“Manusia Kuwulan”

15 11 2007

Ketika bangsa Portugis atau VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) -yang banyak membawa rempah-rempah dari Indonesia untuk dijual mahal di Eropa- pertama kali menjajakan kakinya ke Indonesia singgah di tepi pantai Banten, mungkin mereka sempat istirahat sambil mencicipi manisnya buah kelapa.
Pohon kelapa jika sering diambil buahnya secara tidak teratur -misal sering diambil buah yang muda- dapat mengakibatkan pertumbuhan buah kurang baik. Dengan perlakuan itu, buah kelapa muda akan terihat tua, dan begitu sebaliknya buah kelapa tua ketika dikupas akan terihat muda.
Namun, bila pengambilannya secara tertaur (tidak secara acak), terlihat di atas pohon buah muda akan tetap pada posisi di bawah kelompoknya (Sunda: ranggeuy atau manggar), sedangkan kelapa paling muda (cengkir) berada pada posisi paling atas dekat kembangnya. Demikian itu, seseorang tidak akan bingung untuk mengambil kelapa yang layak dan tidak layak untuk dimakan atau diminum karena terdapat kelapa hijau (buah muda) yang tanpa daging-hanya berisi air. Buah kelapa yang disebut terakhir biasanya dinamakan buah kelapa kuwulan. Kelapa kuwulan biasanya jatuh sebelum saatnya dan isi daging memburuk.
Dengan memperhatikan kondisi bangsa ini, banyak orang-orang yang tumbuh secara tidak wajar dan tak seimbang. Bahkan, dianggap kurang bermutu, persis buah kelapa kuwulan karena manusia tidak banyak “terpupuk” pada masa pertumbuhannya. Jika perkembangan manusia dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan generasi berikutnya akan mengalami “pembusukan”. Seperti halnya perawatan buah kelapa yang kurang baik dan tidak terurus akan menghasilkan kelapa. Lama-kelamaan buah kelapa hanya menjadi makanan kelelawar atau jatuh dalam kondisi memburuk.
Ada semacam sebuah kesengajaan, baik muncul dari individu itu sendiri atau orang lain ketika manusia tidak berusaha untuk memperbaiki dirinya sehingga hidup manusia statis tidak ada perubahan. Celakanya, kesengajan itu dibuat sedemikian rupa oleh orang lain, baik secara langsung atau tidak (struktural) yang dapat berakibat manusia menjadi “mandul” untuk berkreasi atau beraktifitas.
Terdapat di antara orang yang berstatus sosial tinggi enggan bergaul dengan masyarakat bawah, sehingga terkesan meraka lebih tinggi statusnya atau derajatnya daripada orang yang hidup serba kekurangan. Ketimpangan antara masyarakat serba kecukupan (the have) dan masyarakat serba kekurangan (the have not) dapat mengakibatkan terjadinya sebuah peragian (pengawetan) dalam penuaan dini usia manusia.
Dalam suatu kesempatan, ketika penulis tinggal di Tanjung Sari Sumedang selama dua tahun, memperhatikan seorang bapak berusia sekitar 40 tahun memiliki seorang puteri yang sangat cantik. Gadis itu mempunyai cara berpakaian yang rapi, kegiatannya aktif, gaya berbicara halus, berpikirnya sangat brilian. Penulis sempat kagum melihat gadis, sehingga terpikir bila selepas lulus SMA, gadis itu akan sanggup melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika nanti kuliah, Ia akan mendapatkan gelar sarjana yang lengkap; baik, pintar, dan cantik.
Sayang, orang tua gadis yang kerja sebagai petani itu lebih mementingkan ladang sawahnya daripada pendidikan anaknya. Ia terkadang berpikir lebih baik anaknya itu tak pergi ke sekolah daripada kehabisan uang untuk membeli pupuk obat-obatan sawah atau untuk membeli pakan burung kesayangannya. Pada tahun 2002 penulis sering berbincang-bincang dengan orang tua itu. Selama berbincang-bincang dengannya, tak satupun pembicaraan menyinggung tentang pendidikan anak-anaknya, tapi kebanyakan membahas tentang bagaimana cara hidup sebagai petani.
Dari kasus itu, timbul pemikiran, kok masih ada orang tua di zaman sekarang yang berpikir ke belakang -berpikir 1945-tahun-an, sehingga anaknya tak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Kini, gadis anaknya itu bekerja di sebuah perusahaan swasta menjadi buruh pabrik. Kasus itu, merupakan salah satu dari sekian banyak orang tua yang mengabaikan pendidikan anak-anaknya. Sehingga perkembangan pemikiran anak menjadi pasif di usia muda.
Kini, manusia sudah melampaui batas kewajaran dengan adanya peperangan yang menelan ribuan korban jiwa melayang dengan satu partikel terkecil -atom- saja. Perkembangan manusia sudah dipercepat dan diperhambat secara struktural hingga orang berusia tua terkadang tersisihkan dengan kehadiran bocah-bocah “pendatang baru” yang terpaksa menjadi tua.
Persis kelapa di atas yang tak terawat secara seimbang dan intensif. Kelapa muda akan jatuh sebelum (waktunya) tua. Ketika dikupas, kelapa tampak memburuk (istilah Sunda: kuwulan). Begitu pun kelapa yang sudah matang dengan ciri umum berkas hitam di bawah buah, dan bila dikupas, kelapa muda itu tak mempunyai isi -hanya cairan saja- dan kurang terasa manis apabila diminum.
Demikian juga manusia apabila tak tumbuh secara wajar (seimbang) hanya akan menghasilkan manusia-manusia kurang bermutu (kuwulan). Manusia yang tak “dipupuk” sejak dini akan menghasilkan ‘kemandulan” pada generasi berikutnya. Bahkan, dapat mengakibatkan “kematian”, karena membiarkan manusia menjadi “busuk”. Wallahu A’lam Bisshawab[Najmudin]


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: