Surga Para Birokrat: Dari VOC Sampai Sutiyoso

15 11 2007

Sejak masa penjajahan Portugis, Bogor merupakan tempat peristirahatan yang sejuk bagi para pelancong dari manca negara. Mereka terdiri dari para penguasa, pengusaha dan tokoh lain luar negeri. Misal VOC (Verenigde Oost Indische of Compagnie), konon sering mengadakan rapat tertentu dengan saudagar-saudagar asing dan tamu terhormat lainnya di salah satu hotel dekat istana yang kemudian bernama Hotel Salak.

 

Di depan hotel itu terdapat taman indah yang menampung ratusan hewan rusa. Sewaktu-waktu hewan itu dapat dipanggang menjadi santapan yang lezat bagi mereka dalam acara pesta di sekitar Istana Bogor. Lalu, VOC jatuh cinta pada kawasan itu, sehingga mereka dan pelancong-pelancong lain menjadikan Bogor sebagai peristirahatan di saat mengisi waktu senggang. Kondisi cuaca di Buitenzorg (Bogor) memang sangat mendukung untuk beristirahat dari-pada kermaian di Batavia (Jakarta) dengan hiruk pikuk politik kerajaan. Begitu pula Pelabuhan Sunda Kelapa dan Banten yang merupakan tempat berlabuhnya kapal-kapal pedagang asing yang melakukan aktivitas perdagangan.

 

Pada masa pemerintahan Soekarno, Hotel Salak merupakan tempat pertama kalinya diadakan pertemuan para tokoh dunia, seperti Nehru, Gemal Abdul Nasher dan lain-lain untuk melakukan tukar pikiran sehingga membuahkan ide untuk mencanangkan terselenggaranya KAA (Konfrensi Asia Afrika) di Bandung.

 

Pada masa kemerdekaan, Soekarno banyak menghadapi keadaan genting di Jakarta termasuk rencana penangkapan oleh pihak tentara Jepang. Dalam keadaan darurat, Soekarno seringkali bertolak ke Istana Bogor untuk menghindari kemelut yang berbahaya di Jakarta. TNI angkatan darat terpecah dan masa banyak menentang pemerintah. Soekarno mempunyai pendukung yang cukup banyak di Bogor. Bahkan, mitos pun berkembang di kalangan masyarakat setempat yang mempercayai banyak-nya tempat peristirahatan atau petapaan yang pernah dilakukan tokoh nasional ini.

 

Kemudian, pada masa Orba (Orde Baru), Istana Bogor sempat menjadi tempat kegiatan rutinitas nasional, seperti penyelenggaraan OPEC. Selain itu, Soeharto banyak mendirikan perusahaan dan yayasan di sekitar Bogor. Tidak hanya Soherto, putra sulungnya Hutomo Mandala Putra alias Tomy Soeharto dan putrinya Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut) turut mengikuti jejak langkah ayahnya membangun yayasan dan perusahaan. Bukan rahasia umum di sekitar masyarakat, bahwa keluarga cendana memiliki banyak tempat di kawasan Bogor.

 

Tak ketinggalan para pejabat lain seperti Wiranto ikut membangun sebuah villa mewah di kawasan bukit Gunung Salak. Maka, tak heran bila sejumlah tokoh-tokoh penting nasional seperti Try Soetrisno dan Susilo Bambang Yudhoyono memilih Bogor tempat peristirahatannya di Cikeas Gunung Putri Bogor. Dalam kampanyenya, SBY berhasil membujuk masyarakat Bogor dalam Pemilu (pemilihan umum) untuk memilih partai politik (Parpol)-nya yang Ia pimpin waktu itu.

 

Bukan hanya pejabat pemerintah pusat dan tokoh-tokoh penting lain, Gubernur DKI Sutiyoso termasuk putrinya tak ketinggalan membeli beberapa hektar lahan di sekitar Tenjolaya Bogor. Bahkan, Ia berencana akan membuat sebuah kolam atau danau di kawasan itu.

 

Para tokoh penting di negeri ini sengaja memilih peristirahatan sampai membangun vila atau tempat tertentu di Bogor, mulai pengusaha kelas kakap sampai pejabat pemerintah. Mereka seakan berebut untuk mempunyai lahan-lahan yang strategi dalam mendapatkan kenyamanan dan menghidup udara segar.

 

Bogor memang merupakan kawasan sejuk dan memiliki daya tarik tersendiri dengan nuansa pegunungan dan cuaca yang sangat mendukung. Kawasan itu selalu menjadi incaran para politikus, pengusaha dan para pejabat lain untuk mendapatkan kesunyian, ketenangan, kedamaian dan kenyamanan. Tempat yang mendapatkan julukan “Kota Hujan” itu ibarat “surga” bagi mereka yang kebingungan dan kebisingan di kota Jakarta.

 

Memang, tak ada larangan bagi siapa pun yang mau menikmati kehidupan alam Bogor. Kedatangan warga luar, apalagi bagi para pejabat pemerintah, masyarakat bersifat terbuka selagi tidak melakukan keonaran dan mengganggu kehidupan masyarakat. Hal itu, tercermin dalam falsafah orang Sunda “di mana langit dijunjung di situ bumi dipijak”.

 

Warga Bogor bisa saja bangga dengan kedatangan mereka. Tapi sampai sejauh ini, apakah para birokrasi dan pengusaha itu sudah tersentuh hatinya ketika melihat warga Bogor masih dalam kondisi memprihatinkan, jauh dari harapan yang diinginkan yakni damai, adil dan sejahtera?


Aksi

Information

One response

11 12 2007
canarium

Sebagai warga Bogor yang lahir, sekolah dan kerja di Bogor, saya jadi memahami saur sepuh Bogor dulu, bahwa Bogor akan jadi melting point semua suku bangsa di Indonesia. Sejak awal wilayah Pajajaran sudah jadi daerah multi kultural berbagai suku bangsa dipulau Jawa ini terutama dan semuanya mencair jadi urang Bogor yang basisnya kaSundaan yang punya makna universal, tidak lagi bermakna kesukuan. Itulah barangkali makna yang tersirat dalam Pajajaran, mensejajarkan siapa saja yang hidup di wilayah Bogor ini, sejajar hak dan kewajibannya tanpa pilih kasih dari suku atau agama apa, asal jiwanya PUTIH BERSIH (arti makna Sunda sebenarnya. Tidak heran kalau orang sekaliber Bung Karno dalam hidupnya mendambakan dimakamkan di wilayah Bogor, karena almarhum memahami kaSundaan yang sebenarnya. Beliau hormat dan cinta KaSundaan. Beliau tahu bahwa Sunda dan Jawa adalah ibarat dua sisi dari sekeping mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam perjalanan hidup bangsa Indonesia ini. Masing-masing punya peran yang berbeda dalam membangun Indonesia ini. Dua2nya saling membutuhkan dan melengkapi dalam memerankan hak dan kewajibannya. Jadi janganlah difahami sebagai dua kutub yang berbeda, yang secara emosional selalu dikontradiktifkan.Dua2nya adalah saudara sedarah dari kasepuhan yang sama, yang diciptakan di bumi Indonesia untuk diberi hak dan kewajiban membangun jiwa bangsa ini. Hanya kearifan, kepasrahan terhadap kadar dan kesadaran sejarah yang bisa memahami fenomena menarik di Indonesia ini. Janganlah emosi dijadikan acuan dalam memahami perjalanan kedua suku bangsa ini. Hanya kebersihan hati yang ahirnya dapat memahami, bahwa dua saudara ini memang harus bersama-sama bersatu membangun Indonesia tercinta ini. Satu hal lagi, jiwa kaSundaan bisa ada di setiap suku bangsa lain, begitu juga ke Jowo an. Lalu kalau ada saudara-saudara kita yang pernah mengenyam kebahagiaan tinggal di wilayah Bogor, tapi belum mengerti dan belum mau menyumbang karya sesuatu untuk tempat hidupnya itu, doakanlah supaya kesadaran itu tumbuh dan ahirnya seperti Bung Karno yang berwasiat ingin tempat peristirahatan terahirnya ada di Bogor.Tidak perlu marah atau kecewa, karena itulah seharusnya karakter kaSundaan: pasrah kana kadar,jauh tina adigung adiguna, someah ka manusa,tara ngabeda-beda, jauh tina pamrih, gampang ngahampura, munajat ngan ka Hyang Widi (ALLAH SWT ceuk Islam tea mah). Wallahu alam bissawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: