Pembuka, Sekedar Menghargai Tulisan

25 08 2007

nulis.jpgKonon, Imam Syafi’i (150 – 204 H) pernah merasakan kesulitan untuk memelihara segudang tumpukan kitab di kamarnya, sehingga beliau ingin melenyapkan setiap tulisan kitab dan memindahkannya ke memori otak dan hatinya. Kemudian, Imam Syafi’i memasuki kamar dan menghapal seluruh kitab-kitab yang tersedia. Imam syafi’i pernah menerima tantangan gurunya Imam Malik (93-179 H) untuk membuat 100 permasalahan agama dalam waktu satu malam. Namun, Imam Syafi’i membuat 1000 soal-jawab masalah agama lengkap dengan dalil aqli dan naqli secara mendetail dalam satu malam di ruang kamar tanpa ditemani satu kitab pun.
Tentu pada saat para Imam tersebut hidup belum banyak penerbit-penerbit buku, apalagi mesin teknologi seperti komputer yang telah menghasilkan kreasi manusia pada tahap dunia memasuki dunia virtual seperti internet. Tapi ternyata, kitab-kitab mereka dapat terbaca dan membawa manfaat yang besar bagi umat manusia. Mungkin saja dulu para Imam tak membayangkan bahwa karyanya akan banyak terbaca di seantero jagad. Tapi, kalau mereka masih hidup di zaman sekarang, tentu akan menghasilkan banyak lagi karya-karya monumental yang terkenal juga dengan pandangannya yang berbeda-beda meski hubungan mereka sangat dekat (guru dan murid). Seiring dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan, kitab mereka pun telah berhasil diterjemahkan ke dalam berbagai versi bahasa sekaligus komentar para penerus mazhab bersangkutan.
Sekedar menghargai tulisan blog ini ingin lebih leluasa membebaskan diri dari sesuatu yang membebani perasaan dan merintangi kreatifitas penulisan.
Dalam Jurnal Najmu Online ini, pengunjung tidak mesti seorang penulis profesional, peneliti atau wartawan. Pengunjung dapat bertukar pikiran dalam mengisi kekosongan waktu. Begitu pun pengunjung yang hobi membaca buku, kegemaran membaca dan menulis akan sangat berharga jika tulisannya terbaca orang lain. Dalam keadaan senang, senggang atau keadaan kekalutan, pengunjung dapat merubah kekalutan dan kepenatan menjadi tema-tema yang mendidik dan mengandung pelajaran berharga.
Setiap orang memiliki pengalamannya masing-masing. Kenapa tidak sharing pengalaman -membaca dan merasakan- sesuatu itu ditransfer dalam bahasa dan pengertian masing-masing tanpa ditelan bulat-bulat.
Paling tidak, menulis itu sangat indah, dapat mencegah terjadinya kebanjiran -banjir pengalaman, rekereasi atau pencurahan intelektual. Menulis juga merupakan obat penghilang kejenuhan hati, mencurahkan perasaan, menangkal terjadinya “pembludakan emosi” dan untuk menjawab setiap masalah yang tak sempat terejawantahkan ke dalam tindakan.
Dalam kehidupan selalu terdapat kejadian penting dalam diri kita yang terkadang hati menjadi gundah dan gelisah, pikiran tak tenang sampai tak bisa tidur. Dalam kondisi itu, tak ada salahnya kalau masalah itu dituliskan.
Dengan demikian, hati akan merasa nyaman seakan tak punya masalah di pikiran.
Misalnya, ketika kita berada dalam mobil bus tejadi peristiwa yang dianggap penting dan menarik. Mungkin orang lain tak akan menanggapinya sebagai sesuatu yang penting. Tapi coba kalau dengan melihat peristiwa penting itu, anda mengambil sehelai kertas dan pena setelah itu mulai menuliskannya. Perasaan terkadang seakan tenang karena peristiwa itu tak lagi terlintas dalam pikiran. Dalam situasi itu, memang tulisan akan cepat hilang. Tapi, apakah tulisan berarti juga memindahkan suatu memori, dari memori otak ke kertas?
Namun, sering kita melakukan secara sepintas, tulisan dapat tersimpan dan terkadang terbuang sia-sia. Hal itu entah karena kita kurang menyadari bahwa menulis itu penting atau memang tidak menganggap penting atau memang kita kurang cukup pengalaman dalam tulis-menulis.
Terdapat sebagian orang memilih cara untuk menghilangkan permasalahan, bayang-bayang kehidupan, keburukan, kemuluk-mulukan atau sifat memanjakan diri yang pernah terbesit, baik pribadi, keluarga dan lain sebagainya melalui bentuk tulisan.
Mungkin pernah terpikir, bahwa orang lain yang membaca tulisan Anda akan menganggap “remeh” tak berkualitas tulisan Anda. Tapi, Anda harus menyadari bahwa pada saat itu orang lain sedang menilai yang secara tidak langsung menghargainya Anda. Dalam hal ini, ada suatu pertanyaan, apakah tulisan dapat membahagiakan orang lain? Pertanyaan itu sangat menarik dan mengajak kita untuk berpikir sejenak bahwa kita juga tentu merasakan dan mengerti tentang kebahagiaan dari orang lain, seperti halnya kita tahu bahwa kita adalah manusia dari orang lain.
Kebahagiaan memang bersifat relatif. Paling tidak dengan sharing kebahagiaan Anda akan membagi-bagikan tulisan Anda kepada teman-teman lain sebagai tanda ungkapan kebahagiaan itu sendiri.
Namun, perlu diakui di dunia ini tak ada yang istimewa. Tapi, apabila ada yang istimewa, maka yang istimewa itu adalah ketika kita memberikan sesuatu yang kirannya istimewa pula.
Dalam kesempatan ini, pengunjung blog ini dapat menuliskan catatan-catatan yang diinginkan. Semula blog ini ingin memuat tulisan-tulisan terbaik, tapi keinginan itu terganjal pertanyaan yang sepele, apakah tulisan nanti cocok, pantas atau tidak dan saatnya atau belum. Jika pertanyaan-pertanyaan itu selalu menghantui kita, maka di jamin kita akan selalu ragu dan tidak akan pernah menulis. Dan seiring kondisi saat ini yang mempunyai permsalahan yang cukup kompleks, menulis akan menjadi tugas yang tertunda.
Semoga pembaca dan penulis yang budiman dapat menerima tulisan-tulisan di blog ini sebagai hadiah walau pun masih banyak kekurangan.
Sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaan, kehadiran blog ini mudah-mudahan dapat menunjukan bahwa sampai detik ini bangasa Indonesia tak pernah meninggalkan budaya membaca dan menulis untuk kemajuan bangsa Indonesia.
Blog ini juga bertujuan saling membagi pengalaman di antara penulis untuk kemajuan bangsa. Jangan sampai bangsa kita hanya sebagai penonton dan pengagum bangsa lain. Tanpa bermaksud mengungkit-ungkit kembali pengalaman masa lalu, bahwa bangsa Indonesia pernah menjadi bangsa yang besar di antara bangsa-bangsa di dunia. Namun, kenapa pada saat bangsa lain maju -padahal Indonesia pernah mencatat prestasi gemilang di kancah Internasional- kini mengalami stagnan, produktifitasnya menurun. Bahkan, cenderung sering meniru dan bergantung pada bangsa lain. Sayang, bangsa ini nampaknya kurang yakin kalau kita (bangsa ini) akan maju karena berjuang dari bawah.
Akhirnya, kami ucapkan terima kasih kepada pengunjung yang kiranya mau bertukar-pikiran dengan kehadiran Jurnal Najmu Online ini semoga dapat memberikan wawasan dan penyegaran terutama dalam pengetahuan bagi bangsa ini.***


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: