Teori Kenabian dan Umat yang Latah

15 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Menanggapi artikel Umdah El-Baroroh di Situs Jaringan Islam Liberal (03/09/2007) berjudul “Meninjau Ulang Teori Kenabian” sangat menarik, terlebih tulisan tersebut hasil eksplorasi ilmiah dari Ulil Abshar-Abdalla ketika mencicipi kuliah di Universitas Boston.
Namun, ada hal penting untuk digarisbawahi mengenai masalah konsep kenabian, seiring anggapan bahwa teori kenabian dapat dilihat dari sudut pandang ilmiah (akal pikiran) dan wahyu.

“Ritus Fasas”

Dalam perkembangannya, manusia senantiasa akan mengalami masa peralihan, mulai bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa sampai masa tua. Bahkan, masa peralihan itu bukan saja dialami manusia tetapi seluruh zat yang terdapat di alam ini. Tak ragu lagi setiap hari manusia merasakan waktu yang berbeda, pagi, siang, sore dan malam. Masalah peralihan ini semua orang yakin menyetujuinya, baik yang ateis maupun taat agama. Lalu, kenapa di saat malam hari manusia harus tidur dan paginya harus bangun, kemudian siang nyaring. Di saat itu lah waktu ternyata memiliki dimensi ruang yang saat ini masih dianggap misteri, meski seiring perkembangan teknologi, ahli riset pengetahuan sudah mulai meneliti dimensi ruang waktu itu.
Para ahli kedokteran meneliti tentang waktu jam 12 malam sebagai batas antara peralihan zat-zat kotor seperti dari Oksigen O2 naik ke lapisan atmosfer sehingga air di bumi mulai bersih. Di kalangan ahli tasawuf, waktu tersebut merupakan waktu yang sakral untuk melakukan panjatan do’a-doa agar mudah terkabul. Dan sebenarnya, ahli tasawuf atau tarikat beranggapan bahwa peralihan masa siang dan malam itu terletak pada masa setelah ashar, bukan waktu Maghrib. Karena itu, bagi sebagian kalangan bahwa waktu Ashar sering dianggap merupakan waktu yang tepat untuk melakukan seperti santet dalam perdukunan. Padahal, menurut ahli kosmologi bahwa waktu Ashar merupakan waktu peralihan dari kandungan zat yang berish ke kandaungan zat yang kotor. Hal itu, mudah terpengaruh oleh zat-zat kotor dalam ruang yang kosong. Ahli tasawuf menyarankan, jangan sekali-kali tidur saat setelah Ashar karena dapat mewariskan atau mengakibatkan gila.
Dalam perkembangan manusia, masa peralihan tersebut sering dilakukakan melalui perayaan acara-acara seperti ulang tahun, kenaikan kelas dan lain-lain. Begitu pun dalam keagamaan seperti khitanan, syukuran atau acara kematian.
Suatu saat seorang mahasiswa UGM mempunyai keinginan keras untuk menempuh S3 meskipun dalam keadaan serba kekurangan. Ia bekerja keras agar keinginan itu dapat tercapai sehingga pada tahun 2005 mahasiswa itu mampu menyelesaikan S3 dengan nilai memuaskan. Karena gembira yang luar biasa, akhirnya Ia meninggal dunia saat kelulusan. Kenapa demikian? Selidik punya selidik mahasiswa itu terlalu gigih memperjuangan keinginannya tanpa menyadari masa-masa peralihannya telah telewati begitu saja.
Dalam pandangan sosiologi fenomena itu disebut dengan “ritus pasas” di mana setiap perkembangan manusia selalu diikuti ritual-ritual (kegiatan) peralihan. Demikian itu, dapat dimengerti ketika Ibnu Khaldun berpendapat dalam Muqaddimah-nya bahwa ketika nabi Muhammad Saw menerima wahyu beliau sangat merasakan kedinginan dan sekujur tubuhnya menggigil. Hal itu, karena Nabi Saw merasakan masa peralihan dari fase manusia biasa (kemanusiaan) menuju sifat-sifat kesempurnaan (ke-malaikat-an).
Dengan memandang manusia dari sifat-sifatnya ini, dimungkinkan manusia memilki fase-fase yang lebih jauh lagi para ahli tasawuf optimis bahwa mereka mampu malakukannya sampai sifat ke-Tuhanan. Tidak heran jika dahulu berkembang konsep kenabian, kini konsep tersebut berkembang menjadi konsep kerahiban (kewalian) seperti yang pernah dilakukan Syekh Siti Jenar atau al-Hallaj. Ibarat “berganti kulit” -dari teori kenabian ke kerahiban- kasus tesebut banyak menuai pro-kontra di masyarakat. Antara percaya dan tidak mengenai teori kenabian merupakan dimensi iman -terhadap wahyu- dan akal pikiran seseorang. Salah satu ulama (ilmuan ternama) besar Islam yang tidak mengakui adanya teori kenabian adalah Fakhrudin al-Razi. Ia mengakui bahwa Muhammad Saw adalah seorang laki-laki yang shaleh semata dan menolak Muhammad sebagai utusan Tuhan. Demikian ketika Muhammad diangkat menjadi Nabi oleh masyarakat Arab pada saat itu, karena Muhammad sebagai sosok pemersatu bangsa Arab yang membawa nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi. Maka, sejalan dengan Umdah El-Baroroh dalam situs Jaringan Islam Liberal (03/09/2007), karena meski sumber kenabian itu mempunyai hubungan dengan Yang Di Atas, yaitu Tuhan, tetapi ia sebenarnya juga bersumber dari bawah, yaitu masyarakat.
Di satu sisi, Nabi Saw memilki unsur-unsur kemanusiaan, seperti ketika berdakwah di kalangan suku Quraisy, tidak jarang Nabi Saw dilempari kotoran binatang. Pada saat Nabi Saw mendapatkan cemoohan dan hinaan, Nabi Saw sering menenangkan pikiran dengan pulang ke rumah menemui istri tercinta Siti Aisah ra yang mampu mengembalikan Muhammad Saw kembali tenang dan meneruskan dakwahnya. Selain itu, Nabi sering melakukan khalwat dengan berdoa kepada Tuhan di tempat yang sunyi seperti di gua Hira. Tindakan Nabi yang terakhir ini jika dilihat dari sudut akal pikiran memang seperti sangat bertolak belakang dengan kriteria Nabi sebagai seorang ilmuwan, sebagaimana al-Qur’an sering menegaskan “afala ta’qilun”, “afala tadabbarun”, “afala ta’lamun”, “fa’tabiru ya ulil al-bab”. Hal ini, sering juga dilakukan para pendeta ortodoks dan biksu yang melakukan semedi di tempat-tempat sunyi seperti pegunungan.

“Latah”

Apabila ditarik lebih jauh, teori kenabian memiliki prospektrum yang sangat luas dalam ranah keilmuan karena mengandung cara pandang yang sangat beragam. Muhammad yang dijurubicarai Jibril dalam bentuknya yang profan dan al-Qur’an sebagai Wahyu dalam bentuknya yang sakral tidak mungkin dilihat dalam pandangan yang sejajar dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang mapan.
Ilmu-ilmu sepeti fisika dan kimia merupakan ilmu natural yang manusia boleh melakukan eksperimen terhadapnya, karena sifatnya yang netral. Ulama, Pendeta atau Biksu akan sepakat mengatakan bahwa air selalu mengalir ke bawah, tidak mungkin Rahib Yahudi mengatakan air akan selalu naik ke atas. Fisika dan kimia -misal- merupakan sub dari filsafat yang telah mengelami perkembangan yang sangat luas. Filsafat itu sendiri merupakan produk hasil olah pikir ide manusia. Pertanyaanya, apakah mungkin ilmu pengetahuan disejajarkan dengan al-Qur’an? Jika diibaraktkan al-Qur’an adalah kepala, maka ilmu pengetahuan adalah kaki. Maka, pertanyaannya berubah, apakah kaki dapat sejajar dengan kepala? Bagaimana pengetahuan dapat berkembang atau berjalan jika ilmu pengetahuan disejajarkan dengan al-Qur’an.
Ironisnya, sebagian kalangan intelektual Indonesia mempercayai bahwa al-Qur’an dapat berintegrasi dengan ilmu pengetahuan. Melalui demistifikasi ilmu pengatahuan ke dalam Islam, sebagian kalangan seperti Kuntowijoyo mengharapkan Islam dapat bersinergi dengan pengetahuan, karena Islam itu sendiri merupakan ilmu pengtahuan.
Kiranya, pencampuran-adukan al-Qur’an dan ilmu pengetahuan seperti itu merupakan langkah kurang tepat, karena al-Qur’an tidak dapat dipandang hanya melalui satu sisi pengetahuan saja seperti sosial, tapi membutuhkan berbagai bidang keilmuan dan seiring perkembangan pengetahuan itu sendiri.
Dalam perkembangan selanjutnya, terdapat para pakar keilmuan Barat telah mampu membuktikan ilmu pengetahuan tanpa al-Qur’an. Selan dengan itu, mereka kemudian menelusuri tanda-tanda dari al-Qur’an dari hasil penelitiannya itu telah mampu menemukan Tuhan. Demikian itu, al-Qur’an bukanlah kitab ilmu pengetahuan melainkan memberikan tanda-tanda (ayat) bagi umat manusia yang sesuai dengan perkembangan zaman. Bukan latah menganalisis al-Qur’an sejajar dengan ilmu pengetahuan (comparative constant analysis) atau kepala dengan kepala. Tapi, nilai-nilai positif dari pengetahuan yang mampu dipandang sejalan dengan al-Qur’an. Jadi, bagimana zat karbondioksida (Co2) disenyawakan dengan Hidrogen (H20), lalu menemukan Tuhan?


Aksi

Information

One response

23 11 2007
M.hartono

Apakah komentar saya ini masuk atau nyambung?Misalnya satu di tambah dua …apakah jawaban dari pertanyaan tsb kita menemukan tuhan?Sejujurnya ilmu kenabian saya belajar dan mempelajari dengan cara saya sendiri dan kebetulan saya cari di google dengan tema ilmu kenabian dst nya kami menemukan pertanyaan tsb dan saya memberi komentar.ilmu eksak/ilmu pasti adalah ilmu yg lebih dominan mengarah ke pemikiran/nalar,tetapi ini juga di perlukan bila kita sudah menemukannya(tuhan yg benar lagi lurus)Ilmu kenabian setau saya ilmu yg di berikan kepada hambanya yg benar seperti kisah nabi ibrahim nabi yaqub ….mereka di beri ilmu tsb melalui hatinya dan yg tau hanya mereka sendiri seterusnya mereka memraktekannya sebagaimana nabi ibrahim akan menyembelih ismail dan ismail menjawabnya artinya nyambung begitu juga tentang mimpi nabi yusuf dan pesan ayahnya jangan di ceritakan tentang mimpimu itu dsb.Bagaimana dengan kita sebagai umat islam …apakah kita mengetaui yg sebenarnya bagaimana ilmu kenabian itu?wach bagaimana yach?begini saja kita ambil pertanyaan yg lucu …apakah sama ilmu kenabian dan musibah gempa di jojakarta?Sayangnya nabi soeleman sudah meninggal kalau masih hidup bisa kita tanyakan apakah hikmahnya gempa di jogja nabi soeleman?Tetapi jaman sekarang sudah maju dan perkembangan tehnologi akibat dari musibah fenomena alam orang yg ahli di bidang ilmu pasti bisa menjawabnya,seolah olah tuhan yg benar lagi lurus tidak menghendaki terjadinya gempa.Saya sebagai warga jojakarta yg tinggal di komplek sd minomartani 2 jalan tengiri raya sleman ngaglik pada saat terjadi gempa secara fisik saya merasakan tetapi dari segi material dsb tidak rugi karena rumah saya di sd hanya retaksedikit saja dan genting rumah turun/lorot 10 genting dan sudah saya betulkan.Bagaimana bagi warga yg lain jauh dari jogja ikut merasakan secara fisik dan non fisik?artinya anda tidak bisa berfikir tetapi anda bisa merasakan dan ini hati yg bicara …apakah ini juga ternasuk ilmu kenabian?wach wis di submit comment wae aku mong waton nulis nulis lan ora fokus wis yho nek ono sing isih moco mengenai ilmu kenabian kuwi piye kirim ono aku kabar via emailku oke?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: