<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL NAJMU &#187; Lingkungan</title>
	<atom:link href="http://jurnalnajmu.wordpress.com/category/lingkungan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com</link>
	<description>Gerbang Pengetahuan dan Pemikiran Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Dec 2007 12:08:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jurnalnajmu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b199ace054f07bce5b5a2d00806c4261?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JURNAL NAJMU &#187; Lingkungan</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalnajmu.wordpress.com/osd.xml" title="JURNAL NAJMU" />
		<item>
		<title>Menuju Masyarkat Sadar Lingkungan</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/menuju-masyarkat-sadar-lingkungan/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/menuju-masyarkat-sadar-lingkungan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 00:20:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/menuju-masyarkat-sadar-lingkungan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Najmudin Ansorullah
Pembangunan yang sedang terjadi bisa dikatakan pesat diberbagai bidang di Indonesia. Dalam rangka mewujudkan negara yang adil dan makmur, &#8220;keadilan sosial&#8221; harus serta merta dilandaskan sebagai perwujudan sikap pengamalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui pensejahteraan lingkungan alam dan atau makhluk secara utuh. Selanjutnya, bila kita bersikap jujur apakah perhitungan terhadap dampak lingkungan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=29&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>Oleh: Najmudin Ansorullah</strong></p>
<p align="justify">Pembangunan yang sedang terjadi bisa dikatakan pesat diberbagai bidang di Indonesia. Dalam rangka mewujudkan negara yang adil dan makmur, &#8220;keadilan sosial&#8221; harus serta merta dilandaskan sebagai perwujudan sikap pengamalan terhadap Tuhan Yang Maha Esa melalui pensejahteraan lingkungan alam dan atau makhluk secara utuh. Selanjutnya, bila kita bersikap jujur apakah perhitungan terhadap dampak lingkungan alam yang tidak sedikit mengancam setiap nyawa manusia khususnya dan makhluk-makhluk lain telah dilaksanakan? <span id="more-29"></span>Tidaklah sedikit akibat ulah manusia yang tidak memandang setiap tempat; tumbuh-tumbuhan, hewan-hewan dan makhluk-makhluk lain yang merupakan bagian dari kehidupan diri(nya) dan senantiasa menuntut keputusan manusia untuk berbuat adil dan bijaksana terhadap lingkungan alam ini.<br />
Berapapun besar biaya yang dikeluarkan untuk &#8220;membujuk&#8221; alam ini agar bersikap sopan dan baik terhadap kita tidaklah mungkin terbayar, bila tidak dilakukan pencegahan dari sekarang, karena &#8220;penolakan kerusakan lebih utama didahulukan dari pada membuat kebajikan&#8221;. Alam lebih mengerti terhadap manusia untuk melakukan segala keinginannya. Ia bukan saja tempat manusia untuk berpijak dalam menentukan kehidupan, tapi lebih dari itu merupakan titipan dari Tuhan untuk diolah dan dilestarikan sejak diturunkannya nabi Adam ke muka bumi ini.<br />
Konon watak pribadi, tingkah laku dan kecakapan seseorang dapat dipengaruhi oleh lingkungan yang dianutnya. Lingkungan memang sangat luas pengertiannya baik dari segi demografis ataupun ruang-lingkup kehidupan sehari-harinya (baca: aktivitas kehidupan). Manusia tidak lepas dari lingkungan alam sekitar yang telah memberikan arti penting untuk memahami dan menyadari betapa lingkungan alam saling mempengaruhi kehidupannya. Demikian itu, perlu penyeimbangan dalam membina dan mengolah diri dengan lingkungan alam terutama yang kita tempati.<br />
Pentingnya kesadaran kembali untuk menjaga keharmonisan antara manusia dan lingkungan alam merupakan bentuk syukur kepada Tuhan Semesta Alam yang telah menganugerahkan nikmat yang tak terhitung agar kehidupan ini lebih romantis untuk bernostalgia.</p>
<p align="justify"><strong>Lingkungan Alam di Desa</strong></p>
<p align="justify"> Cibitung Tengah adalah sebuah desa yang berada di kecamatan Ciampea kabupaten Bogor dengan berjumlahkan dua rukun kampung dan 22 rukun tetangga. Adapun perbatasan desa Cibitung di apit oleh beberapa daerah dan arus sungai, di sebelah Barat dibatasi oleh desa Ciampea Udik dan sungai Ciampea, di sebelah Timur dibatasi oleh desa Situdaun, dan sungai Cinangneng, di sebelah Selatan dibatasi oleh desa Tapos, dan disebelah utara dibatasi oleh desa Cinangneng.<br />
Desa Cibitung dapat dikatakan daerah yang sangat sejuk. Bila melihat ke arah selatan maka terlihat Gunung Salak dengan indah, hijau kebiru-biru-an, megah dan perkasa. Seakan mengucapkan &#8220;selamat&#8221; kepada penghuni wilayah ini. Di sana-sini terdapat air mengalir dengan riak dari sumber mata air yang jernih bagaikan &#8220;bertepuk tangan&#8221;. Apalagi ketika musim hujan burung pun seakan ikut bermandi sambil menari di atas bumi ini menikamati air itu, pantas orang menyebutnya dengan &#8220;Kota Hujan&#8221;.<br />
Sawah yang hijau saat padi masih muda seperti pohon berlian, dan ketika menguning bagaikan hamparan emas permadani, petani seakan tak pernah mengenal lelah mengolah tanah baik untuk perikanan, pertanian ataupun kebun dan sebagainya. Rasanya tidak akan cukup untuk menyebutkan karunia Ilahi yang telah terhampar diberikan-Nya kepada penghuni kota, perkampungan dan pegunungan di kawasan itu. Bila tidak lupa aku masih ingat &#8220;mars&#8221; kota Bogor.</p>
<p align="justify"><em>Bogor kota indah sejuk nyaman<br />
bagai bunga di dalam taman<br />
di sana aku dilahirkan dan aku dibesarkan di kota indah sejuk nyaman 2x<br />
</em></p>
<p align="justify"> Benarkah demikian? Benarkah kabupaten Bogor termasuk kabupaten paling kaya di antara yang lain. Jika demikian adanya, kenapa aku harus melihat pemandangan masyarakatnya yang miskin (the have not) dan pengangguran merajalela? Apakah pantas bila mereka harus melakukan pembongkaran, pengrusakan, penggalian pencemaran, dan peyebaran asap hitam yang lebih bau dan busuk untuk menutupi keindahan alam nan amat megah terhadap alam yang tidak berdosa.</p>
<p align="justify"><strong>Sungaiku Sayang Sungaiku Malang<br />
</strong></p>
<p align="justify">Di sebuah sungai Cinangneng yang airnya bersih dan jernih, sebelum hendak menceburkan diri ke sungai, ketika kecil aku terlebih dahulu dapat memilih kali (Sunda: leuwi) yang hendak aku pilih agar bisa bebas berenang dengan teman-teman.<br />
Sehabis sekolah aku sempat pergi bermain untuk memancing ke sungai itu yang banyak sekali ikan-ikan seperti senggal (semacam lele), bahkan tidak jarang ikan seperti emas berukuran besar dan ikan-ikan lainnya pun ada di sungai itu. Kegembiraan yang aku raih pada saat alam yang sangat indah telah membuat diriku terkesan di kala kuhampiri sungai itu yang sekarang seperti tumpukan batu berserakan dan bentengan-bentengan yang tak beraturan.<br />
Keromantisan antara aku dan alamku sangat terjalin dengan harmonis. Mungkin nasibku waktu kecil sangat mujur dibanding anak-anak kecil di desaku sekarang. Aku sangat sedih ketika melihat anak-anak kecil sekarang yang hendak bermain ke sungai, suasananya sangat jauh berbeda dari yang aku alami ketika kecil. Mereka tidak punya pilihan lain untuk bermain mandi di alam bebas kecuali dengan memilih sungai sebagai tempat bermainnya, sedang untuk bermandi di kolam renang harus menambah ongkos biaya lagi bagi ukuran anak-anak di kampung.<br />
Sayang, sungai itu sekarang sudah tidak lagi kelihatan dalam dan jernih. Bila saja waktu menunjukakn jam delapan-an pagi, kelihatan sekali sungai itu seperti kotor dan sangat dangkal, hanya tumpukan batu yang kelihatan berserakan. Sering terjadi sungai menjadi objek manusia yang tidak bertanggung jawab karena pengangkutan barang-barang di sungai hingga terjadi kelongsoran. Pinggir-pinggir kali yang dahulu kala dihiasi dengan pohon-pohon hijau yang indah nan gagah, kini terkikis habis karena penggali-penggali liar dan pemborong batu yang tidak memikirkan dampaknya. Belum lagi dengan &#8220;penabur racun&#8221; untuk ikan hingga aneka macam ikan yang tadinya begitu banyak tidak sedikitpun tampak kelihatan. Irigasi hanya sebatas bangunan yang tak mungkin dapat digunakan untuk pembagian air bagi petani-petani dalam bercocok tanam. Mereka hanya numpang membangun saja tanpa menjaga dan merawatnya, sedangkan petani hanya pasrah tak berdaya karena ladang, kebun dan ikan-ikan mereka tak bisa terguyuri air, walaupun ada sedikit air yang singgah ke tanah garapan mereka, tentu sudah tercampur dengan racun dan kotor seperti oil pelumas, atau air acu (dibaca dialek daerah: air aki) yang layak untuk mesin-mesin kendaraan. Aku rindu sungaiku yang dulu, walau bagaimanpun pembangunan memang perlu, tapi jangan korbankan alamku untuk kepentingan sesaat.</p>
<p align="justify"><strong>Tak Biasa Hidup Tanpa Air Jerih?<br />
</strong></p>
<p align="justify">Ketika aku kecil ibuku pernah bercerita tentang ayahku yang kala itu tahun 1987-an sedang sakit berat. Ia dibawa ke Rumah Sakit di pusat kota Bogor (RS. Karya Bakti). Sakit yang dideritanya adalah penyakit leaver (penyakit jantung), konon ketika ia melakukan buang air besar yang keluar dari(nya) sebuah benda seukuran baso namun berwarna cokelat kemerah-merahan. Setelah diperhatikan ternyata benda itu adalah bagian-bagian kecil hati yang keluar memisahkan diri di dalam tubuhnya.<br />
Suatu peristiwa unik terjadi menimpa ayahku yang terbaring di rumah sakit. Minggu-minggu pertama di rumah sakit ia tidak bisa buang air besar. Setiap perut merasa mual dan hendak buang air besar ia tidak sempat melakukannya dan terus menahannya. Alasannya sederhana, keengganan untuk buang air besar di closet itu ternyata bukan karena sakit yang ia derita. Tapi, tidak betah melakukan hajat buang air besar di closet dan sudah terbiasa melakukannya di Cinangneng, sungai bersih yang berukuran besar. Seketika di bawa pulang ke desa oleh ibuku, sponta saja ketika setibanya di rumah ia langsung menuju sungai itu dan melakukan hajatnya dengan lancar.<br />
Pada tahun 2000-an, aku sendiri yang sudah berusia 20 tahun terbiasa melakukan &#8220;hajat&#8221; itu di closet ataupun tempat lain selain di sungai. Ketika hendak masuk perguruan tinggi di Bandung mula-mula mencari air minimal berukuran kecil dan bersih. Hal itu dilakukan dengan berjalan-jalan kaki atau naik sepeda sekitar 2 kilo dari kediaman kakak di Tanjung Sari, Sumedang.<br />
Entah mungkin ini karena ayahku (baca: turunan) yang tidak terbiasa hidup dengan lingkungan tak berair jernih atau benarkah orang bogor memang begitu sebagaimana yang sering dikatakan orang?</p>
<p align="justify"> <strong>Mitos, Keangkuhan Penguasa dan Premanisme Intelektual</strong></p>
<p align="justify">Aku dilahirkan hari Kamis, kawanku bilang Kamis dalam hitungan falak (ilmu hitung, bisa digunakan terhadap lingkungan alam) yang berarti angin yang tidak menentu -tidak suka diam. Dalam astrologi aku masuk hitungan Aries yang digambarkan dengan domba yang bertanduk artinya berwatak keras keinginannya selalu menjunjung tinggi (baca: cita-cita), terkadang gagal dengan apa yang diharafkan karena tidak mengukur kemampuannya. Benarkah?, haruskah kubenarkan astrologi itu dan mungkin menyalahkannya dengan mengkalaimnya haram?<br />
Sering aku mandi pada saat sungai sedang guntur (daerah: caah) dengan teman-teman di kali Cinangneng, mondar-mandir ketengah bahkan tidak jarang terbawa arus air deras, aku harus dapat mengendalikan diri dalam suasana seperti itu, tepi demi tepi aku lalui. Tapi sebelumnya aku terlebih dahulu melihat ukuran air yang dapat dilalui, bila terlalu deras maka kuputuskan untuk membatalkan dan memilih sungai berukuran kecil yang terletak di samping sungai besar itu. Setelah itu, aku dimarahi ibu karena air pada saat itu sangat keruh berwarna kecokelat-cokelatan seperti adonan kue dodol. Sekeras apapun manusia tidak bisa memaksakan kehedaknya untuk menantang alam ini, karena yang lebih kuasa adalah Tuhan Sang Maha Pencipta.<br />
Di sungai itu banyak kali yang airnya sangat dalam. Ada suatu kepercayaan bahwa di antara kali-kali itu ada yang dinamakan kali lempar (bhs sunda: leuwi timpuk) Karena sudah menjadi kebiasaan turun-temurun tiap generasi, bila seorang hendak mandi di situ harus terlebih dahulu melempar batu sebanyak tiga kali sambil membaca Bismillah tujuh kali dan surat al-Ikhlas tiga kali, bila tidak melakukaknya, maka orang itu akan sakit (Sunda daerah: kasibat) Mungkinkah kejadian di atas, yang dimaksud orang dengan suatu bid&#8217;ah, takahayyul atau sebangsanya? Jelasnya, kali itu tadinya sangat ramai dengan orang-orang yang berbondong mandi dan dalam, sekarang menjadi suatu kali yang sepi dan tidak layak untuk dipakai mandi dan hanya kerbau saja yang bisa mandi di kali itu, karena sudah dangkal oleh tumpukan batu-batu kecil.<br />
Hal yang serupa juga terjadi ketika masyarakat yang sudah terun temurun meyakini bahwa di sekitar istana Bogor ada semacam pendaman harta karun bekas peninggalan kerajaan yang pernah berkuasa di wilayah Bogor. Konon bila harta itu dipakai untuk melunasi hutang negara maka akan terpenuhi. Mungkin untuk sekedar kepercayaan masyarakat sekitar yang kurang mengerti akan dunia ilmu pengetahuan secara akademis wajar-wajar saja, toh mereka tidak mempunyai maksud untuk membongkar alam demi kepentingan-kepentingan pribadinya. Mereka hanya tahu bahwa bekerja adalah suatu yang mutlak adanya demi mencapai kebutuhannya sehari-hari secara halal. Bagi masyarakat, kepercayaan itu akan menjadi kebanggaan dari cerita kuno yang terus terpelihara secara utuh dan tidak usah &#8220;diganggu&#8221; melainkan dilestarikan sebagai tradisi budaya yang patut ditinjau ulang secara akal sehat &#8220;rasio&#8221;. Secara implisit kita memperoleh keterangan, dalam agama ataupun ilmu pengetahuan bahwa bekerja itu merupakan pondasi bagi seseorang untuk mendapatkan hasil dari &#8220;nilai lebih&#8221; (surplus value) untuk mendapatkan keuntungan secara halal, bukan dengan cara memburu harta karun yang tidak wajar dan tidak jelas kebenarannya.<br />
Bila saja Max Weber masih hidup dan menyaksikan kejadian atas pembongkaran situs batu tulis di Bogor mungkin tokoh sosial itu akan merekonstruksi teorinya dengan meninjau dampak terhadap lingkungan alam dari teori yang menjelaskan tingkat kesempurnaan berpikir seseorang akan membalik terhadap kepercayaan hal-hal mistik.<br />
Coba saja perhitungkan berapa kerugian yang disebabkan oleh pengrusakan lingkungan alam. Bila pengrusakan yang dimaksudkan berasal dari kepercayaan itu, maka seorang ahli agama atau cendikiawan mana pun akan sadar bahwa itu merupakan pembodohan bagi masyarakat.<br />
Ironisnya ketika masyarakat membutuhkan pekerjaan dan pengangguran yang besar terjadi di mana-mana, kepercayaan terhadap adanya harta karun itu lantas memperkuat dengan adanya pembongkaran situs batu tulis di Bogor yang berdampak pada pengrusakan lingkungan. Bila saja kejadian itu membuat masyarakat tergiur dengan buayan-buayan harta yang tidak boleh masuk di akal, maka dengan sendirinya masyarakat telah dididik menjadi pengkhayal. Di sini masyarakat seharusnya diberikan pendidikan secara wajar dan rasional, bukan dijadikan penghayal yang berdampak terhadap lingkungan sebagai objek pengrusakan. Lingkungan seharusnya ditata dan dirawat melalui kesadaran dan pemberian pendidikan yang wajar dan layak terhadap masyarakat.<br />
Alam merupakan bagian dari kehidupan manusia secara utuh, maka dalam konteks ini hubungan manusia dengan lingkungan hidup (alam) adalah merupakan bagian dari pergeseran paradigma yang terlupakan, sehingga keberlangsungan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhannya dan manusia dengan lingkungan hidup (ekologi) tidak terefleksikan secara utuh.<br />
Sesungguhnya tabir itu akan terbuka apabila kita sadar bahwa tidak ada yang perlu ditutup-tutupi dalam akal pikiran apabila mau berpikir dengan menjadikan alam sebagai sahabat sehari-hari untuk dijaga dan dilestarikan.</p>
<p align="justify"><strong> Paku Alam nan Lentur Ditelan Masa<br />
</strong></p>
<p align="justify"> Jika saja sebuah gunung dapat bicara mugkin akan bercerita kesaksiannya terhadap manusia bahwa &#8220;ia&#8221; telah memuntahkan abu dari Selat Sunda sampai benua Amerika. Berapa ratusan jiwa melayang jauh terusir dari bumi, tanam-tanaman yannn subur menjadi gersang, binatang ternak tidak berdosa jadi korban akibat kemarahannya. Lagi-lagi pasak bumi itu sengaja dicabut dengan berbagai cara manusia yang tidak mau tahu akibatnya.<br />
Kita ambil satu contoh Gunung Kuda di desa Bobos, Dukupuntang, Cirebon yang di ambil batunya, bila saja tidak ada penyeimbangan dari manusia mungkin kejadian di atas akan terulang kembali. Ladang akan tak berpungsi karena suhu panas yang tinggi, atau gunung Guntur di Garut yang diambil pasirnya tidak akan segan-segan memboyong manusia untuk berpindah ke tempat lain karena semburan lahar.<br />
Sebut saja Gunung Pongkor, kini demi kenikmatan sesaat gunung itu tidak segan-segan di jarah emasnya hingga ia marah menelan orang yang hinggap di situ. Orang yang singgah di gunung itu, harus pasrah melepaskan nyawanya karena tidak menyeimbangkan alam lingkungan. Untuk siapa mereka lakukan semua itu, bagaimana generasi selanjutnya yang enggan mengenyam kehidupan di alam bebas bila saat ini isi gunung itu diangkut ke tempat yang amat jauh, Apakah ini yang dinamakan pembangunan berkelanjutan?</p>
<p align="justify"> <strong>Membangun Kemandirian Masyarakat, Upaya Melestarikan Lingkungan<br />
</strong></p>
<p align="justify"><strong> </strong>Listrik masuk desa sebagai penerang desa di kala gelap gulita, ketika aku usia lima tahun, saat itu aku belum sekolah, itu pun hanya sampai perbatasan rukun kampung yang aku huni (Rt. 11/03) dengan rukun kampung Rt. 12, jadi belum sampai pada rumahku. Kegembiraan menyambut kehadiran listrik itu membuat setiap hari sering kuperhatikan petugas listrik dan warga yang memasang tiang-tiang dan kabel-kabel ke rumah warga. Sebelumnya hanya ada penerangan dari lampu-lampu minyak tanah seperti petromak dan lampu-lampu kecil.<br />
Sebenarnya ada listrik yang di kelola oleh swasta yaitu di Rt. 08 milik anak kepala sekolah (Yadi dan Yana). Namun, karena listrik itu bertenaga kincir maka hanya menampung kira-kira 50 kepala keluarga.<br />
Di masa itu, sangat sulit orang mendapatkan penerangan terutama dari manfaat listrik, dengan menggunakan tenaga kincir sudah otomatis alam dijadikan sumber pembangunannya. Namun, tidak lama kemudian pihak pemerintah mengadakan program Listrik Masuk Desa (LMD), maka pembangunan itu tersendat dengan digantikannya oleh listrik milik pemerintah yang sudah menjalar ke desa.<br />
Padahal dibandingkan sekarang, listrik yang konon sering terdengar banyak terjadi hambatan dalam penanganan perhitungan angka selalu membengkak, tidak saja mengakibatkan pengrusakan secara teknis terhadap lingkungan dan masyarakat, tidak akan terkendali dalam meluapkan amarahnya kepada petugas PT. PLN Persero. Kalau saja listrik itu dikelola oleh swasta, mungkin akan lebih bermanfaat demi kemandirian pembangunan desa dan terhadap kesadaran lingkungan alam karena mengunakan pengolahan alam sekitar yang ramah terhadap lingkungannya serta mengurangi biaya pemerintah dengan sedikit pajak negara. Lebih-lebih dalam rangka mengembangkan lingkungan alam di era otonomi daerah, swasta harus diberi kesempatan secara penuh terhadap pengembangan daerahnya sendiri.<br />
Selain itu, alam sekitar yang dirasakan sebagai hubungan emosional terhadap warganya akan terasa sangat penting untuk dikembangkan lebih lanjut dengan kebutuhan-kebutuhan seperti pembangunan jalan, pembangunan irigasi air secara gotong-royong yang dirasakan sangat bermanfaat bagi manusia dan sekitarnya.<br />
Dengan begitu, pembangunan desa juga harus dapat diartikan pula dengan pembangunan kelestarian lingkungan alam. Karena keserasian pembangunan dengan kelestarian alam akan menambah suasana wilayah pedesaan dalam menjalankan fungsinya dapat ditentukan oleh faktor alam yang ditata dengan rapi dan teratur.<br />
Di sini perlu ditegaskan bahwa pembangunan di tingkat desa perlu ditegakan bagi kelestarian alam, bukan rencana pengrusakan alamnya itu sendiri. Karena upaya peningkaatan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan alam sekitar dapat ditentukan pula oleh faktor kebutuhan dalam kesehariannya (primer).<br />
Simbiosis Mutualisme antara makhluk hidup ditentukan pula oleh iklim alam yang kondusif, seorang petani atau pengusaha manapun akan mengakui kesalahannya apabila tidak memperhitungkan perencanaannya terhadap pengunaan iklim dan mempergunakan alam dengan baik.<br />
Arah pembangunan lingkungan di tingkat desa lebih bercorak pada tingkat kebersamaan yang tinggi dari warganya dalam mewujudkan lingkungan yang bersih, rapi dan indah. Oleh karena itu perlu disesuaikan dengan corak masyarakat desa, Ferdinand Tonis mengistilahkannya masyarakat &#8220;tatap muka&#8221;, dengan hubungan-hubungan emosional yang kental sebagai dasar perilaku. Nilai-nilai yang berlaku adalah kasih (affectivity), kebersamaan (mutuality) dan alamiyah (naturalness).<br />
Hal ini berbeda dengan corak pembangunan masyarkat yang diikat oleh kepentingan atas dasar yang lebih rasional. Nilai yang berlaku adalah individualitas, persaingan dan pembagian kerja. Lingkungan alam kota yang sangat rumit dengan berbagai varian sistem yang dipakai, peranan pemerintah harus lebih dominan dalam menjaga lingkungan alam bersama warga, dan LSM atau organisasi-organisasi lain yang mendukung akan terciptanya kota yang bersih dan rapi serta jauh dari kotoran polusi yang sering menyelimuti kota.<br />
Namun, perlu disadari bahwa dengan adanya pembangunan kelestarian alam harus pula memberikan warganya untuk hidup rukun dan damai sebagai masyarkat plural sekaligus membentuk ruralisme bukan primordialisme itu sendiri.</p>
<p align="justify"><strong>Lestarikan &#8220;Hutan Kota&#8221;</strong></p>
<p align="justify"> Bila anda mendengar sebuah kota yang mendapatkan julukan &#8220;kota hujan&#8221; maka ingatan anda akan terbawa ke kota Bogor (Belanda dulu menyebutnya &#8220;Buitenzorg&#8221;), sebuah kota yang mempunyai curah hujan sangat tinggi. Di kota itu ada sebuah kebun yang sangat luas dan megah yang konon bekas peniggalan kerajaan pajajaran bernama &#8220;Kebun Raya&#8221; (botanical garden). Maka pantas di dalam kebun itu terdapat sebuah istana yang berdiri megah dengan sebutan &#8220;Istana Bogor&#8221;. Istana itu dikelilingi dengan pohon-pohon yang berusia muda sampai dengan pohon-pohon yang berusiakan ratusan tahun. Ia merupakan penginggalan alam masa lalu yang senantiasa harus di jaga dan dirawat dengan rapih. Selain pohon-pohon itu, ratusan bahkan mungkin ribuan tumbuhan lain pun banyak berkembang di kebun itu, tak ketinggalan sekawanan hewan kijang (sunda: uncal) begitu banyak berkeliaran di sekitar Istana Bogor, sehingga lengkaplah sudah kebun itu ibarat sebuah hutan di tengah keramaian kota yang mendambakan sebuah sistem masyarakat yang bercorakan kota atau yang sering dikenal dengan sebutan &#8220;masyarakat madani&#8221; istilah lain (civil society).<br />
Sungguh Tuhan Maha Adil telah memberikan keseimbangan lingkungan pada alam ini untuk kehidupan makhluk-Nya. Coba saja bayangkan hujan yang sangat intens mengguyuri kota ini dapat tercegah dari banjir karena pohon-pohon yang melindungi kawasan rawan hujan, sungai-sungai sebagai pembawa arus air ke laut serta keseimbangan tempat. Di kota itu, pada siang bolongpun tidak tanggung-tangung hujan itu sempat mampir mengguyuri di kala tempat-tempat lain dalam keadaan kekurangan air. Petir yang seakan menyambar dengan galak tidak membuat penghuni kota itu enggan melakukan keluar rumah, malahan anak kecilpun dengan senangnya bermain bola pada saat hujan sangat lebat, sopir-sopir dengan santai melakukan aktivitasnya. Masyarakt seperti sudah terbiasa menyaksikan kejadian itu.<br />
Biasanya petir lebih mencari benda-benda yang berukuran lebih tinggi. Mungkin masih ingat di benak masyarakat Bogor dengan kasus-kasus orang meninggal karena tertimpa sengatan petir seperti yang terjadi di kampung Cinangka desa Cibitung pada tempo lalu. Waktu itu, sebanyak enam orang yang mencangkul di sawah tersengat serangan petir dan cuma satu orang yang selamat dari bahaya itu sebagai saksi dari kerawanan curah hujan yang mengandung petir-petir yang besar. Hal serupa juga terjadi dalam tempo yang belum lama ini seperti di desa Cimangis Bogor, pantas di kota Kabupaten Bogor ada sebuah desa yang diberi nama dengan Desa Petir. Manfaat dari keseimbangan alam merupakan penyumbang besar bagi keberlangsungan hidup manusia. Ia secara mutlak tidak boleh dipisahkan atau dihindari dari manusia, bila saja lingkungan tidak dapat dilestarikan dan dijaga dengan keseimbangan itu, maka ia akan memberikan ancaman yang besar bagi manusia.<br />
Oleh karena itu, sebagai masyarakat yang berpenghuni cukup padat dan untuk menghindari dari rawan bencana alam keseimbangan antara alam dan kehidupan manusia perlu dilaksanakan dengan seksama oleh pemerintah, dan segala lapisan masyarakat.<br />
Kota akan terlihat seperti &#8220;hutan belantara&#8221; bila saja lingkungan alam tidak terawat dengan rapi, perusahaan yang kurang ramah dengan lingkungan akan mendapat ancaman baik dari masyarakat dan lingkungan alam itu sendiri, alih-alih teknologi akan menjadi sia-sia belaka bila tidak dipergunakan untuk kelestarian alam, manusia dengan sendirinya akan terperosok ke dalam bencana besar bila tidak memperhitungkan dampak lingkungan alam yang setiap saat mengintai kita. Dengan demikian perlu kesaadaran yang tinggi dari berbagai pihak termasuk elemen masyarakat terhadap lingkungan alam ini agar dengan kesadaran dan cinta terhadap alam pembangunan yang sedang kita lakukan dapat berjalan dengan mestinya. Mari kita wujudkan bersama, masyarakat yang sadar akan lingkungan alam yang bersih, jauh dari kotoran dan tertata rapih. <em>Wallahu A&#8217;lam Bissawwab</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/29/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/29/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=29&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/menuju-masyarkat-sadar-lingkungan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>CSR dalam Perspektif Islam</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/csr-dalam-perspektif-islam/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/csr-dalam-perspektif-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 00:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/csr-dalam-perspektif-islam/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Pesantren Virtual (Jum&#8217;at 16 Nov 2007), Media Konsumen (Kamis 11 Oktober 2007).
 Oleh. Najmudin Ansorullah SHI*
Setelah tenggelam sekian lama, kini ide untuk memasukan etika ke dalam dunia ekonomi (bisnis) mencuat kembali. CSR tidak lagi ditempatkan dalam ranah sosial dan ekonomi sebagai imbauan, tetapi masuk ranah hukum yang ‘memaksa&#8217; perusahaan ikut aktif memperbaiki kondisi dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=26&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Sumber: <a href="http://www.pesantrenvirtual.com/index.php?option=com_content&amp;task=view&amp;id=1190&amp;Itemid=1" target="_blank">Pesantren Virtual (Jum&#8217;at 16 Nov 2007),</a> <a href="http://www.mediakonsumen.com/Artikel986.html" target="_blank">Media Konsumen (Kamis 11 Oktober 2007).</a></p>
<p align="justify"><strong> Oleh. Najmudin Ansorullah SHI*</strong></p>
<p align="justify">Setelah tenggelam sekian lama, kini ide untuk memasukan etika ke dalam dunia ekonomi (bisnis) mencuat kembali. CSR tidak lagi ditempatkan dalam ranah sosial dan ekonomi sebagai imbauan, tetapi masuk ranah hukum yang ‘memaksa&#8217; perusahaan ikut aktif memperbaiki kondisi dan taraf hidup masyarakat (Kompas, 4/8).<span id="more-26"></span><br />
Disahkannya Rancangan Undang-Undang Perseroan Terbatas (RUU PT) telah menuai pro-kontra, terutama terhadap Pasal 74 tentang Aturan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan, yang rumusannya, &#8220;perseroan di bidang/berkaitan dengan SDA wajib melaksanakan CSR&#8230; Perseroan yang tidak melaksanakan wajib CSR dikenai sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan&#8221;. Yang dimaksud SDA adalah sumber daya alam, sedangkan CSR adalah corporate social responsibility atau tanggung jawab sosial korporat/perusahaan.<br />
Tanggung jawab sangat terkait dengan hak dan kewajiban, yang pada akhirnya dapat menimbulkan kesadaran tanggung-jawab. Ada dua bentuk kesadaran: Pertama, kesadaran yang muncul dari hati nurani seseorang yang sering disebut dengan etika dan moral. Kedua, kesadaran hukum yang bersifat paksaan berupa tuntutan-tuntutan yang diiringi sanksi-sanksi hukum.</p>
<p align="justify"> <strong> Etika Bisnis Islami</strong></p>
<p align="justify">  Etika memiliki dua pengertian: Pertama, etika sebagaimana moralitas, berisikan nilai dan norma-norma konkret yang menjadi pedoman dan pegangan hidup manusia dalam seluruh kehidupan. Kedua, etika sebagai refleksi kritis dan rasional. Etika membantu manusia bertindak secara bebas tetapi dapat dipertanggung-jawabkan. Sedangkan bisnis mengutip Straub, Alimin (2004: 56), sebagai suatu organisasi yang menjalankan aktivitas produksi dan penjualan barang dan jasa yang diinginkan oleh konsumen untuk memperoleh profit.<br />
Penggabungan etika dan bisnis dapat berarti memaksakan norma-norma agama bagi dunia bisnis, memasang kode etik profesi bisnis, merevisi sistem dan hukum ekonomi, meningkatkan keterampilan memenuhi tuntutan-tuntutan etika pihak-pihak luar untuk mencari aman dan sebaginya. Bisnis yang beretika adalah bisnis yang memiliki komitmen ketulusan dalam menjaga kontrak sosial yang sudah berjalan. Kontrak sosial merupakan janji yang harus ditepati.<br />
Bisnis Islami ialah serangkaian aktivitas bisnis dalam berbagai bentuknya yang tidak dibatasi jumlah kepemilikan (barang/jasa) termasuk profitnya, namun dibatasi dalam cara memperolehnya dan pendayagunaan hartanya karena aturan halal dan haram (lihat. QS. 2:188, 4:29).<br />
Etika bisnis Islam sebenarnya telah diajarkan Nabi Saw. saat menjalankan perdagangan. Karakteristik Nabi Saw., sebagai pedagang adalah, selain dedikasi dan keuletannya juga memiliki sifat shidiq, fathanah, amanah dan tabligh. Ciri-ciri itu masih ditambah Istiqamah.<br />
Shidiq berarti mempunyai kejujuran dan selalu melandasi ucapan, keyakinan dan amal perbuatan atas dasar nilai-nilai yang diajarkan Islam. Istiqamah atau konsisten dalam iman dan nilai-nilai kebaikan, meski menghadapi godaan dan tantangan. Istiqamah dalam kebaikan ditampilkan dalam keteguhan, kesabaran serta keuletan sehingga menghasilkan sesuatu yang optimal. Fathanah berarti mengerti, memahami, dan menghayati secara mendalam segala yang menjadi tugas dan kewajibannya. Sifat ini akan menimbulkan kreatifitas dan kemampuan melakukakn berbagai macam inovasi yang bermanfaat. Amanah, tanggung jawab dalam melaksanakan setiap tugas dan kewajiban. Amanah ditampilkan dalam keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihsan (kebajikan) dalam segala hal. Tablig, mengajak sekaligus memberikan contoh kepada pihak lain untuk melaksanakan ketentuan-ketentuan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari (berbagai sumber).<br />
Berdasarkan sifat-sifat tersebut, dalam konteks corporate social responsibility (CSR), para pelaku usaha atau pihak perusahaan dituntut besikap tidak kontradiksi secara disengaja antara ucapan dan perbuatan dalam bisnisnya. Mereka dituntut tepat janji, tepat waktu, mengakui kelemahan dan kekurangan (tidak ditutup-tutupi), selalu memperbaiki kualitas barang atau jasa secara berkesinambungan serta tidak boleh menipu dan berbohong.<br />
Pelaku usaha/pihak perusahaan harus memiliki amanah dengan menampilkan sikap keterbukaan, kejujuran, pelayanan yang optimal, dan ihsan (berbuat yang terbaik) dalam segala hal, apalagi berhubungan dengan pelayanan masyarakat. Dengan sifat amanah, pelaku usaha memiliki tanggung jawab untuk mengamalkan kewajiban-kewajibannya. Sifat tablig dapat disampaikan pelaku usaha dengan bijak (hikmah), sabar, argumentatif, dan persuasif akan menumbuhkan hubungan kemanusiaan yang solid dan kuat.<br />
Para pelaku usaha dituntut mempunyai kesadaran mengenai etika dan moral, karena keduanya merupakan kebutuhan yang harus dimiliki. Pelaku usaha atau perusahaan yang ceroboh dan tidak menjaga etika, tidak akan berbisnis secara baik sehingga dapat mengancam hubungan sosial dan merugikan konsumen, bahkan dirinya sendiri.</p>
<p align="justify"> <strong> Hukum Islam</strong></p>
<p align="justify">  Al-Qur&#8217;an adalah suatu ajaran yang berkepentingan terutama untuk menghasilkan sikap moral yang benar bagi tindakan manusia. &#8220;Moral&#8221; menurut intelektual asal Pakistan Fazlur Rahman (2000: 354), merupakan esensi etika al-Qur&#8217;an yang akhirnya menjadi esensi hukum dalam bentuk perintah dan larangan. Nilai-nilai moral adalah poros penting dari keseluruhan sistem yang menghasilkan hukum.<br />
Dalam aktivitas kehidupannya, umat Islam dianjurkan mengutamakan kebutuhan terpenting (mashlahah) agar sesuai dengan tujuan syariat (maqashid al-syari&#8217;ah). Mengikuti al-Syatibi, M. Fahim Khan, (1992: 195), mengatakan mashlahah adalah pemilikan atau kekuatan barang/jasa yang mengandung elemen dasar dan tujuan kehidupan umat manusia di dunia ini (dan peroleh pahala untuk kehidupan akhirat). Maslahah ini tidak bisa dipisahkan dengan maqashid al-syari&#8217;ah. Al-‘Izz al-Din bin Abd al-Salam diikuti Sobhi Mahmassani (1977: 159), mengutarakan maqashid al-syari&#8217;ah ialah perintah-perintah yang pada hakikatnya kembali untuk kemaslahatan hamba Allah dunia dan akhirat.<br />
Abu Ishaq al-Syatibi (w. 790 H) dalam al-Muwafaqat, tujuan pokok syari&#8217;at Islam terdiri atas lima komponen: pemeliharaan agama (hifdh al-din), jiwa (hifdh al-nafs), akal (hifdh al-aql), keturunan (hifdh nasl) dan harta (hifdh al-maal). Lima komponen pokok syari&#8217;ah itu disesuaikan dengan tingkat kebutuhan dan kepentingan manusia (mashlahah), yaitu kebutuhan primer (dharuriyyah), skunder (hajiyyah) dan tertier (tahsiniyyah).<br />
Dalam konteks ini, kebutuhan primer (dharuriyyah) adalah sesuatu yang harus ada untuk mewujudkan kemaslahatan agama dan dunia. Jika kebutuhan itu hilang, maka kemaslahatan manusia sulit terwujud. Bahkan, dapat menimbulkan keruksakan, kekacauan dan kehancuran. Skunder (hajiyyah) adalah segala hal yang dibutuhkan untuk memberikan kelonggaran dan mengurangi kesulitan yang biasanya menjadi kendala dalam mencapai tujuan. Sedangkan tertier (tahsiniyyah) ialah melakukan tindakan yang layak menurut adat dan menjauhi perbuatan-perbuatan ‘aib yang ditentang akal sehat.<br />
Tujuan syari&#8217;ah itu dapat menentukan tujuan perilaku konsumen dalam Islam dan tercapainya kesejahteraan umat manusia (maslahah al-‘ibad). Semua barang dan jasa yang dapat memiliki kekuatan untuk memenuhi lima komponen pokok (dharury) telah dapat dikatakan memiliki maslahat bagi umat manusia.<br />
Lebih lanjut, Khan (1992: 195), mengutarakan semua kebutuhan tidak sama penting. Kebutuhan itu meliputi: tingkat di mana lima elemen pokok di atas dilindungi secara baik; tingkat di mana perlindungan lima elemen pokok di atas, dilengkapi untuk memperkuat perlindungannya dan tingkat di mana lima element pokok di atas secara sederhana diperoleh secara jelas.<br />
Berkaitan dengan corporate sosial responsibility (CSR), kelima komponen itu perlu mendapat fokus perhatian.<br />
Dalam skala primer, perusahaan atau badan-badan komersial perlu menghargai agama yang dianut masyarakat. Jangan sampai kepentingan masyarakat terhadap agamanya diabaikan, seperti perusahaan yang mengabaikan atau mengganggu peribadatan warga setempat. Bahkan, semestinya pihak perusahaan atau badan-badan komersial harus mampu mengembangkan jiwa usahanya dengan spiritualitas Islam.<br />
Dalam pemeliharaan jiwa seperti makan dan minum ditujukan agar hidup dapat lebih bertahan dan mencegah ekses kepunahan jiwa manusia. Ironisnya, kini, banyak perusahaan air mineral telah menyebabkan kekeringan air di daerah atau kondisi udara di Jakarta telah mengandung zat pencemar udara yang sebagian besar sulfur dioksida, karbon monoksida, nitrogen dioksida dan partikel debu. Sekitar 70 persen polusi udara di Jakarta akibat asap transportasi. Menurut staff pengajar Fakultas Teknologi Kelautan Universitas Darma Persada Jakarta Agung Sudrajad (Inovasi, Vol. 5, 2005), di Jakarta pertambahan kendaraan tercatat 8.74 persen per tahun sementara prasarana jalan meningkat 6.28 persen per tahun. Ini tentu menambah semakin terpuruknya kondisi lingkungan udara kita.<br />
Begitu juga, pihak korporasi harus mampu menjaga keutuhan dan kehormatan (rumah tangga) warga masyarakat terkait atau internal perusahaan. Perusahaan dilarang memberikan ekses negatif dalam kegiatannya yang akan mengganggu rusaknya akal pikiran manusia. Islam melarang umatnya mengkonsumsi atau memproduksi makanan dan minuman yang dapat merusak akal karena akan mengancam eksistensi akalnya.<br />
Dalam pemeliharaan harta, transaksi jual beli harus dilakukan secara halal. Jika tidak, maka eksistensi harta akan terancam, baik pengelolaan atau pemanfaatannya. Karena itu, pihak perusahaan dilarang melakukan kegiatan yang secara jelas melangar aturan syara&#8217;.<br />
Dalam konteks tanggung jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility/CSR), maqashid as-yari&#8217;ah ditujukan agar pelaku usaha atau pihak perusahaan mampu menentukan skala prioritas kebutuhannya yang terpenting. Kebutuhan-kebutuhan itu tidak hanya diorientasikan untuk jangka pendek, tetapi juga jangka panjang dalam mencapai ridha Allah. Kegiatan ekonomi tidak saja melibatkan aspek materi, tapi juga kualitas keimanan seorang hamba kepada Allah Swt.<br />
Oleh karena itu, konsep pembanguan yang melibatkan maqashid as-yari&#8217;ah dimaksudkan agar terbentuk pribadi-pribadi muslim yang memiliki keimanan dan ketakwaan. Tentu saja sikap ini tidak saja didapatkan dari lubuk hati yang dalam. Tetapi, dilandasi juga dari kesadaran manusia untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang hamba-Nya. Kewajiban mengaplikasikan tanggung jawab seorang hamba untuk melakukan kejujuran, kebenaran, kebajikan dan kasih sayang terhadap seluruh data kehidupan aktual. Islam mengajarkan tanggung jawab agar mampu mengendalikan diri dari tindakan melampaui batas kewajaran dan kemanusiaan. Tanggung jawab ini mencakup tanggung jawab kepada Allah, kepada sesama dan lingkungannya.<br />
<em>* Pemerhati masalah Perlindungan Konsumen dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=26&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/csr-dalam-perspektif-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sampah dan Globalisasi</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/sampah-dan-globalisasi/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/sampah-dan-globalisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 22:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Lingkungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/sampah-dan-globalisasi/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
&#160;
Sumber: Suara Publik, Sabtu 29 September 2007 
Meski Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam, masalah yang tengah dihadapi bangsa ini begitu pelik. Selain persoalan ekonomi, kesehatan, pendidikan dan hak-hak dasar masyarakat lainnya , masyarakat juga dihadapkan pada kondisi lingkungan kurang baik.
Oleh Najmudin Ansorullah
Masalah sampah menjadi perhatian serius, karena selain menyangkut dampak kesehatan terhadap warga maupun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=12&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="entry">&nbsp;</p>
<p class="snap_preview">&nbsp;</p>
<p align="justify"><em>Sumber: <a href="http://www.suarapublik.org/?pilih=lihat&amp;id=189" target="_blank">Suara Publik, Sabtu 29 September 2007</a> </em></p>
<p align="justify"><em>Meski Indonesia mempunyai kekayaan sumber daya alam, masalah yang tengah dihadapi bangsa ini begitu pelik. Selain persoalan ekonomi, kesehatan, pendidikan dan hak-hak dasar masyarakat lainnya , masyarakat juga dihadapkan pada kondisi lingkungan kurang baik.</em></p>
<p align="justify"><strong><em><u>Oleh</u> Najmudin Ansorullah</em></strong><span></span></p>
<p align="justify"><span id="more-12"></span>Masalah sampah menjadi perhatian serius, karena selain menyangkut dampak kesehatan terhadap warga maupun lingkungannya agar terhindar dari penyakit, juga dapat menyebabkan terjadinya bencana alam, seperti banjir, longsor dan lain-lain.</p>
<p align="justify">Dahulu masyarakat kurang banyak mengkonsumsi barang-barang yang mengandung zat-zat kimiawi, tapi kini masyarakat sudah terbiasa dengan memakan yang serba instant dan gemar membuang bungkusan barang-barang konsumsi, yang dalam bahasa Alfin Toflfer (1988), disebut “masyarakat yang serba membuang” dalam “kesementaraan”.</p>
<p align="justify">Melihat kota-kota besar di Indonesia seperti Jabotabek, Bandung dan lain-lain sudah banyak yang berpola hidup mewah dan meninggalkan gaya hidup secara tradisional. Super market dan tempat belanja besar lainnya banyak tersedia, karena itu masyarakat tinggal memesan atau mendatangi secara cepat pesanan mereka dari berbagai barang komoditas.</p>
<p align="justify">Dalam kebutuhan rumah tangga warga banyak mengonsumsi barang-barang bermuatan bungkus plastik, kaleng, atau benda-benda keras lainnya yang siap untuk dibuang. Maka, pantas misalnya jika dari 2,5 juta jiwa di kota Bandung memproduksi 7.500 meter kubik sampah. Sebagian besar sampah rumah tangga. Apalagi di kawasan Jakarta yang penduduknya lebih padat. Menurut data Dinas Kebersihan DKI Jakarta tahun 2005, sampah di TPA Bantar Gebang mencapai 6.000 ton perhari. 3.100 ton, merupakan sampah yang dihasilkan dari limbah aktivitas rumah tangga dan permukiman penduduk Jakarta (Kompas, 15/05).</p>
<p align="justify">Seiring dengan rencana pasar bebas, arus jumlah barang-barang yang “berseliweran” ke Indonesia mungkin akan lebih besar kapasitasnya. Masyarakat dibutuhkan ketangkasannya dan sikap yang produktif untuk mengantispasi kecenderungan dampak buruk dari globalisasi.</p>
<p align="justify">Mengingat dalam memenuhi kebutuhannya, masyarakat Indonesia sampai saat ini masih lebih gemar mempergunkanan produk luar negeri daripada produk domestik. Jika tidak diantisipasi lebih awal, masyarakat Indonesia hanya akan kebanjiran sampah-sampah barang modern imbas globalisasi dan budaya masyakatnya yang masih konsumtif.</p>
<p align="justify">Globalisasi dengan indikasinya perdagangan bebas seharusnya tidak dijadikan “kambing hitam” sebagai pencemar lingkungan, karena pada akhirnya masyarakat dituduh sebagai pelaku pencemaran barang-barang konsumsi. Perusahaan-perusahaan yang mengeluarkan limbah paberik juga besar dalam menyumbangkan sampah.</p>
<p align="justify">Penanggulangan masalah sampah merupakan tanggung jawab bersama setiap warga. Pengelolaan sampah seharusnya dilakukan dengan keputusan yang lebih arif. Jika memang perlu dilakukan dengan teknologi, maka teknologi itu harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat, yakni teknologi ramah lingkungan, berjangka panjang serta tepat guna agar sampah-sampah tersebut tidak selalu menumpuk.</p>
<p align="justify">Di kota-kota besar, bila musim hujan tiba kita sering melihat genangan air. Banjir tidak terelakan, sehingga menyebabkan warga harus mengungsi. Selokan sudah sangat keruh dengan kotoran sampah yang menghalangi arus air. Masyarakat seakan sudah terbiasa dengan kondisi menjenuhkan itu, seperti kesulitan dalam mendapatkan air bersih untuk keperluan minum atau mandi.</p>
<p align="justify">Bantaran kali yang sudah tercemar kotoran industri, terpaksa dijadikan tempat pemandian. Kelangkaan air bersih perlu penangan serius karena sudah merupakan kebutuhan primer masyarakat.</p>
<p align="justify">Seiring dengan pembangunan industri yang terlanjur pesat, pengolahan limbah-limbah industri yang membahayakan harus segera dipikirkan, seperti dengan mendaur ulang limbah-limbah kotoran dengan memanfaatkan teknologi ramah lingkungan. Pola pembuangan sampah tidak boleh dibiarkan seenaknya tanpa memikirkan akibatnya.</p>
<p align="justify">Bayangkan, untuk menghancurka kaleng-kaleng atau plastik hingga menjadi tanah kembali itu memakan waktu lama dibandingkan dengan pembuatan kaleng-kaleng yang setiap hari diproduksi. Hal itu sangat sulit, bahkan bisa dikatakan tidak mungkin. Daur ulang harus dilakukan dengan mengambil langkah-langkah cermat, ramah lingkungan dan tidak menjadikan dampak buruk terhadap keberlangsungan makhluk hidup.</p>
<p align="justify">Sedikit saja membuat kesalahan terhadap keberlangsungan makhluk hidup dalam mengambil langkah-langkah daur ulang kotoran sampah, dan jika sampah terus dibiarkan menumpuk berlarut-larut, maka tidak menutup kemungkinan tanah Indonesia akan lebih banyak kotoran industri dari pada lahan-lahan bersih. Dengan begitu ancam bukan saja ditujukan pada manusia, tapi seluruh makhluk baik yang bernyawa maupun tidak. Setiap yang tumbuh di negeri ini akan ikut terancam punah (*)</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=12&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/sampah-dan-globalisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>