Tragedi Kemanusiaan

15 11 2007

nuklir.jpgBila terbayang pada manusia akan semua makhluk hidup hadir dalam satu masa di permukaan bumi -dari seluruh binatang, tumbuh-tumbuhan dan manusia- sejak pertama tercipta sampai kini masih dalam kondisi hidup, apa yang terjadi? Tentu kita tidak usah pusing-pusing membayangkannya karena hal itu tidak mungkin terjadi. Dengan adanya kelahiran (fertilitas), terjadi pula kematian (mortalitas). Itulah makhluk hidup sekaligus makhluk yang akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Kekal dan Abadi.
Meski demikian, sering manusia dengan berbagai cara berusaha memperhambat dan mempercepat kematiannya. Dengan cara itu, manusia sering melanggar stock umur yang diberikan Tuhan sehingga muncul “tragedi kemanusiaan”.
Kehadiran manusia yang semakin membludak telah menghasilkan pemikiran bagaimana caranya program KB (Keluarga Berencana) terlaksana denan baik. Bahkan, tak jarang terdengar istilah cloning yang mungkin manusia juga akan menerapkanannya. Kematian dan kelahiran semestinya terjadi secara wajar agar dapat mencegah “tragedi kemanusiaan”.
Irasionalnya, terdapat sebuah ungkapan “memanusiakan manusia”. Sepintas ungkapan ini bisa berarti manusia berusaha kembali menjadi manusia, karena “memanusiakan” adalah proses menjadi. Jadi, sebelum “manusia dimanusiakan” entah itu benda bernama manusia, hewan, atau manusia-manusiaan. Sungguh paradoks bila mewmperhatikan kalimatnya apabila “manusia di manusiakan” -kata manusia ke manusia- dengan proses menjadi.
Jadi, apa maksud “memanusiakan manusia”? Apakah seperti menimpah kembali sebuah file di komputer dengan cara menggandakan file yang sama sebelumnya, sehingga penyimpanan (saving) file baru itu akan memenuhi kapasitas hard disk.
Mungkin maksudnya “memanusiakan manusia” itu, karena sebelumnya manusia belum dikatakan manusia sungguhan bila tidak diisi dengan sifat-sifat “kemanusiaan”. Bisa saja “manusia” hanya sekedar benda hidup yang dinamkan “manusia” yang mempunyai sifat seperti halnya makhluk-makhluk lain seperti hewan bernama kera, biawak atau laron, sehingga manusia sering dikatakan binatang berbicara (hayawan al-natiq).
Para ilmuan Barat pernah terbingungkan dengan kehadiran dirinya sendiri -dalam membermaknai “manusia”. Mereka lari dari pengertian manusia dari sifat-sifatnya dan mencari celah lain, sehingga menemukan teori seperti tentang evolusi manusia.
Seperti halnya ahli biologi pertengahan abad ke-19, Charles Darwin menjelaskan proses evolusi biologi manusia yang berasal dari makhluk-makhluk satu sel yang sangat sederhana seperti protozoa. Manusia merupakan suatu jenis makhluk yang telah bercabang melalui proses evolusi dari semacam makhluk primat (Koentjaraningrat, 1986: 61, 69).
Namun, dalam kesempatan ini tidak akan menjelaskan asal-muasal terbentuknya manusia, karena hal itu sudah merupakan bagian dari pelajaran penelitian dalam suatu sub ilmu antropologi biologi, yaitu paleoantropologi. Menurut Darwin, asal muasal terjadinya manusia itu dari binatang kera yang berkembang biak dari zaman ke zaman.
Mungkin, kini, binatang kera itu telah mampu memakai baju, membuat pabrik senjata dan berperang.
Dalam peradabannya, manusia modern telah mengalami persaingan (competitive) antar negara. Tak jarang persaingan itu berbuntut penguasaan suatu negara terhadap negara lain. Barbara Ward dalam Lima Pokok Pikiran Yang Mengubah Dunia (1983) menyederhanakan kasus penguasaan seperti itu, apabila manusia sudah dapat disuruh oleh manusia lain. Hal itu, lanjut Barbara Ward, berkembang dan dikenal dengan istilah kolonialisme dan impeialisme.
Kemajuan teknologi untuk mengunjukan kekuatan telah dapat mengantikan fungsi manusia sendiri. Seiring globalisasi yang ditandai dengan liberalisasi, adanya kawasan pasar bebas (free market area) dan perdagangan bebas (free trade) dengan fasilitas teknologi informasi yang canggih, dapat mempengaruhi kehidupan sehari-hari masyarkat di pedesaan.
Seperti disinyalir Marshal McLuhan beberapa tahun yang silam, bahwa berkat fasilitas teknologi dunia telah menjadi global village, sehingga jarak antar negara akan terasa sangat dekat dalam hitungan detik. Di dalam global village banyak terjadi ketimpangan, dominasi, kooptasi, eksploitasi, homogenisasi dan ketidakadilan antara pihak satu dan yang lainnya.
Perihal kecanggihan teknologi pernah menjadikan suatu agenda pembahasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam konfrensinya di Mexico. Dikhawatirkan manusia tidak bisa mengimbangi kekuatan teknologi sangat canggih yang mengakibatkan krisis kemanusiaan.
Pertanyaannya kini, apakah krisis kemanusiaan itu disebabkan oleh dominasi teknologi canggih atau sebaliknya oleh kesalahan manusia (human eror)? Teknologi berada dalam pengendalian manusia karena teknologi tak bisa berjalan apabila tanpa kontrol manusia.
Peperangan telah mengakibatkan jutaan mayat tergeletak dalam kondisi hangus terbakar akibat bom nuklir meledak setelah katup tombol kontrol dipencet dari jarak yang sangat jauh. Dominasi teknologi dunia juga mengakibaatkan manusia semakin merasakan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap teknologi canggih. Dengan ketergantungan itu, listrik di perkotaan besar bisa padam secara mendadak oleh seorang hacker komputer yang membobol kerahasiaan PLN. Seorang hacker komputer dapat pula membobol suatu arsip paling rahasia suatu negara dengan melacak keamanan suatu negara. Ia dapat mengubah posisi nuklir Amerika yang semula moncong mengarah ke Irak atau Iran menjadi ke Indonesia.
bbm.jpg Hal ini, dapat pula kita saksikan kembali, melalui besarnya pengaruh kotoran polusi seperti kendaraan bermesin dengan kapasitas radiasi yang sangat tinggi akibat ketidak-seimbangan manusia dan teknologi.
Bila desa bergantung dengan industri-industri perkotaan yang mempunyai peran penting dalam ekonomi, maka sisi lain yang mungkin terjadi adalah desa akan terkena imbas harga pupuk yang serat dengan zat-zat kimia tinggi, atau melalui kenaikan sembilan bahan pokok (Sembako). Harga BBM (Bahan Bakar Minyak) selalu naik; petani tidak puas dengan harga gabah murah, karena pasokan beras yang banyak kian hari kian merosot. Tindakan ekspor beras luar negeri akan mengalahkan harga beras petani (impor). Padahal, kualitas beras domestik jauh lebih baik di banding beras ekspor. Ibu-ibu di dapur juga merasakan kesulitan mendapatkan minyak tanah yang murah.
Demikian itu, bila rakyat Irak mengalami peperangan secara langsung senjata-senjata seperti rudal, nuklir dan lainnya membumi hanguskan negaranya, maka secara tidak langsung bangsa ini berada dalam imbas tragedi global, tragedi kemanusiaan.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: