“Salam Korupsi”

15 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Sejak umat Islam disunnatkan mengucapkan “salam”, ucapan salam menjadi sangat “populer” sampai di telinga kita. Di pintu rumah ucapan itu banyak terpampang melalui sticker yang bertuliskan “Sebelum Masuk Ucapakan Salam Terlebih Dahulu”, “Say Assalamu’alaikum Wr.Wb Before You Get In”.
Menurut ulama fiqh, ucapan salam tidak boleh digantikan dengan bentuk apa pun meski kepada orang bentuk tunggal, misalnya dengan “Assalmu’alaika Warahmatullahi Wabarakatuh”.
Apapun redaksinya ucapan “salam” memang sangat baik, baik dengan “assalamu’alaikum wr.wb. “selamat siang”, “oom shinta-shinta”, “haleluya” dan lain-lain tergantung penempatan dan dalam konteks apa ia melakukannya.
Namun, ucapan “salam” pernah menjadi masalah. Redaksi “salam” pernah diubah Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ketika melakukan shalat selepas tahiyat akhir dengan “selamat siang” atau “selamat sore”. Pernah juga mahasiswa Filsafat dalam acara perkenalan mahasiswa baru menggantikannya dengan “selamat siang warahmatullahi wabarakatuh”.
Di kalangan masyarakat Islam, tentu hal itu tidak lazim dan dapat mengundang pro-kontra karena dianggap dapat merubah esensi dan mengotori citra Islam.
Semula, ucapan “salam” sangat berarti karena mengandung do’a keselamatan bagi semua orang. Namun, ucapan “salam” bagi kalangan tertentu banyak mengandung kecurigaan orang lain, karana mungkin dianggap sebagai hiasan bibir semata atau hal-hal tertentu. Padahal, “salam”, tanpa calusul-calausul lain, adalah ucapan yang berarti bahwa semoga kebahagiaan, keselamatan dan kesejahteraan bagi kita semua. Kiranya, hal itu tidak seseorang pun menolaknya -untuk mendapatkan ucapan keselamatan, dan kalau pun ada hanya maklum saja.
Kita memang patut mempunyai kecurigaan terhadap setiap text, tapi bukan berarti harus menelan dalam-dalam atas kecurigaannya begitu saja. Setiap orang mempunyai kecurigaan yang berbeda, namun ketika dalam keadaan beda kecurigaan itu harus menjadi satu/sama. Karena itu harus di beli dengan biaya yang mahal. Walau pun ada kecurigaan melekat pada diri seseorang misalnya untuk berpura-pura, tidak harus ia mengharap banyak suatu kepastian dan menentukannya dalam suatu angan-angan, sebab hal itu di luar batas kemampuan manusia. Apakah antara “salam” dan perasaan curiga harus terpisah agar seseorang tidak mempertanyakan redaksi “salam” itu?
Ucapan “salam” dapat menjadi ajang untuk bersilaturrahmi. Tapi, ketika “silaturrahmi” lebaran misalnya menjadi ajang untuk melakukan kumpulan rencana-rencana korupsi, maka salam tersebut dapat menjadi “salam korusi” para pejabat. Salam seperti itu dapat dipertanyakan, ke mana perasaan, hati nurani dan moralitas bangsa, sehingga omzet pendapatan para pedagang parsel menurun drastis dan acara pernikahan tak meriah karena kiriman parsel gagal.
Sangat paradoks, “salam” yang merupakan titah agama, suatu tuntutan etika, budi luhur yang penuh pesona dapat menjadi masalah, penuh kecurigaan, kecemasan dan jangan-jangan dianggap bagaikan burung hantu malam. Wueeeek.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: