Transformasi Budaya dalam Bahasa

15 11 2007

Oleh Najmudin Ansorullah*

Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan “mematikan” budaya bangsa.
Kepunahan bahasa?
Banyaknya variasi penuturan bahasa daerah tertentu disebabkan terjadinya perbedaan budaya yang cukup kuat. Namun, menurut Prof. Dr. Arief Rahman dalam penelitiannya, di Kalimantan, misalnya, satu dari 50 bahasa tak lagi digunakan. Di Sumatera, dari 13 bahasa dua di antaranya kritis dan satu punah. Di Sulawesi, satu dari 110 bahasa telah lenyap, dan 36 dalam kondisi terancam. Di Tomor, Flores Bima dan Sumba, tercatat 50 bahasa masih bertahan, tapi delapan di antaranya terancam. Di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, 56 di antaranya hampir punah. Sementara itu, di Jawa tidak mengalami kepunahan (berbagai sumber).
Sungguh ironis, ketika daerah-daerah yang masih terpelihara dan sangat potensial dalam perkembangan kebudayaannya justru bahasa daerahnya terancam, bahkan sebagiannya punah. Mengapa menurut Prof Dr. Arif Rahman (Kompas, 22/5) di Jawa tidak? Bukankah institusi-nstitusi pendidikan, khususnya sekolah sebagai lembaga formal yang berwenang melaksanakan proses transformasi pengetahuan dan teknologi atau arus globalisasi dituduh sebagai tempat dimulainya pengikisan budaya daerah secara sistematis? Sementara itu, hampir semuanya tersedia di Jawa.
Penelitian yang dilakukan salah satu dosen STISI Bandung (maaf lupa namanya) dengan mengacu pada bahasa dalam Pantun Bogor, bahwa di Bogor Jawa Barat sekira tahun 1990-an bahasa asli daerah hampir sudah tidak bisa ditemukan. Secara geografis, Jawa Barat memiliki kedekatan dengan Jakarta yang nota bene bergaya hidup modern, karena itu “berseliweran” bahasa dan budaya antara kota dan desa.
Wajar saja, apabila laporan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa volume migrasi ke Jawa Barat mengalami peningkatan. Tahun 1980 jumlah migrasi seumur hidup di Jawa Barat sebanyak 963.372 orang. Tahun 1990-an mengalami peningkatan mencapai 2.408.626 orang. Kemudian, tahun 2000 meningkat sebanyak 3.271.882 orang (PR, 29/08/2006).
Selain itu, jika dihubungkan dengan penelitian Imelda (Inovasi, Vol. 8/XVIII, 2006) bahwa di wilayah Indonesia, hilangnya bahasa secara tiba-tiba mungkin saja terjadi karena wilayah Indonesia rawan bencana alam (tempat pertemuan tiga lempengan dunia: Eurasia, Indo-Australia, dan lempeng Pasifik). Sepanjang tahun 2000-2006, Indonesia setidaknya mengalami tujuh kali gempa bumi dahsyat (lebih dari 6,2 pada skala Richter) dan dua kali tsunami. Salah satunya termasuk dalam kategori gempa terdahsyat di dunia. Gempa dan tsunami di Aceh berkekuatan 9,3 skala Richter yang memicu tsunami dengan ketinggian 10 meter, dalam catatan Owen (National Geographic, 2005) telah memakan korban meninggal dunia mencapai jumlah 240.000 orang di Aceh dan Nias. Bencana lain ialah gempa di Yogyakarta dan gempa tsunami di Selatan Jawa. Dua bencana yang terakhir ini juga menewaskan ribuan orang.
Dari jumlah korban tersebut muncul sebuah prediksi mengenai hilangnya suatu desa dan penduduknya, terutama pada desa yang berada di sepanjang pantai yang tersapu tsunami saat gempa dan tsunami Aceh. Menurut laporan Cahanar (2005: 215) bahwa 70% penduduk kota Calang tewas dalam bencana tersebut, yang menurut data statistik Pemerintah Daerah NAD dari 86.000 jumlah penduduk yang tersisa hanya 25.800 orang di Kota Calang.
Kejadian ini juga secara otomatis “dapat” berarti hilangnya keanekaragaman bahasa di Indonesia. Hilangnya bahasa berarti hilangnya budaya bangsa yang merupakan kerugian tak terhitung nilainya.
Meski data-data di atas memiliki perbedaan pernyataan dalam melihat kondisi bahasa di Jawa, tapi hal itu dapat menunjukan sebaliknya bahwa problem bahasa di Jawa sangat kompleks dan seharusnya mudah terancam. Kiranya, pernyataan Prof. Arief Rahman (Kompas, 22/05), bahwa di Jawa tidak terjadi kepunahan atau penelitian Imelda (2006), yang menyatakan bahwa jumlah penutur bahasa-bahasa nusantara semakin ke Timur semakin sediki perlu ditinjau ulang.
Meski data-data yang disajikan kedua pakar tersebut cukup argumentatif, tapi bukan berarti data-data itu sudah dianggap final. Kemungkinan kepunahan bahasa bisa saja terjadi karena masyarakat sudah sekian lama melunturkan budayanya. Dengan melihat salah satu sisi dalam pemakaian “nama” dan gelar kepemimpinan saja dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya.
Misalkan, bahasa Sunda yang memiliki berbagai dialek dan susunan kata bahasa kerap kali dikaburkan penuturnya dengan objek atau subjek yang berbeda. Istilah “abah” sering ditujukan pada kakek. Padahal, kata “abah” adalah kata serapan dari bahasa Arab yang ditujukan untuk orang tua (bapak), yaitu “aba” atau “abun”, “ya’ba”, “abah”.
Di Tasikmalaya, misalnya, istilah “abah” ditemukan “abah sepuh” (bapak tua) dan “abah anom” (bapak muda). Sementara itu, di Banten lebih menggunakan “bapak kolot” (kakek). Kiranya, penuturan kata seperti itu dalam masyarakat jawa bukan dilihat hanya faktor usia, tapi dinisbatkan kepada orang-orang yang memang “dituakan” masyarakat, misalnya karena menjadi panutan.
Berbeda dengan kata “abu” (bukan nama seseorang) yang bersinonim dengan kata “embah”. Di Bogor, kata “abu” ditujukan untuk perempuan yang sudah tua (nenek). Penuturan seperti itu mungkin sudah menyalahi aturan bahasa, tapi itulah kenyataannya. Seperti halnya dalam panggeugeut (bhs Sunda), nama “Muhammad” menjadi “Mamat” (kadangkala Memet) yang dilihat dari maknanya akan terlihat jauh. “Muhammad” artinya “terpuji” berarti pula diambil dari nama nabi, sedangkan “Mamat” artinya “mati”. Dilihat dari akar bahasanya (bahasa Arab), sebenarnya kata “umi” dan “mamah” memiliki persamaan yang berarti “ibu”. Kata “ibu” bisa juga penyimpangan dari kata “abu”, begitu seterusnya.
Itulah fakta kerancuan bahasa yang terjadi di sekitar kita pada umumnya. Dan apabila dikatakan telah terjadi kepunahan, sesungguhnya telah lama terjadi. Pergaulan masyarakat Indonesia dengan suku-suku bangsa dan agama di dunia masa lalu telah mengakibatkan masyarakat banyak menyerap bahasa Asing ke dalam bahasa sehari-hari, termasuk untuk identitas diri. Misal, karena masuknya (para pedagang Arab) Islam abad ke-9 H/14 M, masyarakat banyak mengubah nama ke-Arab-arab-an.
Oleh karena itu, mengapa harus phobia dengan kehadiran bahasa-bahasa asing kalau memang budaya masih tetap dipertahankan? Atau apakah ada ketidakberesan dalam budaya kita?
Meski masyarakat masih banyak menggunakan bahasa daerah dalam penggunaan nama, tapi banyak yang mengkombinasikan bahasa daerah dengan bahasa asing, karena pengaruh asimilasi dan akulturasi budaya masyarakat dengan bahasa daerah lain atau bangsa asing. Penyerapan bahasa seperti itu berlanjut sampai sekarang, sehingga secara anekdot mungkin terjadi peranakan suku Sunda dan Rusia melahirkan nama Cecep Gorbachev, karena sampai kini banyak orang menyerap bahasa asing ke dalam bahasa daerah atau bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah yang lain, seperti penggunaan nama Andi dari bahasa Sulawesi diserap ke dalam bahasa Jawa.
Memang tidak ada hukum yang melarangnya, tapi persoalannya apabila bahasa yang kita pergunakan sudah tidak sesuai dengan (makna) budaya kita, sehingga akan berpengaruh dalam pensistematikaan bahasa ke dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini akan semakin parah apabila penggunaan bahasa asing itu sudah dianggap gengsi (vrivillege), modern dan sebagainya dan menganggap kuno bahasa dan budaya lokal. Hal ini, tentu memperkeruh budaya bangsa dalam berbahasa atau “budaya bahasa”. Di satu sisi, bahasa asing dianggap penting dalam pergulatan internasional (baca: arus globalisasi). Di sisi lain, penyerapan bahasa asing malah dianggap memperkeruh budaya bangsa.
Apa yang dimaksudkan di atas adalah agar penutur bahasa mampu membawa citra budaya bangsa yang baik. Lebih jauh, karakter budaya lokal harus mampu menghadirkan sosok Indonesia yang lebih bermartabat di mata internasional. “Biarkan lauk-pauknya dari luar (negeri), tapi nasinya tetap citra khas daerah (Indonesia)”. Artinya, bahasa asing boleh dipelajari di berbagai lembaga, instansi dan sebagainya dalam menjawab perubahan zaman, tapi bahasa dan budaya daerah tetap menjadi pokok yang dianut bangsa kita”.
Dengan demikian, tidak akan ada phobia tentang kepunahan bahasa daerah yang berarti pula punahnya budaya dan pada akhirnya kepunahan bangsa. Pandangan kehawatiran kepunahan bahasa kiranya masih abstrak –hanya dari beberapa sudut.
Tatkala bahasa yang indah tidak digunakan dengan baik, seperti “nama” indah dipergunakan penuturnya dengan banyak melakukan kejahatan, mungkin lebih baik nama (maaf) Bagong Suyatno yang prikemanusiaan dari pada Arif bin Bijak, tapi “kepribinatangan”.
Masalah ini sebenarnya merupakan masalah yang harus dilihat secara terintegrasi (seperti integrasi budaya-bahasa) dan menyeluruh, karena bahasa merupakan hasil proses yang amat panjang dari masyarakat.
Bahasa dan kemajuan budaya
Seandainya benar bangsa Eropa pada masa pencerahan (aufklaerung) telah melakukan “penterjemahan” besar-besaran atas karya agung orang-orang Islam di dunia Timur, Jepang mungkin negara pertama di dunia yang mampu menterjemahkan kembali bahasa Barat tanpa meninggalkan budaya dan bahasanya, sehingga dapat sejajar dengan negara-negara Barat.
Indonesia? Dari satu sudut memang mengalami mental atas penjajahan orang-orang Barat, sehingga bahasa Inggris dianggap bahasa kafir oleh kalangan pesantren. Tapi kemudian, banyak disadari justru kekuatan lokal akan mampu membawa kemajuan dan merupakan kekuatan bangsa, termasuk budaya dan bahasa masyarkat.
Konon menurut Cak Nur dalam Teologi Industri angka nol sebenarnya berasal dari Indonesia yang pada masa kerajaan Sriwijaya dibawa pelajar India, kemudian dipatenkan oleh orang-orang Arab.
Dibandingkan Jepang, Indonesia lebih banyak budaya dan bahasanya, tapi pelestarian budaya tidak serta merta dikembangkan melalui kesadaran masyarakat dalam berbahasa. Padahal, bahasa adalah cermin budaya masyarakat. Maka, wajar ketika bahasa daerah kurang dipergunakan diperkotaan atau dalam lingkup nasional, karena masyakarat seakan tidak diberi “ruang” untuk “percaya diri” dalam menuturkannya. Selama ini, penuturan bahasa masih dilatarbelakangi “primordialisme” semata dan belum disertai “ruang” untuk menuturkan bahasa dengan bebas.
“Sensor” atas pemberitaan di berbagai media juga merupakan cermin dari pengekangan akan berbahasa. Bahkan, di berbagai media masa terlihat bahasa mengikuti trend pasar. Trend itu, terlihat juga di Indonesia ketika bahasa Jepang sudah menjadi pilihan paforit para pelajar yang kursus bahasa-bahasa Asing, karena tawaran bursa kerja yang menggiurkan. Maka, tidak heran jika lembaga-lembaga kursus memberikan tarif berbeda dalam penawaran program bahasa.
Pengekangan bahasa
Secara tidak disadari pengekangan bahasa sudah semakin kuat, termasuk bias agama. Pemakaian kata “puasa” dianggap masalah, karena itu dipakai kata “shaum rhamadan” dan membenci pemakaian kata “puasa”, “anda” dengan “antum”, “saya” dengan “ana”, “saudara-saudari” dengan “ikhwan-akhwat”, “siswa” dengan “murid” dan lain-lain.
Di negara-negara Barat (baca: Amerika dan Eropa) pengekangan terhadap bahasa malah dicampuri ideologi dan agama. Nama-nama orang Muslim banyak dicurigai memiliki keterkaitan dengan klaim teroris, sehingga terjadi tindakan sweeping dan diskriminasi terhadap pendatang Muslim. Bahkan, di negara mayoritas Muslim sekalipun isu ideologi dan agama sering dikaitkan dengan bahasa. Di negara Turki, kata-kata “bernuansa” Islam seperti “khilafah” atau bahasa-bahasa agama yang dijadikan simbol seperti pelarangan memakai jilbab di parlemen dilarang keras oleh negara.
Demikian di Indonesia, pengekangan bahasa atas nama agama sering terjadi seperti karena isu sekulerisme tanpa terlebih dahulu mengerti bahasa yang sedang dipergunakan. Dengan melihat pengalaman Jepang, apakah tindakan itu dapat menghambat kemajuan?
Seiring perkembangan zaman dan otonomi daerah (Otda), bahasa nasional dan bahasa daerah akan menghadapi berbagai perubahan. Demikian itu, seluruh element masyarakat termasuk pemerintahan dituntut mampu mengembangkan budaya dan melestarikan bahasa dan budayanya itu dalam menyeimbangkan arus perubahan [] Wallahu A’lam
* Pemerhati budaya dan bahasa tinggal di Bogor


Aksi

Information

8 responses

30 11 2007
muphty

bahasa merupakan jembatan antara budaya dan peradaban.

artikel yg menarik

24 05 2008
kamil

Memang besarnya sebuah bangsa karena bahasa. dan bahasa itu tidak lepas dari pengaruh geografis dan budaya.

13 07 2008
respati

Kayaknya ada beberapa hal yang harus dipahami lagi deh sebelum membuat artikel. Risih membacanya!

6 09 2008
yovie

Terrific Article!
Tapi saya ingin menambahkan satu kasus yang mungkin bisa anda kaji, yaitu kepunahan bahasa Jawa di Jawa sendiri. Dengan adanya perkembangan pendidikan yang secara tidak langsung mewajibkan seseorang untuk menguasai bahasa internasional, bahasa Inggris, maka pemerintah kota/ kabupaten, propinsi, dan pusat tentunya telah mulai mengenalkan masyarakat pada SBI (Sekolah Bertaraf Internasional).Adanya SBI yang memaksa siswa untuk berkomunikasi baik aktif ataupun pasif dengan bahasa inggris, tidak menutup kemungkinan bahasa lokal, khususnya bahasa Jawa, akan tergeser. Siswa dari suku Jawa, saat ini, kurang begitu mengenal bahasa Jawa. Mereka telah dibentuk oleh sistem untuk selalu berusaha menggunakan bahasa Inggris.

Bahasa lokal sudah tidak populer?
Dengan bahasa lokal, manusia tidak bisa survive?
Bahasa VS uang?

13 11 2008
akmal

gimana cara kongkirit melestarikan bahasa daerah ya?

11 09 2009
Zulherman

Terima kasih tulisannya, bisa dijadikan bahan makalah kuliah…
Semoga berkah.

14 07 2010
ahmad ihya ulumuddin

gak nyambung blazzzzz

28 10 2010
annisa

bisa jadi referensi makalah saya. artikel yang hebat. terima kasih

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: