Islam, Eropa dan Intelektual

15 11 2007

Oleh: Najmudin Ansorullah

Umat Islam boleh berbangga akan masa kejayaan yang pernah terjadi sekitar abad 15/17 M di saat Eropa masih zaman kegelapan. Tapi, kini, sebaliknya umat Islam dalam kondisi mengkhawatirkan.

Sejarah mencatat bahwa Islam di Andalusia (Spanyol Islam) telah mepunyai perpustakaan terbesar dunia Cordova di saat Eropa masih zaman “kegelapan”. Banyak ilmuwan Muslim yang lahir di Andalusia menghasilkan karya-karya besar seperti Ibn Hazm, al-Syatibi pengarang kitab al-Muwafaqat, Ibnu Rusyd pengarang Tahafut at-Tahafut dan Bidayat al-Mujtahid, Ibnu Khaldun dengan “magnum opusnya” Muqaddimah dan lain-lain. Di Baghdad, berkumpul para ulama dan ilmuwan dengan bangunan-bangunan peradaban berasitektur tinggi berdiri kokoh, sehingga Baghdad merupakan salah satu pusat peradaban Islam pada masa itu. Begitu juga, pada masa dinasti Fathimiyah di Mesir, walau pun sejarah mencatat Mesir masih terbilang di bawah Baghdad dan Andalusia. Namun, sisa-sisa peradabannya masih dapat terlihat sampai kini seperti masjid al-Azhar dan universitasnya yang dibangun Khlaifah Abdul Aziz. Banyak ulama kenamaan di belahan penjuru dunia, termasuk Indonesia yang lahir dari rahim universitas al-Azhar itu.

Namun, peradaban Islam mengalami pasang surut. Pada saat ratu Issabela (Prancis) dan raja Ferdinand (Inggris) berhasil mengusir pasukan “moor” Islam dan pusat kekuasan di Andalusia akhir abad 16 M, Islam tak mampu mempertahakan kekuasaannya di Eropa. Pada saat itu, kejayaan Islam sudah mulai menurun. Di tambah dengan serangan dari kerajaan Tar Tar dan Mongol yang meluluh-lantakan kekuasaan-kekuasan Islam.

Konon, saat Islam abad 16/17 M meraih kejayaan, bangsa Eropa banyak menimba ilmu terhadap dunia Islam untuk memperdalam ilmu pengetahuan. Sejumlah naskah-naskah dan karya penting Islam berhasil diterjemahkan oleh bangsa Eropa. Eropa berhasil bangkit menuju masa “pencerahaan” (aufklaerung) abad ke 18/19 M. Mereka berhasil menemukan alat-alat mesin seperti James Watt yang menghasilkan mesin uap, menyusul kemudian mesin-mesin industri.

Sementara itu, kondisi Islam di Turki sebagai pusat terakhir kekhalifahan Islam tengah terlena dalam perebutan tahta dan kekuasaannya sehingga umat Islam mengalami perpecahan. Akibatnya, kini, umat Islam harus rela menelan pil pahit dengan banyaknya umat Islam yang mengadopsi sistem-sistem Barat. “Dunia” Barat berhasil mengembangkan sains dan ilmu pengetahuan, sementara Islam hanya mewariskan ilmu keakhiratan (ukhrawi).

Kemajuan Eropa telah mengingatkan umat Islam di belahan dunia bahwa khazanah pengetahuan Islam sangat kaya dan SDA (sumber daya alam) yang melimpah ruah. Bukan hanya itu, bangsa Eropa menggali budaya, tradisi dan pemikiran Islam untuk dikembangkan kembali di Barat sehingga Eropa–termasuk Amerika– mampu mempercantik kota, meningkatkan perekonomian, ilmu pengetahuan dan memenuhi koleksi perpustakaan.

Kini, Barat seakan menjadi pusat peradaban modern dunia menggantikan peradaba Islam. Banyak koleksi-koleksi Islam seperti manuskrip karya ilmuwan Islam yang berada di negara-negara Barat.

Invasi Amerika ke Irak tahun 2003 merupakan kelengahan umat Islam karena Barat berhasil memperkaya koleksi-koleksi peradaban dunia Islam dengan mengangkut karya-karya dan peninggalan Islam masa lalu yang bernilai tinggi di museum dan pusat perpustakaan Irak, karena Irak merupakan negara yang memiliki peradaban tertua dunia.

Kiranya, jika “dunia” Islam miskin akan budaya, SDA dan khazanah ilmu pengetahuan, maka niscaya materi maupun spiritual Islam akan terkuras habis. Tapi, hingga kini, Islam masih dalam keadaan “mulus”. Walau pun karya-karya Islam tersimpan rapi di perpustakaan-perpusatakaan Barat, tapi Islam yang kaya ilmu pengetahuan dan intelektual tidak mungkin musnah.

Kini, apakah umat Islam akan terus terlena dengan kekayaan SDA sehingga hanya menjadi penonton kemajuan bangsa-bangsa Eropa, yang sering meraup keuntungan besar dari negara-negara mayoritas Islam seperti dari hasil menggali minyak bumi. Atau dengan kenyataan itu, “dunia” Islam akan bangkit melawan kemiskinan –ekonomi– dengan mencerdaskan umatnya tanpa merampas dan merusak alam sehingga mampu mewujudkan baldatun thayyibatun warabbun ghafur.

Tampil Paling Depan

Pada tahun 2006 tepatnya Rabu 22 Februari, penulis bertemu teman yang berkuliah di Universitas Damaskus Syiria. Mahasiswa asal Indonesia itu menceritakan pengalamannya, bahwa banyak di antara pelajar Muslim di Eropa dalam mengikuti perkuliahannya sering duduk di kursi belakang, sementara mahasiswa dari kalangan non-muslim tampil di barisan depan. Tidak saja di Eropa, di Timur Tengah seperti Syiria, teman-temanya yang non-muslim selalu tampil di barisan depan, sehingga dosennya bertanya, kenapa kalian yang Muslim selalu tampil duduk di belakang?.

Kemudian ketika mahasiswa berbaris memasuki perpustakaan nasional Damaskus –yang lengkap koleksi karya-karya Islam klasik– berbaris memasuki Perpus, teman itu melihat orang-orang non-Muslim berada di depan, sementara pelajar-pelajar Muslim masih di belakang.

Dalam hal ini, bukan Islamnya yang terbelakang, tapi budaya seperti itu yang perlu dirubah, karena pengalaman itu menunjukan bahwa khazanah Islam akan selalu menarik perhatian bukan saja dari kalangan Islam, tapi kalangan non-Mulim pun masih memerlukan pengetahuan dari Islam. Terlepas dari tujuan meraka memahami Islam, kalangan non-Muslim akan bersaing untuk tampil terdepan dalam ranah pengetahuan keislaman.

Bahkan teman itu menuturkan tentang salah satu perpustakaan bawah tanah di Prancis, bahwa di perpustakaan itu terdapat koleksi kitab-kitab klasik karya besar para intelektual Islam. Tapi, petugas tidak mengizinkan siapa pun masuk termasuk kalangan Islam yang hendak melihatnya. Bagi kalangan Islam yang mau meminjam karya-karya itu harus memberikan atau meminjamkan naskah-naskah asli sejarah bangsanya sendiri.

Apabila melirik masa lalu peradaban Islam, kenyataan itu sulit diterima, karena Islam ibarat mengalami “miskin pengetahuan”. Oleh karena itu, kini umat Islam harus menerima beberapa konsekuensi: Pertama, umat Islam tetap pada optimisme ilmu pengetahuan Islam tanpa pengetahuan Barat. Kedua, berusaha “berpikir ganda” dengan mempelajari ilmu pengetahuan Islam bersamaan dengan pengetahuan Barat. Meski kenyataannya ilmu-ilmu keislaman dapat diterima dari kalangan ilmuwan non-Muslim, sehingga menghasilkan pemikiran baru Islam seperti sekularisme atau liberalisme. Ketiga, jika memang Barat telah “mencuri ilmu pengetahuan Islam” masa lalu, maka umat Islam harus mampu memfilter pengetahuan Barat yang tidak sejalan dengan Islam. Wallahu‘alam

* Pemerhati masalah sosial


Aksi

Information

One response

16 04 2008
iman

ass..koleksi2 yang di simpan di perpust islam???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: