Lebaran dan Perubahan

15 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Dari lubuk hati yang terdalam, kata “maaf” sudah menunggu terlontar melalui mulut manusia di Hari Raya. Di hari itu, setiap pemeluk agama Islam di berbagai penjuru dunia akan saling mengucapkan maaf lahir dan batin.
Kata “maaf” merupakan istilah yang tak asing bagi umat manusia. “Maaf” telah mencebur dalam sebuah tradisi untuk mencari nilai kemanusiaan. Bahkan sebagai ungkapan penyesalan, kata maaf mampu memasuki ruang publik dan titah agama untuk memohon ampunan kepada Tuhan. Kita tak ragu lagi karena Tuhan Maha Pengampun.
Menurut Hanah Arendt, manusia sebagai makhluk biasa memugkinkan untuk memunculkan pengampunan atas apa yang dilakukan seseorang demi manusia itu sendiri. Kata “maaf” tidaklah sendirian, melainkan saudara kembar dengan kata “memaafkan” yang saling bersusulan. Setiap manusia tanpa terkecuali mempunyai peluang untuk maaf-memaafkan.
Namun, tahun demi tahun moralitas bangsa semakin menurun. Jangan-jangan, kata “maaf” pada lebaran tahun sebelumnya sudah kabur maknanya? Di bulan Puasa Ramadhan ini saja pejabat peradilan masih sempat berani melakukan korupsi, jaminan keselamatan tenaga kerja Indonesia belum dapat teratasi di luar negeri, pencemaran lingkungan belum juga tuntas, sementara praktek kotor mafia bisnis tetap dilakukan. Padahal, amalan-amalan ibadah yang merupakan kewajiban lainnya telah dilakukan, tapi praktek kotor seperti korupsi jalan terus.
Di Hari Raya umat Islam saling memaafkan untuk mendapatkan kembali dirinya dalam keadaan fitrah, namun ketika lebaran usai perbuatan dosa seringkali terulang.
Umat Islam pada hari raya harus mengakui yang kesekian kali kesalahannya dengan meminta maaf, sehingga kata “maaf” sangat bertaburan sebagai permohonan ampunan. Di dalam memori terdapat fokus ingatan terhadap suatu peristiwa atau subjek yang telah memberikan suatu kesan tertentu dalam kehidupan.
Seperti halnya, kasus pada tahun 2006 di saat para tokoh politik yang mengusung beberapa agenda permasalahan bangsa seperti Amin Rais, Wiranto dan Try Sutrisno ketika mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pernah bersiteru terutama Amin Rais dan Sudi Silalahi terkait isu yang menyatakan Amin Rais telah melakukan “fitnah pencekalan” Try Sutrisno dan kawan-kawan ke Istana. Lalu, Amin Rais mencabut rencana tuntutan pencemaran nama baiknya dan menyatakan bahwa “Pak SBY dan Pak Sudi sudah saya maafkan” (Kompas, 22/04).
Kata “fitnah-memfitnah” seharusnya sudah tidak dilakukan lagi oleh para elite di negara ini. Bagaimana mau memulai suatu pekerjaan mulia -membangun moralitas bangsa yang berbudi luhur- jika para elite sudah mempertontonkan bahasa yang tak layak dipergunakan masyarakat? Di saat para elite lantang memperjuangkan pembangunan etika dan moralitas bangsa, namun mereka tak menyadari bahwa perkataannya akan banyak ditiru masyakarakat sebagai contoh tidak baik.
Maaf dan memaafkan memang sudah pantas dilakukan. Kejadian seperti itu mengindikasikan bahwa akuntabilitas para elit terhadap publik mesti terpeliharan dan jangan sampai terulang kembali dalam menatap masa depan bangsa.
Dalam konteks kini, gambaran tentang masa lalu yang buruk telah membuat sisi kehidupan manusia yang amat berharga dan memberikan makna pada sebuah kata “ampunan”.
Kiranya, walau pun kata “maaf” sudah seribu kali terlontar dari mulut seseorang tak akan membuahkan hasil apa pun jika hati yang terdalam tidak mengatakan “ya”. Apabila “maaf” sudah terlanjur keluar, tapi tindakannya sama sekali tidak mencerminkan niat baiknya atau tidak seirama dengan nada getar hatinya, maka “maaf” tidak akan membuahkan makna apa pun. Pribahasa mengatakan bahwa perbuatan luar (dzhohir) merupakan cermin dari dalam (bathin) diri seseorang.

Bukan Sekedar Tradisi

Saling memaafkan bukan hanya sebatas tradisi yang menjadi ritual tahunan, tapi juga untuk mengukur sekaligus mengukir kualitas perubahan diri seseorang dari yang semula buruk menjadi lebih baik di masa mendatang.
Ketika lebaran hanya sebatas tradisi pulang mudik untuk bertemu keluarga atau berjabat tangan antara penguasa dan rakyatnya, maka dosa terhadap sesama mungkin dapat terampuni. Tapi, dosa karena menelantarkan nasib manusia di masa depan dalam kondisi kemiskinan, pengangguran dan kemerosotan moral bangsa masih belum terampuni.
Dalam kondisi seperti itu, agama hanya sebatas hiasan yang tersimpan dalam sebuah lembaga atau masyarkat, bukan menjadi takaran kualitas manusia untuk berusaha menyucikan diri dalam melakukan perubahan mendasar yang semula buruk menjadi baik, korup menjadi bersih, kesewenang-wenangan menjadi demokrasi, kekisruhan menjadi damai dan sebagainya.
Fitrah manusia di Hari Raya merupakan momentum untuk merenungkan nasib sesama dan memperbaiki diri agar mau melaksanakan kebaikan-kebaikan di masa mendatang.
Lebaran bukan hanya “selesai” menyelesaikan suatu pekerjaan atau kewajiban berpuasa. Tapi, lebaran dan puasa selain berdimensi relegi juga berdimensi sosial, budaya dan bahkan politik. Tradisi puasa dan lebaran bukan sekedar momentum kelahiran kembali manusia sebagai individu dengan sifat fitrinya, tetapi juga sebuah bangsa dengan segala kesuciannya sebagai kontrak sosial rakyat dengan pemimpinnya.
Semoga lebaran mengatar rakyat Indonesia sampai di ujung kemenangan. Lebaran menjadi ajang menggalang potensi solidaritas nasional. Melalui halal bi halal, lebaran juga merupakan perhelatan untuk menghalalkan perbedaan, tetapi kukuh dalam satu kebersamaan. Kita tak mengharap lebaran kali ini hampa kemenangan. Kini, apakah kita bangsa ini akan memetik buah tradisi lebaran?


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: