Refleksi, (Ketika Mahasiswa) Bergulat Dengan (Mencari Agama) Islam (?)

16 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Sebelum tuisan ini mengayun diharapkan tidak akan pernah membuat goresan yang dapat melukai apapun atau siapapun. Karena itu, tulisan ini berusaha mencurahkan pikiran dan berbuat seadanya tentang pengalaman yang terlintas tentang realitas dari khidupan di masa-masa yang penuh dilematika ini. Mudah-mudahan tulisan ini juga tidak memandang sepihak demi sebuah pelajaran yang amat berharga.

Inovasi atau Ijtihad Mahasiswa?

Semacam sebuah masalah antara keraguan dan keyakinan dengan beragam argumentasi yang dikemukakan tentang keberadaan ijtihad yang masih menjadi polemik di berbagai kalangan di zaman modern. Karena adanya ijtihad sempat menjadikan orang konflik, bercerai bahkan sampai pertikaian yang semestinya tidak terjadi. Dengan masalah itu pihak akademisi, agamawan bahkan politisi pun sempat terciutkan ketika dihadapkan pada persoalan masalah ini.
Dengan ijtihad pula yang pernah dianggap orang dapat membuat manusia (terutama umat Islam) stagnan bahkan mundur beberapa langkah dan dianggap maju oleh sebagiannya.
Sungguh mereka telah terbingungkan dengan sendirinya ketika menjawab beberapa rentetan pertanyaan dengan berbagai dalih dan bertanya bertubi-tubi. Terserah orang akan membulatkan masalah itu menjadi kerucut atau persegi tiga. Jelasnya, permasalahan itu akan terlihat tanpa mengandalkan orang lain dan diri sendirilah yang akan menjawabnya.
Namun, masalah itu dapat diketahui dan dicarikan solusinya apabila setiap orang mau meneropong dan membermaknai suatu pertanyaan yang kiranya tepat hendak diajukan minimal untuk diri sendiri guna tercapainya suatu kesepakatan.
Dari siapa kita dapat membaca dan menulis selain oleh dan atau dari orang tua? Dari mana asal-usulnya kita tahu tentang “i-en-i-ni -ini”, “i-en-u-tu -itu”menjadi ini dan itu, menjadi sastrawan atau seorang cendikiawan, ejaan Arab “aba ta tsa”, atau “alif fathah taen an, alif kasrah tain in, alif dhamah taen un” -“an-in-un” menjadi ahli kritik agama atau bergelar ulama. Pertanyaan itu sebenarnya memang diakui gampang dijawab. Tapi, entah kenapa memang susah untuk menghayatinya apalagi sampai mengamalkannya atau hanya berpura-pura saja? Apakah tidak yakin dengan yang didapatkan atau setelah tahu ini dan itu kemudian ragu? Kenapa tidak ragu saja dari awal kemudian mengerti?
Terkadang kita mendadak menjadi lugu seperti kucing yang kedinginan tersiram air hujan. Bahkan tidak jarang kucing itu lari terbirit-birit dan kocar-kacir menghindar seperti melihat sapu lidi tatkala seseorang mendapatkan pertanyaan seperti itu.
Memang Islam bisa ditampilkan dengan sosok wajah yang tidak bisa diduga-duga sebagaimana kedatangaannya yang asing, Islam bisa dikritik sebagai hal yang sakral (the sacred) dan bisa sebagai pengkritik sebagai hal yang profan, Islam bisa sebagai ilmu dan ilmu bisa sebagai Islam. Islam bisa saja bergandengan, berbaur, bersenyawa bahkan merangkul dengan yang lain (seperti ajaran-ajaran agama atau kepercayaan-kepercayaan lain). Sebenarnya itu bukan suatu permasalahan yang krusial, tapi yang menjadi permasalahan di sini adalah seringkali Islam “diselingkuhkan” dengan Islam.
Kalaulah pengaruh ortodok dalam Islam dengan Islam pembaharuan saling mengadakan benturan argumen mungkin itu hanya mencari titik temu kemajuan dalam lingkaran rahmatan lil-alamin, tapi kalau Islam sudah dikemas menjadi adonan yang bahan-bahannya dari luar Islam yang bukan untuk dikembangkan menjadi “Islam yang luas” (seperti istilah Hasjim Wahid), namun untuk dijadikan “kue lapis Islam” agar ketahuan yang mana Islam cokelat, kuning hitam dan biru kemudian dimakan dengan renyah, sehingga keutuhan Islam yang luas porak poranda. Dengan begitu, apakah mungkin itu yang dinamakan kehancuran Islam?
Islam bukan pula ibarat binatang kutu di atas kepala yang dicari kera dalam rambut manusia kemudian dengan girangnya langsung ditelan bulat-bulat. Namun, Islam musti dicari dengan hati-hati, apabila diibaratkan dengan mengupas buah kelapa maka akan terlihat pada permulaannya serabut yang empuk, lalu batok yang keras kemudian buahnya. Setelah itu, airnya manis dan buahnya dapat dijadikan lagi minyak sebagai intisari dari buah kelapa. Tergantung bagaimana kita memanfaatkan dari buah kelapa itu apakah akan dimakan secara mentah-mentah ataupun dengan susah payah dapat dijadikan minyak dan bagian-bagiannya lagi dapat dimanfaaatkan sebagaimana mestinya. Mungkin itu gambaran kecil tentang ibarat pencarian Islam.
Islam penuh dengan persyaratan sebagaimana dalam ijtihad yang mempunyai beberapa hal yang harus dipenuhi oleh seorang yang melakukan ijtihad. Seiring dengan permasalahan sosial dan agama yang semakin rumit, maka cara atau metodologinya pun banyak dikembangkan untuk mencari pemecahan solusinya.
Dalam dunia pendidikan Islam dikenal pesantren dan perguruan tinggi, keduanya seringkali berinteraksi satu sama lain tentang pergumulan agama, sosial, politik bahkan teknologi baik dalam wacana maupun penelitian. Bahkan sekarang sudah ada pesantren yang bergandengan dengan perguruan tinggi ataupun pesantren yang menyelenggarakan perguruan tinggi. Itu pertanda perkembangan “perkawinan” perguruan tinggi dan pesantren di Indonesia sudah berjalan. Sehingga tidak menutup kemungkinan mahasiswa yang mempunyai kemampuan ganda antara agama “plus” pengetahuan umum bisa berkembang biak dengan baik. Selama ini, bila dilihat ke belakang, banyak ulama-ulama yang hanya lahir dari pendidikan pondok pesantren. Namun, tidak menutup kemungkinan ulama-ulama zaman sekarang banyak yang keluar dari “rahim” perguruan tinggi. Dengan demikian bila ijtihad masih dapat dilakukan, maka apakah mahasiswa yang sudah mempunyai pengetahuan agama “plus” pengetahuan umum akan mengimbangi untuk dimungkinkan mengeluarkan fatwa sebagaimana ulama-ulama terdahulu atau bahkan ijtihad, bahkan mungkin wajib hukumnya? Atau malah sebaliknya bila tidak, sesuai dengan salah satu tugas tri darma perguruan tinggi mahasiswa dapat mengembangkan melalui penelitian-penelitiannya hanya terbatas pada inovasi tanpa menghasilkan ijtihad yang baik dan hanya melakukan budaya ikut-ikutan terhadap pendahulunya.

Berkenalan Dengan “Islam” Awal Masuk Kuliah

Pada paruh awal tahun 2000 terlihat semangat yang tinggi untuk masuk suasana baru yang sebelumnya tidak pernah terduga dialami oleh para mahasiswa, termasuk mahasiswa STAIN, IAIN, UIN dan perguruan tinggi lainnya. Hal ini, terbukti betapa luasnya antusiasme kaum pelajar yang masuk perguruan tinggi dengan jumlah yang banyak dibandingkan dengan angkatan sebelum dan sesudahnya.
Di sisi lain, angkatan wisuda kelulusan perguruan tinggi tidak lebih banyak dibanding ketika masa pendaftarannya. Bisa jadi sisa terbanyak yang belum lulus angkatan 2000 itu karena kekurangan biaya sehingga harus bekerja banting tulang untung membayar administrasi kuliah, perkawinan, perpindahan, sakit bahkan meninggal dunia. Oleh karena itu, mahasiswa yang lulus seyogyanya harus benar-benar bersyukur dan memanfaatkan penghargaan itu, karena selain memasuki tugas baru untuk mengabdi pada agama nusa dan bangsa ia dapat mengurangi beban yang diemban selama kuliah dan menerima tugas barunya setelah kuliah.
Dari mulai pendaftaran sampai registrasi dijalani dengan sendiri tanpa didampingi atau di antar oleh siapapun. Dalam benak pikiran “apapun yang terjadi akan dihadapi dengan sabar dan bermodalkan keyakinan”.
Sebelum hari-hari kuliah tiba pertama harus melakukan segala peraturan yang terdapat di kampus. Karena suasana itu masih terlalu asing, walau-pun hati sedikit gundah, kesal bila sesuatu telah menimpa diri dengan tidak masuk akal atau keluar dari aturan agama.
Pada saat hendak melakukan registrasi tepatnya di depan posko Resimen Mahasiswa MENWA (IAIN), seseorang menghadang hendak memberikan sebuah selebaran yang berisikan tentang keberadan salah satu jurusan. Setelah di baca lagi, ternyata famplet itu mengandung kritikan terhadap jurusan yang akan dijalani. Dalam benak pikiran, sebenarnya ada masalah apa kok rasanya sedikit janggal jurusan sendiri di kritik? Ini membuat hati bertanya-tanya dan penasaran seakan ingin cepat-cepat masuk hari kuliah.
Kemudian setelah menuju tempat registrasi di sebelah al-Jami’ah. Mulailah memberikan segala persyaratan dan petugas menyuruh mahasiswa untuk memberikan ijazah yang dilegalisir, dan persaratan lainnya. Karena masa kelulusan SLTA telah melewati dua tahun. Selain itu, petugas meminta surat kelakuan baik SKKB. Terpaksa waktu itu juga (kira-kira jam 02-an) setelah berdialog dengan petugas, dari Bandung pulang ke Bogor kemudian bolak-balik antara Bogor dan sekolah Aliyah di Menes Pandeglang.
Setibanya di Bogor pulang ke rumah hendak membuat KTP di kantor kepala desa. Di sana memenuhi persyaratan membuat KTP. Namun, sayang kepala desa tidak ada di kantornya, terpaksa harus ditemui ke rumahnya. Sayang, Kepala Desa itu tidak ada di rumahnya, kemudian balik lagi ke kantor desa menemui Sekretaris Desa. Syukur, Sekdes itu mempunyai stempel desa dan ia langsung memberikan stempel dan tanda tangan. Setelah itu, lekas-lekas pergi dan minta izin untuk pergi ke Menes Pandeglang hendak melegalisir ijazah terbaru. Karena jalan raya jalur Bogor Rangkas Bitung sangat jelek dan akan memakan waktu cukup lama, maka diputuskan untuk jalan Jakarta melewati terminal Kali Deres Jakarta Barat. Karena terasa sedikit capek, dalam mobil banyak pedagang yang berjualan secara memaksa kepada calon pembeli yang konsumennya penumpang bus. Hal itu, tidak digubris karena cara berjualannya yang sifatnya memaksa dan bahasanya yang kasar tidak karuan (menyindir dan mengolok-olok), diputuskanlah untuk tidur sekedar menghilangkan capek.
Di sekolah petugas yang masih ada anak Kepala Sekolah yang terkenal sangat galak apalagi kepada lelaki. Bahkan ia pernah ribut dengan anak-anak santri karena peristiwa pembakaran ijazah. Ia yang sudah bergelar Kiyai Haji pernah diancam oleh anak santri pada saat datang ke pesantren. Setelah itu meng-copy izasah sebanyak sepuluh sebagaimana yang diperintahkan Kiyai Haji. Tidak lama-lama dengannya, kemudian menuju rumahnya salah satu guru di Pandeglang. Ia meminta uang dan disuruh membeli rokok olehnya agar proses legalisir cepat selesai. Setelah itu, dengan membawa sebuluh buah legalisir yang diterima. Pulanglah ke pesantren dan menemui salah satu guruku dalam mengaji untuk meminta restu agar dalam perkuliahan nanti berjalan dengan baik dan diberikanlah nasihat-nasihat olehnya. Setelah pamitan kepadanya langsung menemui guru mengaji yang lain untuk “sungkem” meminta restu yang kedua kalinya. Dari Menes Pandeglang langsung berangkat ke Bandung untuk melanjutkan proses registrasi yang belum selesai. Setelah proses registrasi rampung dalam memenuhi persyaratan-persyaratan yang diberikan oleh panitia tinggal-lah menunggu hari-hari Ta’aruf yang diselenggarakan oleh mahasiswa-mahasiswa senior.
Pada masa-masa Orientasi Penerimaan Mahasiswa Baru yang dalam istilah kampus IAIN dikenal dengan “Ta’aruf”. Selama sebulan, setiap hari bersama teman-teman baru untuk mengikutinya tidak jarang kegiatan itu melewati waktu Maghrib. Dalam mengikuti ta’aruf ketika hendak buang air kecil ke Watter Close (WC) di masjid dan keluar minta izin kepada panitia Co-card kepunyaan teman terbalik dan panitia di luar bertanya dengan menggertak. Mana Co-card-mu? tanya panitia. Teman men-jawab, ada! Kamu sudah minta izin belum keluar dari Aula ini? Tanya lagi panitia (Presma jurusan mu’amalah). Sudah, kata teman. Panitia itu terus bertanya seperti sengaja mempermaikan. Kepada siapa kamu minta izin? Tanya panitia. Teman menjawab, tuh! kepada orang yang duduk di dekat pintu (Presma jurusan Ahwal As-Syakhsiyah), jawab teman. Panitia itu sudah diduga sedang bersandiwara mempermainkan peserta. Kamu bohong! kata panitia, ia tidak mengizinkanmu tadi, ia (orang yang duduk di dekat pintu) bilang bahwa tidak mendapatkan orang yang hendak keluar Aula. Cepat kamu berdua ke WC dan balik lagi ke sini, kata panitia sambil marah-marah tidak karuan. Setelah pulang dari WC melaporlah ke panitia dan panitia itu menyuruh push-up sepuluh kali. Kemudian mereka menyuruh mendengar pidato, dan teman sebagai penceramahnya di jalan sebelah atas. Setelah itu masuk lagi dan berkumpul bersama teman-teman di atas Aula.
Sewaktu mentoring jatah pembagian keompok kebetulan mendapat kelompok ke-73 yang diberi nama kelompok Abdul Qadir Jailani. Ketika berkumpul dengan kelompok mentoring di sebelah bawah Cape IAIN yang terdiri dari lima belas orang dengan dua pementor yang berasal dari Medan jurusan mu’amalah dan satu lagi dari jurusan kimia. Satu persatu ditanya oleh panitia mentoring (pementor) tentang pengertian agama Islam kemudian bagaimana rencana ke depan setelah lulus nanti dan sebagainya.
Hati mulai lagi dibuat kesal bahkan gondok melihat kelakuan panitia ta’aruf yang memperlakukan mahasiswa baru (peserta) seperti yang kurang menjaga etika dan kemanusiaan. Karena pada saat acara perpisahan kegiatan ta’aruf panitia sudah melwati batas maghrib. Sambil berjalan-jalan menuju pulang ke tempat kost-an teman perbicangkan terfokus pada kekesalan terhadap kelakuan panitia.
Sampai temanku memandang bahwa dalam fiqh kelakuan panitia itu sudah keluar dari jalur Islam dengan mengajak pada hal yang bathil dan layak untuk dibunuh serta mayatnya di buang ke laut. Dalam pikiran mungkin ia berpandangan dengan melihat pada pendapat ulama tentang seseorang yang sengaja meningglkan shalat fardhu.
Sewaktu ta’aruf terkadang pulang ke rumah kakak di Sumedang atau ke kost-an teman yang sedang kuliah semester V jurusan geologi Universitas Padjadjaran (Unpad). Namun, kebanyakan pulang rumah kakak di Tanjung Sari Sumedang dengan menaiki mobil bus Damri walaupun sambil bergelantungan berdesak-desakan dengan penumpang lain pada pagi atau sore hari. Bersama seorang teman dari Tanjung Sari sering berangkat atau pulang berbarengan.
Pada suatu saat pulang kuliah perdana di kelas, hati merasa senang seperti mimpi ada di kota provinsi ikut mengisi kampus negeri. Sewaktu dalam bus pemandangan indah terjadi ketika jalan berkelok di kawasan Jatiroke, seorang mahasiswi Unpad yang berparas cantik memandang, sedang teman mengejek saja sehingga mahasiswi itu bersikap acuh. Mahasiswa itu seperti orang yang elite, kost-annya saja indah dan megah ketika ia turun di perumahan Panorama. Teman menjelaskan kalau dalam bus kita ditanya kuliah di mana oleh mahasiswa lain lantas kita harus bilang apa? Teman itu seperti ada keraguan dan malu untuk menjelasan dan menyebutkan dari perguruan tinggi agama.
Walaupun kita dari perguruan tinggi agama asal jangan ketinggalan dengan mahasiswa lain yang nota bene pengetahuan umum, biarkan saja. Sebab walaupun berasal dari Unpad atau ITB mungkin ia lebih hebat dari mahasiswa perguruan tinggi agama tentang ilmu pengetahuan yang digelutinya sedangkan, mahasiswa dari perguruan tinggi berbasis agama harus lebih paham tentang pengetahuan agama. Teman tertawa sambil berkata, begini! mengaku saja jurusan tekhnik -tekhnik agama Islam, karena dari PTAIN yang berbasis agama Islam, tapi kesan orang lain bahwa mahasiswa dari PTAIN pun ibadahnya jarang-jarang. Tapi, ada kalanya orang tahu tentang pengetahuan agama tapi memang sebagai agamawan tulen tidak -dalam artian pintar ibadah, ia hanya pintar dalam pengetahuan agama. Ada juga yang pintar ibadah tetapi kurang pengetahuan agama. Dengan begitu silahkan orang yang dari jurusan teknik perguruan tinggi umum nasional PTUN mengungguli mahasiswa yang berbasis agama dalam pengetahuan exact, tapi ia kurang paham tentang metode pengembangan agama melalui teori-teori sosial misalkan.

Budaya Cuwek Mahasiswa dan Keislaman

Terkadang dosen mempunyai karakteristik berbeda-beda, ada yang suka humoris ada yang ingin serius dan ada pula yang sensitif tidak ingin tersinggung oleh mahasiswa. Mereka akan marah apabila dalam pemberikan materi ada mahasiswanya yang bercakap-cakap. Namun, terkadang mahasiswa juga ingin kebebasan dalam proses pembelajarannya dan tidak ingin ada tekanan yang begitu berat sehingga menjadikan beban kepada mahasiswa dalam menerima materi kuliah. Tugas yang diberikan beberapa dosen terkadang menumpuk dari mulai makalah, resume terjemahan dan sebagainya. Biasanya tugas yang dianjurkan kebanyakan berupa makalah baik untuk mandiri atau pun kelompok. Untuk tugas kelompok biasanya mahasiswa perkelas dibagi ke dalam beberapa kelompok. Dosen akan memanggil “kosma” (wakil mahasiswa) kelas bersangkutan untuk membagi beberapa kelompok sesuai dengan tema materi yang hendak diberikan.
Dalam metode ceramah, mahasiswa tinggal diam sambil mendengarkan ceramahan dosen di depan kelas atau keliling di antara bangku mahasiswa sambil menjelaskan materi perkuliahan. Setelah itu, memberikan kesempatan untuk mahasiswa apabila ada yang perlu dipertanyakan atau memberikan komentar.
Bahkan tidak jarang dosen datang ke kelas menemui mahasiswa -sekedar memberikan tugas untuk membaca buku yang dianjurkannya setelah itu kembali lagi tanpa memberikan materi sedikit pun. Padahal belum tentu dosen tersebut telah tuntas membaca buku yang dianjurkannya. Lebih parah lagi apabila dosen hanya memberikan satu atau dua pertemuan dari enam belas kali pertemuan. Itu tentu saja akan membingungkan mahasiswa untuk menjawab pertanyaan apa yang diajukan oleh dosen.
Sebenarnya seperti ada sedikit kesamaan antara SLTA dan perkuliahan dari segi materi dan metode pengajaran. Namun, yang dapat membedakan bahwa dalam perkuliahan mahasiswa diberikan kebebasan dalam memberikan kritikan-kritikan atau pun pendapat yang sesuai dengan keinginan mahasiswa. Walaupun demikian, ada juga dosen yang tetap kukuh kurang menerima pendapat mahasiswa apabila mengkritik atau berpendapat secara bebas.
Terkadang juga ada dosen yang sangat ketat dalam memberikan ketentuan bagi mahasiswa dari segi penampilannya. Mahasiswa dilarang keras bila memakai kaus oblong tanpa ada krah di lehernya, bahkan dapat dikeluarkan dari kelas. Begitupun dengan sendal jepit akan sangat bermasalah bagi dosen yang sangat ketat dengan disiplinnya. Tapi, bagi dosen yang serba cuwek dengan penampilan ia akan membiarkan mahasiswa cuwek pula dalam penampilan, namun dalam salah satu penilaiannya misalkan, mahasiswa dituntut aktif dalam berbicara terutama dari segi berdiskusi.
Namun, bila dilihat penampilan seseorang pelajar dari Indonesia yang belajar ke Amerika kemudian mengenal budaya pelajar di sana -Amerika yang membebaskan penampilan tetapi dari segi keilmuan ia tidak boleh ketinggalan. Seketika pulang dari luar negeri dan menjadi dosen di Indonesia ia menerapkan gaya Amerika dengan pakaian cuek tanpa ada beban dari peraturan penampilan, apakah budaya seperti itu harus menunggu seorang pelajar Indonesia ke Amerika terlebih dahulu? Padahal kalau saja memang membantu bagi mahasiswa dalam perkembangannya kenapa tidak di mulai dari sekarang saja mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya dalam penampilan tanpa menunggu harus ke Amerika terlebih dahulu?
Memang terdengar ada beberapa perguruan tinggi umum ataupun agama yang menerapkan budaya demikian. Mahasiswa bebas mengekpresikan penampilan dirinya, ia boleh memilih penampilan seperti koboy ataupun berandalan bahkan seperti artis pun dipersilahkan asalkan mahasiswa dapat menangkap materi kuliah dengan baik.
Ketika bermain-main ke salah satu perguruan tinggi terfavorite ditemukan seseorang yang berpakaian seperti gelandangan, rambut yang sangat kusut, pakaian cokelat dengan banyak jaitan kemudian celana rombeng dan setelah diperhatikan ia membawa tas yang di jinjing. Ia masuk ke kampus terfavorit dan masuk ke dalam kelas. Tidak disangka ternyata ia adalah mahasiswa jurusan Teknik Informatika di salah satu perguruan tinggi terfavorite di Bandung. Dalam benak pikiran, kalau saja seperti itu keadannnya, maka mungkin saja gelandangan bila saja tahu, ia tidak sungkan-sungkan belajar ikut bersamanya memasuki kampus.
Terkadang dalam perguruan tinggi favorite terlihat mahasiswanya yang sedang belajar sembari duduk memanjangkan kakinya ke depan bangku bertumpang tindih dengan kaki temannya sedangkan dosennya memakai topi seperti coboy. Mungkinkah di kampus tersebut sudah diterapkan gaya bebas? Ketika bermain ke kampus yang tidak kalah favoritenya di jalan terlihat mahasiswi cantik, pakainnya sangat ketat, kulit paha kakinya sebagian kelihatan putihnya, ia memakai topi cokelat lebar berhiaskan kembang-kembang berwarna merah seperti yang sering dilihat melalui TV dipakai turis di pinggir pantai. Sambil berjalan-jalan mahasiswi itu dari atas kawasan kampus menuju jalan raya ia berbincang dengan temannya yang memakai jilbab ana pakaian rapi. Hati bertanya-tanya sambil menumpangi motor teman menuju kelas fakultas peternakan (Fapet), di kampus ini kayanya sudah multikultur ya? Karena ada budaya Timur dan Amerika Latin sedang berjalan.
Di kelas sempat aku berpikir, bagaimana jika kampus IAIN bisa seperti itu -multi-kultur? Tapi, aku berpikir mungkin perempuannya yang tidak diperkenankan membuka kerudung. Sebab di kampus IAIN sangat dianjurkan bahakan diwajibkan memakai jilbab dan berpakaian rapi. Tapi, aku mendengar sekarang IAIN Jakarta sedang heboh dengan kasus mahasiswa bernama Muqri Aji jurusan akidah filsafat yang membebaskan mahasiswa IAIN diberikan kebebasan boleh membuka kerudung. Bahkan sebagaian mahasiswanya menggelar spanduk bergambar wanita yang bertelanjang di depan kampusnya. Kemudian Muqri Aji pada suatu kesempatan acara seminar membuat gebrakan setelah peserta diam. Ia mungkin merasa kecewa dengan seminar dialog tersebut dan dengan berdiri menyatakan, “bahwa saya yang bernama Muqri Aji jurusan akidah filsafat fakultas ushuludin IAIN Jakarta pada hari ini menyatakan keluar dari Islam”. Sangat berani sekali Muqri Aji menyatakan demikian. Saya berpikir ini gara-gara budaya busana saja dapat menimbulkan keluar Islam. Pagi hari aku membaca Koran kompas bahwa presiden Amerika George W. Bush hendak berkunjung ke korea selatan guna mengikuti konfrensi tentang bahaya nuklir di korea utara. Para mahasiswa menentang dengan keras keputusan presiden amerika itu. orang-orang mahasiswa yang anti Bush menggelar aksi demonstrasi di depan kampus mereka dengan membuat gambar bush dan dipasang di lantai pintu gerbang kampus mereka agar gambar muka Bush terinjak oleh setiap mahasiswa yang hendak pulang atau masuk ke kampus mereka. Saya melihat para demonstran sangat rapi sekali dalam berbusana dengan jaket yang berwarna cokelat dan hitam. Terkadang saya memperhatikan di media masa mahasiswa-mahasiswa luar negeri seperti jepang, cina atau korea sangat reatif dalam berbusana. Pada saat ada kasus virus antrak dan kebijakan tentang perusahaan-perusahaan yang mempunyai asap tebal di kota cina kemudian para mahasiswa cina mengenakan pakaian yang menyerupai masker yang terbuat dari plastik. Kemudian saya membaca lagi tentang kebijakan yang dikeluarkan pemerintah korea untuk melelang perusahaan media masa Koran, para mahasiswa itu mengenakan baju dari Koran. Dari contoh-contoh di atas, hampir pada setiap kasus itu banyak yang berpulangkan pada ekspresi (mahasiswa) pada busana terutama pakaian. Busana seperti gambaran tentang budaya seseorang. Aku pikir bagaimana kalau orang suku Eskimo, Badui atau Asmat ingin masuk kampus mengikuti kuliah? Mungkin kah multikultur itu bisa berjalan dengan lancar terlebih di kampus yang berbasis Islam? Padahal mungkin orang Badui ingin kuliah dengan berpakaian serba hitam dan ikat kain di kepala dengan memakai golok dipinggang atau suku asmat dengan kemaluannya yang hanya diselubungi oleh kayu atau bambu saja.
Mungkinkah mutikultur itu diterapkan di IAIN? Konon IAIN seperti budaya santri sebagaimana yang kubaca di selebaran para mahasiswa yang demonstrasi di kampus. Tapi, mahasiswa jarang yang kelihatan memakai kain sarung, hanya ada satu orang saja yang kulihat dari fakutas Adab memakai busana kain sarung ketika kuliah, atau yang senang dengan pakaian seperti sunan dengan pakaian serba putih jurusan KPI. Sedangkan di fakultas syari’ah mahasiswa yang memakai sendal jepit dikeluarkan.
Sepertinya IAIN tidak menyerap budaya luar dan tidak menerima budaya dalam. Ia mengambang dalam budaya sistem yang terkungkung dalam ajaran yang tidak jelas entah dari Timur atau dari Barat. Tergantung budaya yang disuruh masing-masing dosen. Ada yang ujian disuruh memakai jas almamater dan ada yang ujian memakai kaus oblong saja. Tergantung budaya menurut masing-masing dosen fakultas.

Simbol Identitas Manusia Shalih?

Seorang mahasiswa datang ke rumah dosennya mengadukan curahatan hati (curhat) kemudian ia hendak shalat isya, selesai adzan berkumandang, sebelum shalat isya ia melakukan shalat sunnat dengan memakai peci hitam kebiru-biruan yang berbentuk seperti payudara bertete hitam.
Di masjid para jamaah hendak mengadakan acara pengajian akbar, mereka sudah saling kenal satu sama lainnya. Mahasiswa spontan menjadi objek pandangan jamaah yang sedang berduduk sila menunggu sang imam masjid tiba karena si mahasiswa tidak begitu dikenal dan dianggap orang asing.
Tanpa terkecuali dosen-pun menatap ke arah mahasiswa itu dan menjawab pertanyaan jama’ah lainnya yang ada di sekitar masjid, “ohh.. itu adalah mahasiswa saya” kata dosen.
Selesai shalat kemudian berbincang-bincang dengan dosen, pada akhirnya mahasiswa itu meminta bantuan agar dosen itu menandatangani perjanjian bahwa ia bersedia menjadi dosen pembimbingnya untuk tugas Kuliah Kerja Lapangan (KKL).
Dengan melihat peci yang terpakai di kepala dosen itu mengatakan dalam bentuk pujian “saya tahu kamu adalah anak pintar dan shalih, apa yang engkau mau silahkan ajukan dan saya tidak keberatan untuk membantu?”
Sebagaimana yang diharapkan si mahasiswa semula, tujuannya pun lancar dan mulus. Semula tujuan mahasiswa itu adalah meminta persetujuan dari dosen yang secara akademis tidak dibenarkan karena mahasiswa itu seharusnya mengulang karena kertas KRS tidak diisi dan semestinya harus memohon persetujuan terlebih dahulu dari pihak fakultas. Namun, karena perilaku mahasiswa itu yang sopan dan baik dengan simbol peci di kepala dan bahasa yang sopan santun layaknya seorang yang bermoral tinggi dan agamais telah memecahkan hambatan akademis. Karena biasanya bila mengacu kepada ketentuan akademis kemanusiawian itu tidak berlaku di perguruan tinggi yang terpenting mematuhi peraturan dengan system yang berlaku di perguruan tinggi tertentu.
Bahkan dosen yang sekaligus sekretaris jurusan itu-pun memberikan kesempatan untuk mahasiswa untuk me-rekafitulasi nilai-nilai yang belum rampung untuk diperbaiki malam itu juga dari semua nilai yang disajikan. Tapi, sayang mata kuliah semester akhir-nya belum tuntas dan dua minggu lagi baru akan dilaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS), semester tujuh.
Tidak lama kemudian dengan jarak satu minggu dosen sekaligus sekretaris jurusan itu diganti dengan sekretaris yang baru dan mahasiswa itu sudah tidak bisa lagi melakukan perbaikan nilai sebagaimana yang diharapkan pada malam minggu-minggu kemarin.
Bahkan pergantian sudah diadakan untuk kedua kalinya. Tibalah sekretaris jurusan baru yang konon kata teman-teman mahasiswa yang lain, sekretaris baru itu berdisiplin tinggi, si mahasiswa berpikir benarkah? Sekretaris baru itu adalah mantan petugas biro skripsi yang kerap kali sering menerima uang (sogok) dari mahasiswa untuk diloloskan dalam seminar kelulusan judul. Namun, setelah jadi sekretaris baru jurusan tingkah laku dan ucapannya seperti orang yang shalih saja dan kelihatan seperti sangat disipliner. Ketika seseorang mahasiswa yang hendak memberikan amplop berisikan uang untuk keluluasan judul ditolak sekretaris dan berkata “saya tidak mau menerimanya dan lebih baik berikan saja kepada orang yang membutuhkan”. Maklum baru jadi sekretaris baru biasanya orang yang dapat jabatan baru agak bertingkah di depan umum agar kelihatannya seperti orang yang terpuji, pikir mahasiswa.
Seseorang mahasiswa yang baru sembuh dari sakit datang dan meminta dispensasi dalam belajar untuk mengulang nilainya yang belum keluar, kemudian dosen itu-pun yang jadi sekretaris baru bersikap tidak mau tahu dengan alasan yang diberikan mahasiswa walaupun alasan itu berbentuk sakit karena sesuai prosedur bahwa mahasiswa yang kurang nilainya harus mengulang kembali pada semester berikutnya. Padahal mahasiswa itu telah memberikan bukti surat dari dokter bahwa ia tidak bisa mengikuti kuliah dengan rutin dan harus berobat rutin selama enam bulan penuh karena sakit berat.
Tapi, pada kenyatannya sekjur baru itu malah seperti enggan mengeluarkan keputusan yang mengandung resiko untuk mahasiswa, entah karena ia tidak ingin ketinggalan jabatannya atau apa-lah dikata?
Yang jelas sekjur baru itu seperti orang yang benar-benar suci dan disipliner. Padahal di sisi lain, si mahasiswa memberikan alasan selain sakit -ia juga memberikan alasan menyangkut keadaannya seperti penghidupan keluarganya yang pas-pasan dan kedua orang tuanya yang sudah lama meninggal, tanggung jawab terhadap adiknya. Sementara untuk menanggung biaya hidup ia harus mencari uang dengan kerja keras asalkan halal, itupun harus dibagi dengan adiknya agar bisa kuliah. Sementara mahasiswa itu harus bisa hidup dalam keadaan pas-pasan.
Dosen-pun tak menggubrisnya bahkan ia bilang “siapa yang salah?” “itu kan salah kamu selalu menggampangkan terhadap persoalan kuliah sih..”.
Usaha mahasiswa yang benar-benar jujur itu kandas dalam memberikan penjelasan dari alasan-alasannya untuk meminta dispensasi dan keinginan didengarkan dalam curhatan terhadap dosen sekaligus sekjur baru itu tidak sedikitpun ada alasan yang ditanggapinya dengan baik.
Mahasiswa itu berpikir mungkin saja dunia ini sudah terbalik, di saat kejujuran dan ketulusan itu sudah tidak lagi didengarkan apalagi ditegakkan. Namun, paling tidak simbol telah memenangkan rintangan masa depan yang penuh kekajaman para akademisi yang dilematis. Wallahu’alam bishawab.


Aksi

Information

One response

29 11 2007
liezmaya

wah bacaan berat nich…hebat mas😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: