Review Kebangkitan Islam di Indonesia

15 11 2007

Oleh. Najmudin Ansorullah

wayang.jpgErnst Cassirer (1990: 260), menulis bahwa beberapa abad yang lalu seorang Confusius pernah berkata, “study history if you like to divine the future” yang berarti belajarlah dari sejarah jika kamu ingin memahami masa depan”. Ungkapan Confusius itu sedikit banyak telah memberi pesan tersendiri tentang pentingnya menumbuhkan kesadaran historis dalam jiwa untuk menghadapi dan menjalani kehidupan yang akan datang.

Di dalam Islam, pesan ini juga tidak kalah pentingnya. Banyak ayat-ayat dan hadits yang mengingatkan umatnya untuk memiliki kesadaran historis. Salah satu bentuk dari kesadaran histories tersebut adalah menumbuhkan karya-karya penting yang telah dihasilkan umat manusia sejak zaman dahulu hingga masa sekarang.

Ketika Islam Didefinisikan?

Apabila merunut ke akar pengertiannya, Islam sebagaimana Bernard Lewis (2001: 5), menuturkan sering kali kata “Islam” bisa digunakan dalam beberapa pengertian yang berbeda. Pandangan Lewis ini pernah dikutip seorang pakar Dawam Rahardjo (1999: 2002), bahwa: Pertama Islam adalah wahyu dan teladan Nabi Muhammad Saw. yang dikoodifikasikan menjadi Al-Qur’an dan Hadits Nabi Saw. yang telah diakui kesahihannya, dinyatakan tidak berubah dari dulu hingga kini. Tapi, yang bisa berubah dan terus berkembang adalah interpretasi tentang Islam, dari waktu ke waktu dan kerap kali juga dipengaruhi oleh faktor tempat. Kedua, Islam selama ini dicerminkan terutama dalam ilmu kalam-lebih khusus lagi ilmu tauhid, aqoid, ushuluddin, ilmu fiqh dan tashawuf. Ketiga, adalah Islam histories, yaitu Islam yang diwujudkan dalam peradaban dan kebudayaan yang dikembangkan oleh para penganutnya dalam arti luas, termasuk peradaban dan kebudayaan yang dipengaruhi oleh ajaran Islam, walaupun tidak diciptakan oleh kaum muslimin.

Lebih lanjut, Lewis (2001), mengatakan “Islam” tidak untuk dipahami, tapi dipraktikan, ia bukan sekedar ajaran-ajaran dan perintah-perintah akan tetapi rekaman sejarah muslim yakni sebuah rekaman aktifitas-aktifitas umat manusia, keberhasilan dan kegagalan kelemahan-kelemahan dan pencapaian-pencapaian mereka. Jika ingin mengetahui adanya toleransi dan intoleransi baik dalam teori maupun praktek Islam. Jawaban-jawabannya pun akan berbeda sesuai dengan definisi Islam dan patokannya serta ukuran yang umat Islam pakai.

Sejalan dengan pandangan Lewis di atas, Harun Nasution (1986: 113), mengatakan bahwa kiranya ruang lingkup Islam tidak sempit malah luas sekali. Menurut Nasution, Islam dapat terbagi ke dalam dua kelompok, kelompok ajaran dan kelompok non-ajaran.

Kategori Islam yang tersebut terakhir dapat meliputi sejarah, kebudayaan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang datang ke dalam Islam sebagai hasil dari perkembangan Islam dalam sejarah.

Kemunculan Islam

Semula Islam datang dengan “wajah” yang kurang (tidak?) populer (asing) di kalangan dunia Arab -tempat pertama kali munculnya Islam- karena masyarakat Arab saat itu sudah terbiasa dengan agama yang mereka anut sejak zaman nenek moyang mereka.

Dalam Al-Qur’an dan Terjemahannya (Soenardjo, 1990: 49-52), bahwa Mekah pada zaman kuno terletak di garis lalu lintas perdagangan antara Yaman (Arabia Selatan) dan Syam dekat lautan tengah. Kedua negara ini zaman dahulu telah mencapai peradaban yang tinggi dan dihubungkan oleh beberapa negeri-negeri kecil antara lain Mekkah. Mekkah adalah tempat lalu lalangnya pedagang-pedagang. Di mekkah terdapat beberapa suku dan kelompok-kelompok besar. Seperti Khuzaah, kelompok pendatang yang dipimpin oleh Harrits bin ‘Amir pergi ke mekkah kemudian berkembang-biak dengan pimpinannya dari Banu Hasim. Selain itu ada orang-orang Quraisy yang dipimpin oleh Qushai untuk menjaga kesucian dan keamanan kota mekkah. Namun, mereka masih dalam lingkup agama nabi-nabi terdahulu. Kemudian Nabi Saw. lahir, satu per satu saudaranya meninggal dunia. Setelah Nabi Saw. menginjak dewasa kakeknya wafat, kota Mekah mengalami kemerosotan, ketertiban kota tidak terjaga, keamanan harta benda, diri pribadi tidak mendapat jaminan. Akhirnya, keinsyafan dari pemuka-pemuka golongan muncul dengan menggelar rapat untuk memulihkan kembali kota Mekkah. Di antara golongan-golongan itu adalah, Banu Hasyim, Banu Muthallib, Bani Asaad bin ‘Uzza, Bani Zuhrah bin Kilab dan Bani Tamim bin Murrah. Para pemimpin mengikat sumpah untuk keamanan yang dikenal dengan Halfulfudhul. Hasil pertemuan membuahkan hasil kedamaian dan ketentraman. Sesudah nabi Menikah dengan Siti Khadijah pada waktu umur kira-kira 25 tahun sedang Siti Khadijah kira-kira 40 tahun, ia banyak dibantu oleh isterinya dan sebagai orang yang mengakui kerasulannya. Maka nabi Muhammad Saw. bertambah popuer di kalangan penduduk Mekkah, setelah beliau “Mendamaikan Pemuka-Pemuka Quraisy” dalam sengketa mereka memperbaharui bentuk Ka’bah.

Oleh karena itu, ketika Nabi Saw menyebarkan Islam pertama kali di jazirah Arabia, beliau menjalaninya dengan penuh hati-hati dan perlahan-lahan, sehingga dapat diterima dengan baik. Sekeras apa pun hati manusia dapat luluh karena akhlak baik dan suri tauladan yang mulia.

Dalam sejarah, setelah Rasulullah menerima wahyu kedua yang menjelaskan tugas atas dirinya, mulai lah beliau secara sembunyi-sembunyi menyeru keluarganya yang tinggal dalam satu rumah dan sahabat-sahabat terdekat, seorang demi seorang, agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah Yang Maha Esa. Mula-mula iman kepadanya Siti Khadijah, lalu Ali bin Abi Thalib dan Zaid bin Haritsah. Setelah itu, beliau menyeru Abu Bakar Siddiq, Ia pun beriman. Dengan perantara Abu Bakar banyak orang-orang terdekat yang masuk agama yang dibawa Muhammad. Mereka digembleng dan mendapat pelajaran tentang agama Islam dari Rasul yang tersembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam dalam kota Mekkah. Tiga tahun lamnya melakukan da’watul afrad kemudian turun ayat yang menyerukan agar nabi berdakwah dengan terang-terangan sebagaimana surat Al-Hijr [15]; 49, “Maka jalankanlah kepadamu dan berpalinglah dari orang-orang musyrik” (Soenardjo, 1999: 57).

Demikian itu, proses kedatangan Islam sangat penuh lika-liku dan hambatan yang keras dari kalangan masyarakat Arab saat itu yang kurang yakin dan tidak mengenal Islam. Masyarakat Arab saat itu tidak segan-segan membunuh setiap orang yang mengeluarkan kata “Islam” pada telinganya.

Hal ini terlihat, setelah orang-orang Quraisy mendengar gerakan Islam serta mendengar mereka dengan nenek moyang mereka dibodoh-bodohkan dan berhala-berhala mereka dihina, bangkitlah kemarahan mereka dan mulailah mereka melancarkan permusuhan terhadap Nabi dan pengikut-pengikutnya. Banyaklah pengikut Nabi yang kena siksa di luar peri kemanusiaan, terutama sekali pengikut dari golongan rendah.

Ada beberapa faktor yang mendorong orang Quraisy menentang Islam dan kaum Muslimin, antara lain: Pertama, persaingan berebut kekuasaan. Menurut suku Quraisy, tunduk kepada Muhammad sama dengan tunduk menyerahkan pimpinan atau kekuasaan kepada keluarga Muhammad, Bani Abdul Muthalib. Mereka tak dapat membedakan kenabian dan kekuasaan. Kedua, ajaran perasamaan hak dan derajat yang dibawa Islam. Ketiga, taklid kepada nenek moyang (Soenardjo, 1999: 58-59).

Stigma Buruk Atas Islam

Dalam kurun yang amat panjang, kini, masih terdapat orang yang tak mau mengerti tentang Islam meski pun para pemuka agama gencar melakukan dialog-dialog keagamaan yang meliputi lintas agama.

Tapi, tak sedikit kalangan non-muslim menganggap bahwa Islam sebagai agama missionaris, yang menyebarkan agama melalui pedang. Bahkan, pandangan mereka terhadap Islam telah beralih dengan menyetempel Islam sebagai “teroris”. Hal itu, tentu sangat merugikan kalangan Islam, karena kini sebagian orang banyak yang membenci terhadap simbol-simbol keislaman, seperti pemakaian jilbab dan janggut panjang di Eropa dan Amerika yang dianggap sebagai ancaman bagi mereka karena khawatir termasuk jaringan teroris internasional.

Padahal, Islam tak mengenal istilah teroris -yang menebar ancaman dan maut- dan sangat bertolak belakang dengan ajaran Islam. Kiranya, jika stigma seperti itu masih tetap bertahan, maka tidak menutup kemungkianan pergaulan internasional akan tersendat.

Islam sangat menganjurkan toleransi, humanisme dalam sendi-sendi kehidupan serta hak dan martabat manusia sebagai makhluk ciptaan. Apabila benar ketika pasukan tentara “moor” (Afrika-Muslim) menyeberangi lautan dan mendarat di Gibraltar-Andalusia (Spanyol) mengenakan pedang yang menghunus untuk menghalau musuh-musuhnya, maka kemudian pasukan itu telah memberikan sumbangan yang besar terhadap peradaban mereka melalui pencerahan (aufklaerung), memberikan kebebasan terhadap mereka dalam beragama, melepaskan perbudakan serta memberikan layanan pendidikan yang baik. Bahkan menurut Fazlur Rahaman, orang-orang Yahudi merasakan masa keemasannya pada masa Islam berkuasa di Spanyol karena penguasa Islam masa itu memberikan jaminan perlindungan akan hak-haknya.

Islam vs Penjajahan

Kenyataan itu, sangat bertentangan dengan anggapan bahwa Islam berkembang dengan pedang. Anggapan itu lebih kurang laku lagi apabila melihat proses perkembangan masuknya Islam ke Nusantara yang melalui wayang dan penuh toleransi.

Mungkin saat ini kekuasan negara adidaya yang ditumpangi misi agama telah menyebarkan sayapnya melalui senjata pemusnah massal seperti nuklir yang kerap kali menghantam bangsa Palestina, Irak dan Libanon.

Dalam perjalanan sejarah, munculnya kolonialisme dan imperalisme telah menghantarkan bangsa-bangsa seperti Portugis dan Belanda seenaknya mengeruk seluruh harta kekayaan berupa hasil pertanian, rempah-rempah dan sebagainya dari bangsa jajahannya. Bukan hanya itu, pengalaman Indonesia, mereka telah menguras keringat masyarakat dengan menjadikannya sebagai tenaga-tenaga kuli paksa di tanah airnya sendiri.

Kenyataan seperti itu, telah menjadikan masyarkat Indonesia lebih menerima pedagang-pedagang Arab masa lalu yang berlayar ke Nusantara ketimbang orang-orang asing yang hanya ingin berkuasa. Dengan prinsip gold, gospel dan glory bangsa-bangsa kolonialisme menghalalkan segala cara untuk mengeruk kekayaan dan mengedepankan nafsu keserakahan sebagai puncak dari pendewaan terhadap materi.

Sejarah mencatat bahwa Nusantara pernah menjadi tempat berlabuhnya pelayar-pelayar asing (seperti Cina, Arab, India dan sebagainya) untuk melakukan transaksi dan mencari rempah-rempah untuk dibawa ke negaranya atau dijual ke Eropa. Indonesia pernah menjadi tempat transaksi besar-besaran dalam perdagangan bebas lintas negara. Namun, bangsa Eropa tidak memberlakukan hal itu di negaranya, melainkan melakukan monopoli dan menjadikan bangsa Indonesia tetap menjadi petani dan buruh mereka dengan upah yang sangat rendah.

Berbeda dengan pedagang-pedagang Arab yang berdagang dengan etika dan memperlakukan orang-orang pribumi sebagai partner yang baik. Pedagang-pedagang Arab memasuki wilayah adat pribumi dengan ramah dan sopan. Melalui perkawinan mereka mampu memasuki lingkungan keluarga masyarakat Indonesia. Sikap toleransi dan suri tauladan para pedagang Arab telah menjadikan penyebaran dakwah orang-orang Arab dapat membeli hati masyarakat setempat. Sehingga bukan hanya rempah-rempah yang sanggup masyarakat Indonesia berikan, tapi “leher mereka serahkan” demi kepasrahan masyarakat yang hatinya telah “lunak” dan kepatuhan terhadap agama para “pelancong” Arab.

“Islam Mukjizat”

Setelah itu, terjadi lah interaksi yang cukup “kental” antara para pedagang Arab dan masyarakat Indonesia dalam akulturasi Arab-Indonesia dan membentuk kebudayaan baru di Nusantara.

Bangsa Arab berhasil melakukan akulturasi dengan bangsa Indonesia misalnya, melalui pendekatan ekonomi (transaksi perdagangan), penghapusan kasta-kasta dan menggantikannya ke dalam derajat yang sama, pendekatan dakwah, ikatan perkawinan dan ajaran-ajaran tasawuf.

Dalam kesejarahan, Islam pernah mengalami kemajuan dan kemunduran. Kemajuan Islam terjadi pada waktu Abbasiah dan Muawwiyah berkuasa. Namun, pada saat Islam mengalami kemunduran, yaitu pada zaman Muawwiah II turun tahta setelah dikalahkan oleh tentara kerajaan Inggris dan Prancis hasil kerjasama ratu Issabella dan raja Ferdinand mereka menguasai benteng terakhir Islam Granada. Selain itu, pasukan Tar-Tar dan Mongol melakukan penyerangan dengan memporak-porandakan Baghdad. Di Negeri Seribu Satu Malam itu, mereka membunuh para fuqoha, ulama dan cendikiawan muslim. Tanpa sedikit pun rasa tega dan belas kasihan, mereka membuat sebuah bentuk menara dan piramid yang terdiri dari kepala orang-orang Islam. Pasukan itu menyembelih hewan tunggangannya sendiri untuk keperluan makannya.

Pada saat yang sama, Islam di Nusantara sedang (malah) berkembang dan satu per satu daerah kekuasaan kerajaan di Indonesia masuk Islam. Banyak raja-raja di Indonesia yang semula memeluk agama Hindu-Budha mulai memasuki agama Islam. Perkembangan Islam di Nusantara ibarat (Islam) “mukjizat”, karena mampu menggantikan kepercayaan-kepercayaan dan agama masyarakat Indonesia yang sangat kuat. Selain itu, pada saat Islam di kawasan pusat-pusat kekuasan Islam berkembang seperti Baghdad, Spanyol dan lain-lain sedang mengalmi kemunduran.

Di Indonesia, saat itu, proses masuknya Islam terhindar dari peperangan yang besar, bahkan interaksi antara penyebar Islam dan masyarakat di Nusantara berjalan dengan cara halus dan baik. Padahal, tantangan penyebaran Islam di Nusantara cukup besar karena masyarakat Indonesia memiliki kepercayaan animisme dan agama Hindu-Budha sangat kuat. Kondisi itu mengingatkan akan awal masuknya Islam di tanah Arab yang kebanyakan menyembah berhala dan kepercayan terhadap nabi-nabi terdahulu. Tapi, mengapa proses interaksi kebudayaan Islam dan Indonesia dapat berjalan lancar di masyarakat Nusatara? Kenyataan bahwa para pendatang Arab itu salah satunya cerdik memadukan kebudayaan Islam dengan kebudayaan tradisional.

Setelah penduduk asli masuk Islam peperangan terjadi bukan dengan masyarakat asli sendiri, melainkan dengan para penjajah asing. Nafsu para penjajah asing untuk menguasai Nusantara dengan cara paksa, serakah dan merampok kekayaan masayarakat telah mengakibatkan perlawanan dari rakyat yang hebat dan tak terelakan.

Genderung perang dari pihak para penjajah telah ditabuh. Kaum pribumi baik dari kalangan pribumi yang masih memegang kepercayaan lama atau yang telah masuk Islam semakin bertambah berani. Bagi masyarakat yang telah memeluk agama Islam, mereka yakin bahwa perang itu bukan sebatas mempertahankan harga diri dan keluarga, tapi tanah air dan agama sebagai jihad fie sabilillaah.

“Dialog Interaksi”

Demikian itu, kiranya perlu ditambahkan bahwa terdapat pembahasan yang jarang terkuak mengenai proses masuknya Islam ke Indonesia atau nusantara yaitu, melalui “dialog interaksi” secara baik yang terdapat dalam kedua kebudayaan Islam dan masyarakat tradisional.

Oleh karena itu, kiranya perlu penyambutan positif terhadap proses “dialog interaksi” yang kini selalu digembar-gemborkan oleh beberapa kalangan mengenai “kebangkitan agama” (religious-vival) terutama Islam dewasa ini. Proses “dialog interaksi” ini dapat mengatasi ketegangan-ketegangan sosial terutama antar-umat beragama agar tercipta sebuah perdamaian.

Samuel Huntington dalam tesisnya Benturan Peradaban (clash civilization) mengatakan bahwa sesudah sosialisme dengan negara sponsornya Uni Soviet runtuh saat perang dunia kedua, musuh besar yang mengancam “dunia” Barat adalah Islam. Benturan peradaban antara Islam dan Barat yang dicetuskan Samuel Huntington tidak lebih sebuah gebrakan kurang kuat sehingga dapat terbantahkan dan tak perlu risau secara serius dengan tercapainya dialog tersebut karena dengan dialog kedua pihak akan saling memahami dan memaklumi dalam satu kesepakatan damai.

Sebaliknya, kehawatiran yang muncul adalah demoralisasi manusia, karena manusia tidak bisa menyeimbangkan antara teknologi canggih dengan kemampuan moral manusia. Bila moralitas tak mampu tercipta, maka manusia berada dalam titik terendah melebihi binatang mana pun.

Permasalahan yang terjadi sekarang bukan tertumpu pada Timur dan Barat, Islam dan Kristen, melainkan perilaku dalam pendekatan dalam pergaulan baik dalam tatanan individu, lokal, regional maupun kancah internasional.

Sebagaimana dalam sejarah, bagaimana bangsa Arab masa lalu mampu membujuk dan melunakan hati masyarakat Indonesia yang kental dengan kepercayaan nenek moyang melalui perdamaian dan akulturasi antara Islam dan tradisi masyarakat dalam penyebarannya ke Nusantara.

Islam bukanlah agama yang memaksakan kehendaknya sendiri dan memburu nafsu serakah, tapi Islam membebaskan dan menghargai kebebasan dalam beragama dan kepercayaan. Hal ini, tersirat dalam al-Qur’an yang artinya, “untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku”.

Kiranya, wacana tentang masuknya Islam ke Nusantara dan perkembangan kebudayaannya masih perlu penelusuran kembali agar setidaknya dapat membuahkan solusi dan relevansinya bagi umat Islam, khususnya di Indonesia, baik teori maupun praktik serta hal-hal yang perlu menjadi teladan dari para penyiar Islam di Nusantara tempo lalu [*] Wallahu’alam


Aksi

Information

2 responses

24 04 2009
ahmad liza

banyak membaca ya biar tulisannya lebih terarah

31 07 2009
dian

THANKS ATAS INFO NYA…
BE THE BEST.OK….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: