Belajar Pada Ketulusan

15 11 2007

Oleh Najmudin Ansorullah*
“Apabila saya diberi kesempatan belajar dan memiliki waktu luang, maka saya ingin melanjutkan niat untuk belajar kepada seorang tua yang dalam keadaan sakit”.
Pernyataan itu dikatakan seorang ustad muda pimpinan Popes Nurul Hidayah Situdaun Bogor, Furqon Faruq (24 tahun) pada Mei (04/05) lalu, ketika saya terlibat dalam sebuah percakapan menarik dengannya.
Maklum, setelah ayahnya meninggal, ustad muda itu merupakan anak pertama yang menggantikan ayahnya mengelola pesantren, sehingga kelihatan sangat sibuk. Banyak hal dibicarakan, tapi ada satu hal menarik untuk direnungkan, ketika ustad itu menceritakan orang tua renta yang uzur usia, tapi masih giat melakukan aktivitas keagamaan, seperti pengajian rutin. Padahal, kesehatannya sudah terganggu berbagai penyakit.
Pernyataan itu, telah membuat dahi saya mengkerut. Sengaja pernyataannya tidak dipotong agar kelanjutannya dijelaskan. Padahal, secara akal sehat, pikiran saya justru kalau yang diberikan kesempatan belajar banyak itu terjadi pada saya, maka kesempatan itu akan dipergunakan untuk belajar kepada Anda yang usianya masih muda, cerdas, sehat, segar bugar dan memiliki semangat tinggi. Biasanya, meski anak muda sering bertindak emosi dan ego yang tinggi, justru kalau anak muda itu cerdas mungkin akan menguras ilmunya yang ada dan dapat menghilangkan ketegangan, sehingga pembelajaran akan dinikmati secara santai.
Sang ustad berpikiran lain, “orang tua akan menyumbangkan ilmu dan segudang pengalamannya dari yang terpahit sampai yang dianggap paling berguna secara jujur, tulus dan benar, katanya. Ia melanjutkan, dalam keadaan sakit, orang tua yang berilmu luas akan sering menghindar dari perkataan dusta, berkilah atau perbuatan tidak terpuji seperti korupsi. Ia tidak akan berpikir bagaimana cara menarik masa, memperbanyak uang dan menyembunyikan keadaannya. Bahkan, orang tua berpengetahuan luas dalam keadaan sakit tidak akan berpikir bagaimana anak cucunya besok dapat makan, karena dalam benaknya mungkin terbesit bagaimana kondisi masyarakatnya yang masih suram dan generasi yang akan datang. Pada akhirnya, bagaimana ia harus mempertanggung-jawabkan perbutannya dihadapan Pemiliknya (Tuhan), begitu papar ustad muda.
Pada umumnya, manusia tidak akan membawa “secuil” apapun, kecuali kain kafan ke liang kubur berukuran sempit untuk menemaninya dalam kesunyian malam dalam bawah tanah. Bagi orang berilmu luas (arif), terlebih dalam keadaan sakit, tentu pikiran itu telah ada bahwa harta, tahta dan wanita tidak mungkin dibawa ke liang kubur dan tidak akan menolongnya ketika malaikat maut menjempuntnya. Justru ilmu bermanfaat, pribadi yang bijak, kejujuran, ketulusan dan kedermawanan semasa hidupnya yang akan menolong dia kelak di hadapan Tuhan.
Lalu, bagaimana dengan anak muda apakah memang suka berbohong, berdusta berbuat menyimpang?, bukanlah akalnya lebih cerdas dan fisiknya masih segar bugar di banding orang tua yang sakit?, bukankah anak muda sering belajar pada orang tua?, atau apa sudah saatnya orang tua menimba ilmu pada anak muda?
“Bangsa yang Sedang Sakit”
Perilaku orang tua dapat mempengaruhi sikap anak, karena sikap orang tua dapat ditiru anaknya dan jika terus berlangsung, maka begitu seterusnya sampai cucu, cicit dan “saeuneung-euneung”. Jika tidak diajarkan sikap kritis, maka anak akan belajar pada orang tua dengan cara meniru apa yang baik dan yang buruk.
Kenyataan yang terjadi di Indonesia, semakin orang itu tua, semakin ia ingin ditiru oleh generasinya. Masalah itu masih dalam ambang kewajaran. Tapi, bersaman dengan itu, semakin tinggi kedudukannya, bahkan semakin tinggi ilmunya, maka semakin ingin mempertontonkan jabatannya yang tinggi, semakin ingin memperoleh nama di mata publik dan semakin ingin memiliki pengaruh luas di masyarakat, dan keinginan-keinginan lainnya yang pada akhirnya dia diperbudak keinginannya sendiri akan hal-hal yang dianggap meraup keuntungan, padahal kesulitan telah melilitnya. Sebenarnya seseorang memiliki keinginan itu sah-sah saja, tapi bila keinginan itu telah mengakibatkan kesulitan (bangsa), sama halnya orang tua telah menjerumuskan anak yang lahir dari rahim bangsa Indonesia.
Padahal, sifat keinginan yang terlalu besar itu merupakan sifat yang semestinya dimiliki anak muda. Kenapa tidak pada anak muda saja?
Mungkin belum ada penelitian yang menyebutkan, bahwa kebanyakan korupsi-korupsi yang terjadi di negeri ini mayoritas dilakukan oleh orang-orang tua, sehingga anak-anaknya pun banyak makan uang haram. Mungkin, ada catatan dalam sejarah kelam Indonesia bahwa korupsi terbesar dilakukan oleh orang tua, karena indikasi mengarah ke situ. Maka, pantas bangsa ini banyak tertinggal dari negara-negara lain, karena berat langkah memilkul beban utang negara yang disebabkan korupsi.
Entah penyakit “pikun”, “rabun ayam”, “osteoporosis” atau sebangsanya jika melihat orang-orang tua Indonesia yang masih terlihat melakukan itu, padahal sangat kuat ekonominya. Semestinya jika mengikuti falsafah padi, semakin tua seseorang, maka semakin merendah diri, jujur, tulus terbuka.
Kesehatan atau Kesetanan?
Ada peribahasa kuno, men sana in corpore sano; dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang (juga) sehat. Sementara itu, banyak orang gila lebih kuat fisiknya tertimpa panas dan hujan tanpa berbusana di jalanan. Apakah itu berarti tubuh bangsa yang baik akan menjadi jaminan bagi jiwa bangsa yang baik pula?. Peribahasa ini dikenal juga dalam peribahasa Arab, fi jismi al-salim, al-aqlu salim; di dalam tubuh yang selamat terdapat akal yang selamat. Jadi, bukan hanya sehat. Bagaimana anak muda Indonesia?
Mungkin terlalu dini untuk menilai Indonesia bebas dari korupsi. Karena itu, jangan menilai bahwa anak muda sekarang sudah memasuki babak baru untuk “menertibkan” orang tua agar terhindar dari (penyakit) korupsi turunan, atau menggantikan menjadi koruptor baru (the new corruptor era). Bahkan di Indonesia, sebagian menilai korupsi sudah memiliki akar “budaya” yang kuat. Jangan heran, jika ada anak muda muncul menjadi pengganti orang tua yang koruptor dan terlilit masalah utang.
Ketika para orang tua memiliki kemampuan lebih dalam ekonomi, pengetahuan dan kedudukan, ternyata kelebihannya tidak digunakan untuk masyarakat. Kondisi itu telah memprihatinkan bangsa ini, karena bukan lagi terjadi “menabrak akal sehat”, tapi akal sehat sudah terlanjur dikuasai sifat “setan” (kesetanan). Selamatkanlah “akal sehat” yang tergeletak “di jalan” agar bersikap jujur, tulus dan menjauhi hal-hal buruk untuk keselamatan bangsa.
* Penulis pemerhati masalah-masalah sosial


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: