alam ini.
Berapapun besar biaya yang dikeluarkan untuk “membujuk” alam ini agar bersikap sopan dan baik terhadap kita tidaklah mungkin terbayar, bila tidak dilakukan pencegahan dari sekarang, karena “penolakan kerusakan lebih utama didahulukan dari pada membuat kebajikan”. Alam lebih mengerti terhadap manusia untuk melakukan segala keinginannya. Ia bukan saja tempat manusia untuk berpijak dalam menentukan kehidupan, tapi lebih dari itu merupakan titipan dari Tuhan untuk diolah dan dilestarikan sejak diturunkannya nabi Adam ke muka bumi ini.
Konon watak pribadi, tingkah laku dan kecakapan seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang dianutnya. Lingkungan memang sangat luas pengertiannya baik dari segi demografis ataupun ruang-lingkup kehidupan sehari-harinya (baca: aktivitas kehidupan). Manusia tidak lepas dari lingkungan alam sekitar yang telah memberikan arti penting untuk memahami dan menyadari betapa lingkungan alam saling mempengaruhi kehidupannya. Demikian itu, perlu penyeimbangan dalam membina dan mengolah diri dengan lingkungan alam terutama yang kita tempati.
Pentingnya kesadaran kembali untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan alam merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Semesta Alam yang telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung agar kehidupan ini lebih romantis untuk bernostalgia.

Lingkungan Alam di Desa

Cibitung Tengah adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Ciampea kabupaten Bogor dengan berjumlahkan dua rukun kampung dan 22 rukun tetangga. Adapun perbatasan desa Cibitung di apit oleh beberapa daerah dan arus sungai, di sebelah Barat dibatasi oleh desa Ciampea Udik dan sungai Ciampea, di sebelah Timur dibatasi oleh desa Situdaun, dan sungai Cinangneng, di sebelah Selatan dibatasi oleh desa Tapos, dan disebelah utara dibatasi oleh desa Cinangneng.
Desa Cibitung dapat dikatakan daerah yang sangat sejuk. Bila melihat ke arah selatan maka terlihat Gunung Salak dengan indah, hijau kebiru-biru-an, megah dan perkasa. Seakan mengucapkan “selamat” kepada penghuni wilayah ini. Di sana-sini terdapat air mengalir dengan riak dari sumber mata air yang jernih bagaikan “bertepuk tangan”. Apalagi ketika musim hujan burung pun seakan ikut bermandi sambil menari di atas bumi ini menikamati air itu, pantas orang menyebutnya dengan “Kota Hujan”.
Sawah yang hijau saat padi masih muda seperti pohon berlian, dan ketika menguning bagaikan hamparan emas permadani, petani seakan tak pernah mengenal lelah mengolah tanah baik untuk perikanan, pertanian ataupun kebun dan sebagainya. Rasanya tidak akan cukup untuk menyebutkan karunia Ilahi yang telah terhampar diberikan-Nya kepada penghuni kota, perkampungan dan pegunungan di kawasan itu. Bila tidak lupa aku masih ingat “mars” kota Bogor.

Bogor kota indah sejuk nyaman
bagai bunga di dalam taman
di sana aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota indah sejuk nyaman 2x

Benarkah demikian? Benarkah kabupaten Bogor termasuk kabupaten paling kaya di antara yang lain. Jika demikian adanya, kenapa aku harus melihat pemandangan masyarakatnya yang miskin (the have not) dan pengangguran merajalela? Apakah pantas bila mereka harus melakukan pembongkaran, pengrusakan, penggalian pencemaran, dan peyebaran asap hitam yang lebih bau dan busuk untuk menutupi keindahan alam nan amat megah terhadap alam yang tidak berdosa.

Sungaiku Sayang Sungaiku Malang

Di sebuah sungai Cinangneng yang airnya bersih dan jernih, sebelum hendak menceburkan diri ke sungai, ketika kecil aku terlebih dahulu dapat memilih kali (Sunda: leuwi) yang hendak aku pilih agar bisa bebas berenang dengan teman-teman.
Sehabis sekolah aku sempat pergi bermain untuk memancing ke sungai itu yang banyak sekali ikan-ikan seperti senggal (semacam lele), bahkan tidak jarang ikan seperti emas berukuran besar dan ikan-ikan lainnya pun ada di sungai itu. Kegembiraan yang aku raih pada saat alam yang sangat indah telah membuat diriku terkesan di kala kuhampiri sungai itu yang sekarang seperti tumpukan batu berserakan dan bentengan-bentengan yang tak beraturan.
Keromantisan antara aku dan alamku sangat terjalin dengan harmonis. Mungkin nasibku waktu kecil sangat mujur dibanding anak-anak kecil di desaku sekarang. Aku sangat sedih ketika melihat anak-anak kecil sekarang yang hendak bermain ke sungai, suasananya sangat jauh berbeda dari yang aku alami ketika kecil. Mereka tidak punya pilihan lain untuk bermain mandi di alam bebas kecuali dengan memilih sungai sebagai tempat bermainnya, sedang untuk bermandi di kolam renang harus menambah ongkos biaya lagi bagi ukuran anak-anak di kampung.
Sayang, sungai itu sekarang sudah tidak lagi kelihatan dalam dan jernih. Bila saja waktu menunjukakn jam delapan-an pagi, kelihatan sekali sungai itu seperti kotor dan sangat dangkal, hanya tumpukan batu yang kelihatan berserakan. Sering terjadi sungai menjadi objek manusia yang tidak bertanggung jawab karena pengangkutan barang-barang di sungai hingga terjadi kelongsoran. Pinggir-pinggir kali yang dahulu kala dihiasi dengan pohon-pohon hijau yang indah nan gagah, kini terkikis habis karena penggali-penggali liar dan pemborong batu yang tidak memikirkan dampaknya. Belum lagi dengan “penabur racun” untuk ikan hingga aneka macam ikan yang tadinya begitu banyak tidak sedikitpun tampak kelihatan. Irigasi hanya sebatas bangunan yang tak mungkin dapat digunakan untuk pembagian air bagi petani-petani dalam bercocok tanam. Mereka hanya numpang membangun saja tanpa menjaga dan merawatnya, sedangkan petani hanya pasrah tak berdaya karena ladang, kebun dan ikan-ikan mereka tak bisa terguyuri air, walaupun ada sedikit air yang singgah ke tanah garapan mereka, tentu sudah tercampur dengan racun dan kotor seperti oil pelumas, atau air acu (dibaca dialek daerah: air aki) yang layak untuk mesin-mesin kendaraan. Aku rindu sungaiku yang dulu, walau bagaimanpun pembangunan memang perlu, tapi jangan korbankan alamku untuk kepentingan sesaat.

Tak Biasa Hidup Tanpa Air Jerih?

Ketika aku kecil ibuku pernah bercerita tentang ayahku yang kala itu tahun 1987-an sedang sakit berat. Ia dibawa ke Rumah Sakit di pusat kota Bogor (RS. Karya Bakti). Sakit yang dideritanya adalah penyakit leaver (penyakit jantung), konon ketika ia melakukan buang air besar yang keluar dari(nya) sebuah benda seukuran baso namun berwarna cokelat kemerah-merahan. Setelah diperhatikan ternyata benda itu adalah bagian-bagian kecil hati yang keluar memisahkan diri di dalam tubuhnya.
Suatu peristiwa unik terjadi menimpa ayahku yang terbaring di rumah sakit. Minggu-minggu pertama di rumah sakit ia tidak bisa buang air besar. Setiap perut merasa mual dan hendak buang air besar ia tidak sempat melakukannya dan terus menahannya. Alasannya sederhana, keengganan untuk buang air besar di closet itu ternyata bukan karena sakit yang ia derita. Tapi, tidak betah melakukan hajat buang air besar di closet dan sudah terbiasa melakukannya di Cinangneng, sungai bersih yang berukuran besar. Seketika di bawa pulang ke desa oleh ibuku, sponta saja ketika setibanya di rumah ia langsung menuju sungai itu dan melakukan hajatnya dengan lancar.
Pada tahun 2000-an, aku sendiri yang sudah berusia 20 tahun terbiasa melakukan “hajat” itu di closet ataupun tempat lain selain di sungai. Ketika hendak masuk perguruan tinggi di Bandung mula-mula mencari air minimal berukuran kecil dan bersih. Hal itu dilakukan dengan berjalan-jalan kaki atau naik sepeda sekitar 2 kilo dari kediaman kakak di Tanjung Sari, Sumedang.
Entah mungkin ini karena ayahku (baca: turunan) yang tidak terbiasa hidup dengan lingkungan tak berair jernih atau benarkah orang bogor memang begitu sebagaimana yang sering dikatakan orang?

Mitos, Keangkuhan Penguasa dan Premanisme Intelektual

Aku dilahirkan hari Kamis, kawanku bilang Kamis dalam hitungan falak (ilmu hitung, bisa digunakan terhadap lingkungan alam) yang berarti angin yang tidak menentu -tidak suka diam. Dalam astrologi aku masuk hitungan Aries yang digambarkan dengan domba yang bertanduk artinya berwatak keras keinginannya selalu menjunjung tinggi (baca: cita-cita), terkadang gagal dengan apa yang diharafkan karena tidak mengukur kemampuannya. Benarkah?, haruskah kubenarkan astrologi itu dan mungkin menyalahkannya dengan mengkalaimnya haram?
Sering aku mandi pada saat sungai sedang guntur (daerah: caah) dengan teman-teman di kali Cinangneng, mondar-mandir ketengah bahkan tidak jarang terbawa arus air deras, aku harus dapat mengendalikan diri dalam suasana seperti itu, tepi demi tepi aku lalui. Tapi sebelumnya aku terlebih dahulu melihat ukuran air yang dapat dilalui, bila terlalu deras maka kuputuskan untuk membatalkan dan memilih sungai berukuran kecil yang terletak di samping sungai besar itu. Setelah itu, aku dimarahi ibu karena air pada saat itu sangat keruh berwarna kecokelat-cokelatan seperti adonan kue dodol. Sekeras apapun manusia tidak bisa memaksakan kehedaknya untuk menantang alam ini, karena yang lebih kuasa adalah Tuhan Sang Maha Pencipta.
Di sungai itu banyak kali yang airnya sangat dalam. Ada suatu kepercayaan bahwa di antara kali-kali itu ada yang dinamakan kali lempar (bhs sunda: leuwi timpuk) Karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun tiap generasi, bila seorang hendak mandi di situ harus terlebih dahulu melempar batu sebanyak tiga kali sambil membaca Bismillah tujuh kali dan surat al-Ikhlas tiga kali, bila tidak melakukaknya, maka orang itu akan sakit (Sunda daerah: kasibat) Mungkinkah kejadian di atas, yang dimaksud orang dengan suatu bid’ah, takahayyul atau sebangsanya? Jelasnya, kali itu tadinya sangat ramai dengan orang-orang yang berbondong mandi dan dalam, sekarang menjadi suatu kali yang sepi dan tidak layak untuk dipakai mandi dan hanya kerbau saja yang bisa mandi di kali itu, karena sudah dangkal oleh tumpukan batu-batu kecil.
Hal yang serupa juga terjadi ketika masyarakat yang sudah terun temurun meyakini bahwa di sekitar istana Bogor ada semacam pendaman harta karun bekas peninggalan kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Bogor. Konon bila harta itu dipakai untuk melunasi hutang negara maka akan terpenuhi. Mungkin untuk sekedar kepercayaan masyarakat sekitar yang kurang mengerti akan dunia ilmu pengetahuan secara akademis wajar-wajar saja, toh mereka tidak mempunyai maksud untuk membongkar alam demi kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka hanya tahu bahwa bekerja adalah suatu yang mutlak adanya demi mencapai kebutuhannya sehari-hari secara halal. Bagi masyarakat, kepercayaan itu akan menjadi kebanggaan dari cerita kuno yang terus terpelihara secara utuh dan tidak usah “diganggu” melainkan dilestarikan sebagai tradisi budaya yang patut ditinjau ulang secara akal sehat “rasio”. Secara implisit kita memperoleh keterangan, dalam agama ataupun ilmu pengetahuan bahwa bekerja itu merupakan pondasi bagi seseorang untuk mendapatkan hasil dari “nilai lebih” (surplus value) untuk mendapatkan keuntungan secara halal, bukan dengan cara memburu harta karun yang tidak wajar dan tidak jelas kebenarannya.
Bila saja Max Weber masih hidup dan menyaksikan kejadian atas pembongkaran situs batu tulis di Bogor mungkin tokoh sosial itu akan merekonstruksi teorinya dengan meninjau dampak terhadap lingkungan alam dari teori yang menjelaskan tingkat kesempurnaan berpikir seseorang akan membalik terhadap kepercayaan hal-hal mistik.
Coba saja perhitungkan berapa kerugian yang disebabkan oleh pengrusakan lingkungan alam. Bila pengrusakan yang dimaksudkan berasal dari kepercayaan itu, maka seorang ahli agama atau cendikiawan mana pun akan sadar bahwa itu merupakan pembodohan bagi masyarakat.
Ironisnya ketika masyarakat membutuhkan pekerjaan dan pengangguran yang besar terjadi di mana-mana, kepercayaan terhadap adanya harta karun itu lantas memperkuat dengan adanya pembongkaran situs batu tulis di Bogor yang berdampak pada pengrusakan lingkungan. Bila saja kejadian itu membuat masyarakat tergiur dengan buayan-buayan harta yang tidak boleh masuk di akal, maka dengan sendirinya masyarakat telah dididik menjadi pengkhayal. Di sini masyarakat seharusnya diberikan pendidikan secara wajar dan rasional, bukan dijadikan penghayal yang berdampak terhadap lingkungan sebagai objek pengrusakan. Lingkungan seharusnya ditata dan dirawat melalui kesadaran dan pemberian pendidikan yang wajar dan layak terhadap masyarakat.
Alam merupakan bagian dari kehidupan manusia secara utuh, maka dalam konteks ini hubungan manusia dengan lingkungan hidup (alam) adalah merupakan bagian dari pergeseran paradigma yang terlupakan, sehingga keberlangsungan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan lingkungan hidup (ekologi) tidak terefleksikan secara utuh.
Sesungguhnya tabir itu akan terbuka apabila kita sadar bahwa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dalam akal pikiran apabila mau berpikir dengan menjadikan alam sebagai sahabat sehari-hari untuk dijaga dan dilestarikan.

Paku Alam nan Lentur Ditelan Masa

Jika saja sebuah gunung dapat bicara mugkin akan bercerita kesaksiannya terhadap manusia bahwa “ia” telah memuntahkan abu dari Selat Sunda sampai benua Amerika. Berapa ratusan jiwa melayang jauh terusir dari bumi, tanam-tanaman yannn subur menjadi gersang, binatang ternak tidak berdosa jadi korban akibat kemarahannya. Lagi-lagi pasak bumi itu sengaja dicabut dengan berbagai cara manusia yang tidak mau tahu akibatnya.
Kita ambil satu contoh Gunung Kuda di desa Bobos, Dukupuntang, Cirebon yang di ambil batunya, bila saja tidak ada penyeimbangan dari manusia mungkin kejadian di atas akan terulang kembali. Ladang akan tak berpungsi karena suhu panas yang tinggi, atau gunung Guntur di Garut yang diambil pasirnya tidak akan segan-segan memboyong manusia untuk berpindah ke tempat lain karena semburan lahar.
Sebut saja Gunung Pongkor, kini demi kenikmatan sesaat gunung itu tidak segan-segan di jarah emasnya hingga ia marah menelan orang yang hinggap di situ. Orang yang singgah di gunung itu, harus pasrah melepaskan nyawanya karena tidak menyeimbangkan alam lingkungan. Untuk siapa mereka lakukan semua itu, bagaimana generasi selanjutnya yang enggan mengenyam kehidupan di alam bebas bila saat ini isi gunung itu diangkut ke tempat yang amat jauh, Apakah ini yang dinamakan pembangunan berkelanjutan?

Membangun Kemandirian Masyarakat, Upaya Melestarikan Lingkungan

Listrik masuk desa sebagai penerang desa di kala gelap gulita, ketika aku usia lima tahun, saat itu aku belum sekolah, itu pun hanya sampai perbatasan rukun kampung yang aku huni (Rt. 11/03) dengan rukun kampung Rt. 12, jadi belum sampai pada rumahku. Kegembiraan menyambut kehadiran listrik itu membuat setiap hari sering kuperhatikan petugas listrik dan warga yang memasang tiang-tiang dan kabel-kabel ke rumah warga. Sebelumnya hanya ada penerangan dari lampu-lampu minyak tanah seperti petromak dan lampu-lampu kecil.
Sebenarnya ada listrik yang di kelola oleh swasta yaitu di Rt. 08 milik anak kepala sekolah (Yadi dan Yana). Namun, karena listrik itu bertenaga kincir maka hanya menampung kira-kira 50 kepala keluarga.
Di masa itu, sangat sulit orang mendapatkan penerangan terutama dari manfaat listrik, dengan menggunakan tenaga kincir sudah otomatis alam dijadikan sumber pembangunannya. Namun, tidak lama kemudian pihak pemerintah mengadakan program Listrik Masuk Desa (LMD), maka pembangunan itu tersendat dengan digantikannya oleh listrik milik pemerintah yang sudah menjalar ke desa.
Padahal dibandingkan sekarang, listrik yang konon sering terdengar banyak terjadi hambatan dalam penanganan perhitungan angka selalu membengkak, tidak saja mengakibatkan pengrusakan secara teknis terhadap lingkungan dan masyarakat, tidak akan terkendali dalam meluapkan amarahnya kepada petugas PT. PLN Persero. Kalau saja listrik itu dikelola oleh swasta, mungkin akan lebih bermanfaat demi kemandirian pembangunan desa dan terhadap kesadaran lingkungan alam karena mengunakan pengolahan alam sekitar yang ramah terhadap lingkungannya serta mengurangi biaya pemerintah dengan sedikit pajak negara. Lebih-lebih dalam rangka mengembangkan lingkungan alam di era otonomi daerah, swasta harus diberi kesempatan secara penuh terhadap pengembangan daerahnya sendiri.
Selain itu, alam sekitar yang dirasakan sebagai hubungan emosional terhadap warganya akan terasa sangat penting untuk dikembangkan lebih lanjut dengan kebutuhan-kebutuhan seperti pembangunan jalan, pembangunan irigasi air secara gotong-royong yang dirasakan sangat bermanfaat bagi manusia dan sekitarnya.
Dengan begitu, pembangunan desa juga harus dapat diartikan pula dengan pembangunan kelestarian lingkungan alam. Karena keserasian pembangunan dengan kelestarian alam akan menambah suasana wilayah pedesaan dalam menjalankan fungsinya dapat ditentukan oleh faktor alam yang ditata dengan rapi dan teratur.
Di sini perlu ditegaskan bahwa pembangunan di tingkat desa perlu ditegakan bagi kelestarian alam, bukan rencana pengrusakan alamnya itu sendiri. Karena upaya peningkaatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan alam sekitar dapat ditentukan pula oleh faktor kebutuhan dalam kesehariannya (primer).
Simbiosis Mutualisme antara makhluk hidup ditentukan pula oleh iklim alam yang kondusif, seorang petani atau pengusaha manapun akan mengakui kesalahannya apabila tidak memperhitungkan perencanaannya terhadap pengunaan iklim dan mempergunakan alam dengan baik.
Arah pembangunan lingkungan di tingkat desa lebih bercorak pada tingkat kebersamaan yang tinggi dari warganya dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, rapi dan indah. Oleh karena itu perlu disesuaikan dengan corak masyarakat desa, Ferdinand Tonis mengistilahkannya masyarakat “tatap muka”, dengan hubungan-hubungan emosional yang kental sebagai dasar perilaku. Nilai-nilai yang berlaku adalah kasih (affectivity), kebersamaan (mutuality) dan alamiyah (naturalness).
Hal ini berbeda dengan corak pembangunan masyarkat yang diikat oleh kepentingan atas dasar yang lebih rasional. Nilai yang berlaku adalah individualitas, persaingan dan pembagian kerja. Lingkungan alam kota yang sangat rumit dengan berbagai varian sistem yang dipakai, peranan pemerintah harus lebih dominan dalam menjaga lingkungan alam bersama warga, dan LSM atau organisasi-organisasi lain yang mendukung akan terciptanya kota yang bersih dan rapi serta jauh dari kotoran polusi yang sering menyelimuti kota.
Namun, perlu disadari bahwa dengan adanya pembangunan kelestarian alam harus pula memberikan warganya untuk hidup rukun dan damai sebagai masyarkat plural sekaligus membentuk ruralisme bukan primordialisme itu sendiri.

Lestarikan “Hutan Kota”

Bila anda mendengar sebuah kota yang mendapatkan julukan “kota hujan” maka ingatan anda akan terbawa ke kota Bogor (Belanda dulu menyebutnya “Buitenzorg”), sebuah kota yang mempunyai curah hujan sangat tinggi. Di kota itu ada sebuah kebun yang sangat luas dan megah yang konon bekas peniggalan kerajaan pajajaran bernama “Kebun Raya” (botanical garden). Maka pantas di dalam kebun itu terdapat sebuah istana yang berdiri megah dengan sebutan “Istana Bogor”. Istana itu dikelilingi dengan pohon-pohon yang berusia muda sampai dengan pohon-pohon yang berusiakan ratusan tahun. Ia merupakan penginggalan alam masa lalu yang senantiasa harus di jaga dan dirawat dengan rapih. Selain pohon-pohon itu, ratusan bahkan mungkin ribuan tumbuhan lain pun banyak berkembang di kebun itu, tak ketinggalan sekawanan hewan kijang (sunda: uncal) begitu banyak berkeliaran di sekitar Istana Bogor, sehingga lengkaplah sudah kebun itu ibarat sebuah hutan di tengah keramaian kota yang mendambakan sebuah sistem masyarakat yang bercorakan kota atau yang sering dikenal dengan sebutan “masyarakat madani” istilah lain (civil society).
Sungguh Tuhan Maha Adil telah memberikan keseimbangan lingkungan pada alam ini untuk kehidupan makhluk-Nya. Coba saja bayangkan hujan yang sangat intens mengguyuri kota ini dapat tercegah dari banjir karena pohon-pohon yang melindungi kawasan rawan hujan, sungai-sungai sebagai pembawa arus air ke laut serta keseimbangan tempat. Di kota itu, pada siang bolongpun tidak tanggung-tangung hujan itu sempat mampir mengguyuri di kala tempat-tempat lain dalam keadaan kekurangan air. Petir yang seakan menyambar dengan galak tidak membuat penghuni kota itu enggan melakukan keluar rumah, malahan anak kecilpun dengan senangnya bermain bola pada saat hujan sangat lebat, sopir-sopir dengan santai melakukan aktivitasnya. Masyarakt seperti sudah terbiasa menyaksikan kejadian itu.
Biasanya petir lebih mencari benda-benda yang berukuran lebih tinggi. Mungkin masih ingat di benak masyarakat Bogor dengan kasus-kasus orang meninggal karena tertimpa sengatan petir seperti yang terjadi di kampung Cinangka desa Cibitung pada tempo lalu. Waktu itu, sebanyak enam orang yang mencangkul di sawah tersengat serangan petir dan cuma satu orang yang selamat dari bahaya itu sebagai saksi dari kerawanan curah hujan yang mengandung petir-petir yang besar. Hal serupa juga terjadi dalam tempo yang belum lama ini seperti di desa Cimangis Bogor, pantas di kota Kabupaten Bogor ada sebuah desa yang diberi nama dengan Desa Petir. Manfaat dari keseimbangan alam merupakan penyumbang besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Ia secara mutlak tidak boleh dipisahkan atau dihindari dari manusia, bila saja lingkungan tidak dapat dilestarikan dan dijaga dengan keseimbangan itu, maka ia akan memberikan ancaman yang besar bagi manusia.
Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang berpenghuni cukup padat dan untuk menghindari dari rawan bencana alam keseimbangan antara alam dan kehidupan manusia perlu dilaksanakan dengan seksama oleh pemerintah, dan segala lapisan masyarakat.
Kota akan terlihat seperti “hutan belantara” bila saja lingkungan alam tidak terawat dengan rapi, perusahaan yang kurang ramah dengan lingkungan akan mendapat ancaman baik dari masyarakat dan lingkungan alam itu sendiri, alih-alih teknologi akan menjadi sia-sia belaka bila tidak dipergunakan untuk kelestarian alam, manusia dengan sendirinya akan terperosok ke dalam bencana besar bila tidak memperhitungkan dampak lingkungan alam yang setiap saat mengintai kita. Dengan demikian perlu kesaadaran yang tinggi dari berbagai pihak termasuk elemen masyarakat terhadap lingkungan alam ini agar dengan kesadaran dan cinta terhadap alam pembangunan yang sedang kita lakukan dapat berjalan dengan mestinya. Mari kita wujudkan bersama, masyarakat yang sadar akan lingkungan alam yang bersih, jauh dari kotoran dan tertata rapih. Wallahu A’lam Bissawwab


Aksi

Information

2 responses

12 06 2008
fauzi A. lamboka

mantaffff atz tulisannya,,, semoga bisa jadi tempat pembelajaran yang baik,,,,,
nnn mohon maaf saya numpang copy paste donggg untuk tugas KLH

15 08 2008
embun santana

haloo acon kumaha damang bagus acon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: