<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>JURNAL NAJMU &#187; Budaya</title>
	<atom:link href="http://jurnalnajmu.wordpress.com/category/budaya/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com</link>
	<description>Gerbang Pengetahuan dan Pemikiran Islam</description>
	<lastBuildDate>Wed, 05 Dec 2007 12:08:05 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='jurnalnajmu.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/b199ace054f07bce5b5a2d00806c4261?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>JURNAL NAJMU &#187; Budaya</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jurnalnajmu.wordpress.com/osd.xml" title="JURNAL NAJMU" />
		<item>
		<title>&#8220;Suara Belantara&#8221;</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/suara-belantara/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/suara-belantara/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 00:13:40 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/suara-belantara/</guid>
		<description><![CDATA[Remang-remang
Di tengah malam gelap gulita seseorang tertidur sekejap, dua jam. Dalam tidur yang singkat itu, Ia terbawa mimpi ke kampung halaman. Di depan sebuah warung, Ia bersama temannya memperbincangkan tentang kampung halamannya. Temannya bertanya, bagaimana keadaan kampung kita sekarang? Ia berkata, kampung halaman kita sekarang sudah kurang pesonanya! Wah sekarang gaya bicara kamu sudah seperti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=28&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>Remang-remang</strong></p>
<p align="justify">Di tengah malam gelap gulita seseorang tertidur sekejap, dua jam. Dalam tidur yang singkat itu, Ia terbawa mimpi ke kampung halaman. Di depan sebuah warung, Ia bersama temannya memperbincangkan tentang kampung halamannya. Temannya bertanya, bagaimana keadaan kampung kita sekarang? Ia berkata, kampung halaman kita sekarang sudah kurang pesonanya! Wah sekarang gaya bicara kamu sudah seperti pejabat saja!, kata temannya. Ketika terbangun dari tidurnya, Ia sadarkan diri dan termenung, ternyata hanya mimpi malam di tengah cuaca yang sedang remang, gumamnya.<span id="more-28"></span></p>
<p align="justify">Di tengah kegelapan malam, desis suara angin menyambat pori-pori menusuk kelembutan sukma yang sedang gundah dan gelisah. Ia bergegas pergi ke air sembari menenteng lampu minyak tanah untuk mengambil air wudhu. Berulang-ulang Kitab Suci terdengar dengan nada lembut seakan mengalahkan malam yang kelam.</p>
<p align="justify">Malam hampir mendekati Shubuh, hujan baru saja membasuh bumi yang penuh debu kemunafikan dan keangkuhan manusia. Sisa-sisa hujan mulai tampak diiringi kabut dan sayup-sayup cahaya putih dari langit. Pandangan menjadi remang seakan rabun berjalan tanpa tongkat.</p>
<p align="justify">Tiba-tiba teringat teman pernah berkata, bahwa seorang pemikir itu harus rajin bangun pagi, banyak berjalan, berolah-raga, mempunyai ide, rencana, strategi yang baik berwawasan luas dan ketajaman pikiran. Mau tak mau pemikir itu jangan hanya mengandalkan membaca, menulis dan menghabiskan waktu di kamar. Sebisa mungkin harus banyak berbaur dengan masyarakat menyelesaikan masalah, katanya. Hanya remang-remang seperti mimpi malam, karena ucapan teman itu sulit diterima dan dilakukan, sementara pendidikan di negeri ini remang-remang saja, gumamnya.</p>
<p align="justify">Di tengah kondisi keremangan, manusia penuh ketidakpastian, yang tidak pasti adalah remang-remang. Seakan hidup di dunia maya, panca indra menangkap dunia yang penuh ketidak-pastian, yang nampak hanya remang-remang. Jika manusia tidak terbukti bukan terbuat dari tanah, api, udara air, (bawah dan atas), tak pelak lagi manusia adalah makhluk remang-remang. Ia mengetahui bahwa dirinya adalah manusia dari seseorang -orang lain, bahwa kita semua adalah manusia.</p>
<p align="justify">Wanita penjajak cinta atau WTS (wanita tuna susila) sering disebut &#8220;wanita harapan&#8221;, harapan siapa? Konon, WTS kerjanya di tempat remang-remang, tapi pak Polisi dan petugas Pol PP (Polisi Pamong Praja) bertugas menjaring kupu-kupu malam di tempat remang-remang. Jadi, siapa yang suka kerja di tempat remang-remang?</p>
<p align="justify">Pujangga sering mengatakan, dunia penuh keremangan, dalam keremangan malam, remangnya rembulan atau hidup dalam remang-remang.***</p>
<p align="justify"><strong>Ibarat Gunung dan Kelinci</strong></p>
<p align="justify">Dari pandangan kejauhan keremangan gunung perkasa terlihat berwarna biru, namun jika dari jarak dekat banyak pohon hijau menghiasai keindahan gunung. Orang mengira gunung hanya diisi binatang buas atau mengeluarkan letusan lahar, pijaran api panas dan debu. Padahal, bila seisi gunung berbicara mungkin mereka mempunyai cerita pengalaman yang indah.</p>
<p align="justify">Gunung telah bersahabat dengan binatang, air, udara sejuk termasuk manusia. Namun, manusia membuat remang-remang terhadap gunung. Apabila gunung memiliki hasrat untuk membuktikan dirinya bahwa ia bisa membuat manusia remang-remang, tentu manusia menghadapi kesulitan. Gunung cukup bersabar, hanya menatap, duduk bersila tanpa berdiri atau melangkah menonton kelakuan manusia yang serba-serbi.</p>
<p align="justify">Andaikan gunung nan indah dapat bicara, mungkin terdapat cerita. Di suatu rimba belantara terdapat beberapa hewan berkeliaran. Di antaranya kelinci yang cantik dan mempesona, lincah dan menawan. Setelah sekian lama kelinci itu berlari dengan gontai, tapi sebenarnya kencang, gunung menyambut kelinci dengan tersenyum.</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Gunung berkata pada kelinci,</p>
<p align="justify">&#8220;duhai puteri cantik, kuingin memberikan hadiah untukmu, jangan engkau bebani dirimu dengan serentetan pertanyaan, siapa sang pemberi, dari mana dan apa hadiah ini, engkau cukup tersenyum terserah mau di dalam hati atau terbahak-bahak itu adalah hak kebahagiaanmu yang tak bisa dicabut dan diganggu-gugat, sekarang dan mudah-mudahan selamanya&#8221;.</p>
<p align="justify">Kelinci itu membalas tersenyum sambil memberikan tarian indah mempesona dan memikat perhatian gunung sehingga luluh tak berdaya dengan tarian kelinci.</p>
<p align="justify">&#8220;Terima kasih kelinci engkau telah membuatku senang dan bahagia&#8221;, kata gunung.</p>
<p>Binatang lain bertanya,</p>
<p>&#8220;wahai gunung, kenapa tak bertekuk lutut saja di depan kelinci itu&#8221;!</p>
<p>Gunung menjawab,</p>
<p>&#8220;sebenarnya aku sudah lama sedang asik bermain petak-umpet dengannya. Bukan aku malu bersujud, tapi hujan terus turun hingga aku harus melidunginya dari kedinginan. Kabut tebal turun dari singgasananya menutupi pandangan, aku hampir kehilangannya. Tiba-tiba kilatan cahaya datang, aku sangat khawatir. Untung saja aku sadar, bahwa potretan Sang Khalik lebih tajam mengintip di berbagai sela-sela penjuru, menitipkan serentetan tugas suci&#8221;.</p>
<p>Seekor ayam berkata dengan lantang,</p>
<p>&#8220;bangun wahai petani!&#8221;.</p>
<p>Sesosok tubuh tak dikenal datang mencaci maki gunung, lalu berkata,</p>
<p>&#8220;hai gunung kau sangat congkak, biarkan kelinci itu bersamaku untuk menjadi penghibur disaat aku kesepian&#8221;. Makhluk tak dikenal itu melanjutkan,<br />
&#8220;jika kelinci itu sudah ada dipangkuanku niscaya ia akan mencintaiku&#8221;.</p>
<p align="justify">Ia berjalan terus ke arah bukit lebih tinggi sambil membawa bunga mawar untuk sang kelinci, tapi hatinya tak tenang karena gunung lawan kuatnya untuk mendapatkan kelinci. Di benak tubuh tak dikenal itu, ia berbisik,</p>
<p align="justify">&#8220;ah dasar gunung suatu saat engkau akan mengetahui kekuatanku dan mengaku kalah&#8221;. Sambil meludah, tubuh tak dikenal itu berkata, &#8220;kelinci menarilah untuku&#8221;.</p>
<p align="justify">Seeokor anjing datang mencium air ludah yang tercecer di atas tanah itu. Anjing bertanya,</p>
<p align="justify">&#8220;milik siapa air ludah ini&#8221;?. Dengan girang anjing menghampiri air ludah itu lebih dekat, lalu menciumnya, anjing berkata, &#8220;ah najis&#8221;.</p>
<p align="justify">Sementara gunung kian malang nasibnya, mukanya bersedih seperti mau menangis.</p>
<p align="justify">Harimau bertanya,</p>
<p align="justify">&#8220;kenapa engkau keluarkan air sungai di mukamu&#8221;?</p>
<p align="justify">Gunung menjawab,</p>
<p align="justify">&#8220;ini bukan mauku, tapi aku kasihan petani tak kebagian air untuk bercocok-tanam&#8221;.</p>
<p align="justify">Air berkata pada gunung,</p>
<p align="justify">&#8220;aku tak mau keluar lagi karena harus melewati limbah pabrik kimia, mereka banyak membuang kotoran sembarangan&#8221;</p>
<p align="justify">Lalu, gunung menengadahkan kepalanya ke atas lalu menunduk bersujud.</p>
<p align="justify">Allahu Akbar!</p>
<p align="justify">saat ini, gemetar dan rendah rasa hatiku</p>
<p align="justify">untuk menghilangkan ingatan masa lalu</p>
<p align="justify">dari kesan keterpurukan masa mendatang</p>
<p align="justify">tanpa disadari semua musti tahu</p>
<p align="justify">8,9 itu telah meluluh-lantakan bangunan kokoh</p>
<p align="justify">mayat-mayat terlihat tergeletak di beberapa persimpangan dan sudut &#8220;Serambi&#8221;</p>
<p align="justify">masa lalu tak akan terlewati kembali</p>
<p align="justify">tapi baru ini yang aku mampu</p>
<p align="justify">&#8220;entah&#8221; sampai kapan aku berhenti?</p>
<p align="justify">karena &#8220;entah&#8221; pertanda ketidak-tahuan</p>
<p align="justify">terkadang harus membayar mahal demi sebuah kata &#8220;entah&#8221;</p>
<p align="justify">sampai kapan kata &#8220;entah&#8221; dapat terjawab?</p>
<p align="justify">ini bagian potret kecil di persinggahan</p>
<p align="justify">dari hutan belantara di pedalaman</p>
<p align="justify">menuju Tanah Suci menyambut panggilan Ilahi</p>
<p align="justify">siapa tahu puteri kecil menjadi Ratu Sulthan</p>
<p align="justify">yang berwibawa melahirkan &#8220;wakil kesempurnaan&#8221;</p>
<p align="justify">kala layar kapal lalu-lalang dari Timur ke Selatan</p>
<p align="justify">dan Tenggara ke arah Timur</p>
<p align="justify">sampai Sri Maharaja memberi perintah membawa puteri China</p>
<p align="justify">Ratu Agung ke Luragung</p>
<p align="justify">merubah menjadi Nyi Mas</p>
<p align="justify">belum lama dari Barat</p>
<p align="justify">bahkan pelosok buana</p>
<p align="justify">berbondong-bondong bertebaran</p>
<p align="justify">layang-layang bermesin nyawa manusia</p>
<p align="justify"> menuju &#8220;Tanah Rencong&#8221;.</p>
<p align="justify">ketika ketimpangan kian menjadi busana</p>
<p align="justify">angin tak mengizinkan layar kapal ikut menggelombang</p>
<p align="justify">bersama ombak sejarah yang terasa kering</p>
<p align="justify">sehingga sulit untuk berenang</p>
<p align="justify">hawa udara telah menyesakan nafas</p>
<p align="justify">hanya mimpi yang membuat terbangun dalam cerita kelam</p>
<p align="justify">lebarnya jalan sudah tak menentukan arah</p>
<p align="justify">meski tak sesempit yang terduga</p>
<p align="justify">lampu-lampu kota tak seindah rasi bintang</p>
<p align="justify">di atas langit yang membuat poros berbentuk layang-layang</p>
<p align="justify">atau seperti kalajengking</p>
<p align="justify">jalan berlekuk dengan kerikil-kerikil tajam</p>
<p align="justify">tanah berlubang di antara semak-semak</p>
<p align="justify">jurang dan hawa sejuk yang segar</p>
<p align="justify">namun terkadang bisa kehilangan arah jalan</p>
<p align="justify">basah tak terasa telah kering</p>
<p align="justify">karena secercah jalan keluar di antara samudera ketidak-pastian</p>
<p align="justify">ingin rasanya mendobrak</p>
<p align="justify">melewati</p>
<p align="justify">melawan kerinduan yang menggigil</p>
<p align="justify">dalam bara api panas</p>
<p align="justify">meleleh dan berbaur dalam air jernih</p>
<p align="justify">adat bukan lagi nostalgia</p>
<p align="justify">tapi kebiasaan itu sudah luar dari biasa</p>
<p align="justify">larut dalam peradaban manusia</p>
<p align="justify">darah tak lagi terpisah atau dipisahkan</p>
<p align="justify">tapi bersatu melahirkan kejayaan</p>
<p align="justify">&#8220;trah&#8221; bukan suatu kebanggaan</p>
<p align="justify">tapi yang musti diluruskan dan memohon &#8220;limpahan&#8221;</p>
<p align="justify">kemarin tak terasa untuk esok yang terasa</p>
<p align="justify">berapapun makhluk di dunia</p>
<p align="justify">dan malaikat di atas langit ke-tujuh sampai &#8220;Arsyi al-Majid&#8221;</p>
<p align="justify">tak dapat menghitung nikmat Tuhan</p>
<p align="justify">beribu kejenuhan hanya terjawab dengan yang tak terpancar oleh mata</p>
<p align="justify">perlindungan terbalik arah menjadi yang dilindungi</p>
<p align="justify">dari manis menjadi pahit</p>
<p align="justify">pahit menjadi manis</p>
<p align="justify">tertawa terbahak-bahak</p>
<p align="justify">bebas tanpa rasa malu</p>
<p align="justify">kemegahan lenyap tanpa bekas</p>
<p align="justify">diganti sebuah reruntuhan</p>
<p align="justify"><strong>Untuk Masa Depan</strong></p>
<p align="justify">Masa lalu memang tak akan terulang lagi, kendati sesosok hadir dengan wajah yang berbeda, tapi setidaknya ada sebuah makna yang tersisa. Harus kah teringat sebuah nama, kisah, kelapa di perkebunan, luka, atau sebuah kedamaian yang tak kenal panasnya perut bumi.</p>
<p align="justify">Seorang bocah kecil bersandalkan jepit dan kaki seperti ubi bakar orang katakan. Tak tahu debu itu kotor, air bisa juga berbahaya, api lampu akan membakar alisnya, membuat meriam dari minyak tanah dan sepotong bambu, perahu-perahu berlayar di kolam terbuat dari kertas atau dedaunan. Melihat kenakalan sang kakak marah menggosok kulitnya dengan batu hingga kakinya lecet. Lalu, bocah itu mengintip sang ibu sedang apa di rumah. Padahal, sang ibu dan keluarga sedang sibuk sambil tertawa melihat kelakuan bocah itu.</p>
<p align="justify">Ahli jiwa mengatakan hilangkanlah masa lalu yang buruk, tapi kenapa yang baik tidak? Bukan sungguhan tapi sebuah mainan di kala bocah itu memegang senjata dari kayu bercat merah putih, tertidur lelap mempermainkan ayahnya, menyetir mobil dari kayu atau sendal jepit. Menggelinding bocah itu terjatuh di lantai karena tembok licin terbasahi air hingga kepalanya benjol.</p>
<p align="justify">&#8220;Manuk dadali, manuk pang-gagahna&#8221; itu bisa menjadi &#8220;manuk piit&#8221; atau &#8220;manuk-manukan&#8221; yang bisa di lempar batu dengan ketapel dari jarak dekat tatkala singgah di abad &#8220;era-era-an&#8221;. Tertawa dan gembira, bersedih dan menangis sambil telanjang tanpa sehelai kain di tengah lapangan terbuka sambil memperebutkan bola dengan temannya. Bocah itu merasakan dinginya air hujan yang membasahi tubuh hingga harus jatuh bangun dari sakit. Tanah merah memenuhi kepalanya sehingga tubuh kotor serta rambut lengket dengan tanah.</p>
<p align="justify">Geremas cuaca menghanyutkan tubuh yang gemetar terhampiri sebuah kenangan kelam. Akan kah bisa terhapuskan? Gunung selalu mengajak bercanda bermain petak umpet, di pagi atau sore hari tertutup kabut tebal. Dulu, bukan sekarang orang mengajaknya bercerita dan menjadikan pendengar setia tentang suatu masa. Kini, bukan dulu bocah itu tidak lagi menjadi pendengar atau penonton, tapi layar itu telah roboh tersapu angin zaman yang berlari kian cepat.</p>
<p align="justify">Jika Maling Kundang diberikan ramuan ingatan tentang suatu masa, maka Ia tak akan membendung sungai Citarum hingga Priyangan tak lagi berbusana, seperti bocah kecil itu. Tapi, bila tidak ada ayunan tangan dan tiupan melodi angin zaman, bocah itu akan menendang kembali membalikan perahu membuat candi menjadi saksi bisu yang hanya mengangap-angap saja.</p>
<p align="justify">Memori itu akan terulang kembali bila tidak dilarutkan ke dalam cairan tinta zaman yang hanya akan menodai kertas putih berayun menyisiri pantai mengikuti ombak dunia yang penuh warna-warni.</p>
<p align="justify"><strong>Pagi di Perkampungan</strong></p>
<p align="justify">Dari penjuru arah, terihat kampung yang amat sejuk dan indah. Sebuah gunung berundak seperti kulit buah yang melapis. Dari kejauhan terlihat warnanya bukan cokelat, tapi hijau. Megah dan perkasa, seakan ingin mengucapkan &#8220;selamat&#8221;, selamat siang, selamat sore, selamat malam, selamat pagi dan selamat berjuang kepada penghuni tempat itu. Air sungai mengalir dengan riak bagai bertepuk tangan dari sumber mata air yang jernih.</p>
<p align="justify">Dingin menembus pori-pori menusuk jemari kalbu menantikan sang surya tiba. Gemericik air hujan malam hari membuat udara terasa dingin. Pagi tiba kabut pun menyambut seperti turun dari singgasananya. Suatu hari yang tak kenal pantangan bagi alam telah berlaku di tempat itu. Dengan rasa tertegun kepada Ilahy, layar lebar tertutup hawa dingin berwarna putih, membasahi semua yang tersinggahi. Potretan sinar datang seakan ingin mengabadikan suasana nan indah.</p>
<p align="justify">Bangun wahai petani! Ayam sudah berkokok pagi kelam. Sungguh malu mereka sudah bersiap-siap bahkan dari tadi menemani &#8220;kongkorongok&#8221;-nya sang jago merah jantan.</p>
<p align="justify">Padi yang menguning di ladang sawah bagaikan hamparan emas. Petani seakan tak pernah mengenal lelah mengolah tanah. Rasanya tak akan cukup untuk menyebutkan karunia yang telah diberikan-Nya kepada penghuni bumi pertiwi. Benarkah bahwa alam kita termasuk paling kaya di antara negara lain? Jika demikian, kenapa masih banyak terlihat masyarakat yang hidup dalam kemiskinan dan pengangguran merajalela?</p>
<p align="justify">Terdengar riuh gemuruh air di sebelah Timur membuat warga menyambut dan menyirami tubuh yang sudah kedinginan. Di sebelah Barat terdengar suara gaung mobil yang mengisyaratkan dan mengatakan, &#8220;ayo saya sudah siap!&#8221; Bergelinding roda empat membawa warga menuju sejuta harapan.</p>
<p align="justify">Anak-anak berseragam sekolah dengan asik berjingklak-jingklak berjalan menyusuri jalanan becek dan licin pinggir sawah mencari bebatuan atau menginjak rerumputan melompat-lompat menghindari air dan kotoran yang dapat menodai baju putih dan celana merah.</p>
<p align="justify">Tak ketinggalan anak-anak berseragam rapi mengenakan celana panjang dan pendek berwarna biru tua dan biru kemuda-mudaan bertuliskan OSIS berwarna kuning dan ada juga berwarna cokelat dengan celana panjang abu-abu mengenakan tas berjalan dengan gagah di pinggir sawah yang licin.</p>
<p align="justify">Benar, tiba-tiba air hujan menetes dari atas, lalu menderas. Anak-anak itu tak kehabisan cara, mereka berteduh di bawah pohon sambil memegang sehelai daun pisang di tengah pesawahan. Bahkan ada yang tidak menghiraukan hujan, Ia maju jalan terus pantang mundur untuk menyongsong masa depan dengan sehelai daun pisang.</p>
<p align="justify">Orang tua tersenyum melihat anaknya kehujanan seperti yang pernah merasakannya. Kalau sakit tentu orang tua yang harus merawatnya. Mungkin pikirnya, dengan dedaunan, sakit akan tersembuhkan. Seperti ayam yang suatu waktu terjangkit penyakit ayan dipercayai bisa sembuh dengan ditutupi daun talas.</p>
<p align="justify">Salah seorang anak sakit panas dan tidak bisa pergi sekolah. Sang bapak langsung membawa daun Ki Hujan (daun lebat berukuran kecil) dan membasahi kepala anaknya dengan air hangat yang sudah diramu dengan dedaunan.</p>
<p align="justify">Di sekolah, ibu guru menerangkan pelajaran dan berkata,</p>
<p align="justify">&#8220;anak-anak sekarang kata pemerintah bahwa Indonesia sudah masuk musim hujan, jadi kita harus siap, siap apa anak-anak&#8221;?</p>
<p align="justify">Salah satu murid menjawab,</p>
<p align="justify">&#8220;siap-siap ibu guru&#8221;!</p>
<p align="justify">Di sebelah belakang seorang murid menjawab,</p>
<p align="justify">&#8220;siap payung sebelum hujan&#8221;!, kata anak-anak.</p>
<p align="justify">&#8220;Betul sekali anak-anak&#8221;, kata ibu guru.</p>
<p align="justify">Ibu guru menambahkan,</p>
<p align="justify">&#8220;kita juga harus siap-siap menjaga kesehatan agar tidak terkena, tidak terkena apa anak-anak&#8221;?, tanya ibu guru.</p>
<p align="justify">Anak-anak menjawab,</p>
<p align="justify">&#8220;agar tidak terkena diare dan demam berdarah&#8221;, jawab anak-anak.</p>
<p align="justify">&#8220;Betul kamu&#8221;, kata ibu guru cantik kepada anak-anak agar kelihatan anak-anak tetap ceria.</p>
<p align="justify">Di pinggir sebelah kanan bangku ke-dua dari depan seorang anak bercerita,</p>
<p align="justify">&#8220;ibu guru, ibu guru, kemarin ada orang di kampung saya yang sedang di sawah meninggal tersengat petir, matanya melotot tubuhnya hitam hangus terbakar, tubuhnya terbalik ke tanah ketika di angkat tetangga yang melihat Ia terasa keras seperti patung, kenapa ya ibu&#8221;?</p>
<p align="justify">Ibu guru tersentak kaget dan merinding mendengar anak yang bercerita dengan polos tanpa mengenal rasa ngeri itu. Ibu guru pun langsung duduk yang semula berdiri dengan ceria menuju kursi dengan tubuh lemas terkepar di depan kelas.***</p>
<p align="justify">                                                                                      <em>Bandung, Rabu, 06:30 Pagi 23-02-2005</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/28/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/28/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=28&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/suara-belantara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Konsumtivisme, Konsumerisme dan Konsumen Muslim</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/konsumtivisme-konsumerisme-dan-konsumen-muslim/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/konsumtivisme-konsumerisme-dan-konsumen-muslim/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Nov 2007 00:09:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Ekonomi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/konsumtivisme-konsumerisme-dan-konsumen-muslim/</guid>
		<description><![CDATA[Sumber: Media Konsumen (Kamis, 27 September 2007)

Oleh. Najmudin Ansorullah*
Dengan melihat angka 88 persen umat Islam dari 228 juta jiwa penduduk Indonesia, sejatinya umat Islam sangat potensial sebagai penyumbang kemajuan ekonomi nasional. Kenyataannya, Bank Dunia November 2006 menyebutkan kemiskinan di Indonesia 149 juta jiwa (49 persen) dari total penduduk Indonesia. Data Susenas 2006 membuktikan tahun 2005 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=27&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><em><a href="http://www.mediakonsumen.com/Artikel931.html">Sumber: Media Konsumen</a> (Kamis, 27 September 2007)</em><strong><br />
</strong></p>
<p align="justify"><em><strong>Oleh. Najmudin Ansorullah*</strong></em></p>
<p align="justify"><a href="http://jurnalnajmu.files.wordpress.com/2007/11/belanja-konsumen.jpg" title="belanja-konsumen.jpg"><img src="http://jurnalnajmu.files.wordpress.com/2007/11/belanja-konsumen.jpg" alt="belanja-konsumen.jpg" align="right" /></a>Dengan melihat angka 88 persen umat Islam dari 228 juta jiwa penduduk Indonesia, sejatinya umat Islam sangat potensial sebagai penyumbang kemajuan ekonomi nasional. Kenyataannya, Bank Dunia November 2006 menyebutkan kemiskinan di Indonesia 149 juta jiwa (49 persen) dari total penduduk Indonesia. <span id="more-27"></span>Data Susenas 2006 membuktikan tahun 2005 angka kemiskinan mencapai 35,10 juta (15,97 persen), meningkat menjadi 39,05 juta atau 17,75 persen (2006). Agenda reformasi yang diharapkan menjadi pendulum pengentasan kemiskinan, justru menambah kuota kaum miskin. Bergulirnya kebijakan yang tidak proporsional, pada gilirannya menghilangkan sentra lapangan kerja yang berimbas pada melonjaknya angka pengangguran.<br />
Ditambah kehadiran perusahan multinasional (MNC) yang mampu menyerap sebagian besar perokonomian nasional. Kondisi itu, menurut RW Hefner (2000), telah membuat kaum muslim tidak menikmati pembagian kue ekonomi Indonesia secara adil, meski pertumbuhan ekonomi mutakhir telah meningkatkan jumlah kelas menengah muslim, tetapi proporsi komunitas muslim yang cukup besar masih miskin.<br />
Bahkan, selama ini, zakat cenderung selalu digunakan secara konsumtif. Padahal penggunaan zakat selayaknya dapat dipergunakan untuk keperluan lain (QS at-Taubah: 6), seperti untuk memperbaiki mesjid dan mushala, dijadikan modal usaha dan koperasi dalam rangka memerangi kemiskinan dan pengangguran.<br />
Perkembangan arus barang dan jasa dalam perdagangan bebas tentu sangat mendorong perhatian khususnya bidang ekonomi dan (hukum) bisnis. Dalam konteks Islam, penduduk muslim di Indonesia dituntut mampu menghadapi arus komersialisme perdagangan bebas.<br />
Untuk mengimbangi konsumsi masyarakat, pelaku usaha atau korporasi yang bergerak di bidang bisnis dituntut mampu menyodorkan produk terbaiknya dalam kegiatan ekonomi.</p>
<p align="justify"> <strong> Konsumtivisme vs. Konsumerisme<br />
</strong></p>
<p align="justify">Konsumen (pembeli atau pemakai) dalam bahasa Arab dikenal mustary (pembeli). Dalam format kamus yang berbeda, Kamus Indonesia-Arab memuat kata al-mustahlik (pemboros dan konsumsi) al-istihlak (memboroskan atau membuang harta) (Alkalali, 1995). Alih bahasa kata &#8220;boros&#8221; dalam Kamus Inggris-Indonesia, adalah wasteful (boros, royal), extravagant (berlebih-lebihan, mewah) dan lavish (menghambur-hamburkan). Berbeda dengan consumer yang berarti konsumen dan pemakai (JM Echols dkk., 1995).<br />
Dalam pemakaian bahasa, kata boros sering dikonotasikan dengan konsumerisme. Al-hasil, terjadi pemaknaan yang berlawanan antara boros dan sederhana sebagai sifat consumers. Istilah untuk pemborosan dikenal &#8220;konsumtivisme&#8221; yang dilawankan dengan &#8220;konsumerisme&#8221;, yaitu gerakan konsumen akibat perilaku pelaku usaha yang tidak jujur (fair).<br />
Islam sangat menganjurkan pemenuhan kebutuhan hidup secara sederhana. Dalam pandangan Islam kegiatan ekonomi merupakan tuntutan kehidupan, di samping merupakan anjuran yang memiliki dimensi ibadah. Sejalan dengan MN Shiddiqi (1991), bahwa aktivitas ekonomi dalam pandangan Islam bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup secara sederhana, memenuhi kebutuhan keluarga, memenuhi kebutuhan jangka panjang, menyediakan kebutuhan keluarga yang ditinggalkan dan memberikan bantuan sosial dan sumbangan menuntut jalan Allah.<br />
Konsumsi atau pemanfaatan merupakan hal penting dalam pengolahan kekayaan. Pemanfaatan adalah akhir dari keseluruhan proses produksi. Pengunaan harta harus diarahkan pada pilihan yang baik dan tepat agar kekayaan dapat dimanfaatkan pada jalan sebaik mungkin.<br />
Konsumen muslim tidak hanya menekankan aspek duniawi semata. Kemanfaatan konsumsi di dunia harus memiliki nilai ibadah. Konsumen muslim selalu dapat meyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat dalam mencapai ridha Allah, karena semua yang dihasilkan kemudian dikonsumsi ditujukan untuk kemaslahatan yang lebih besar (al-maslahat al-ummat).</p>
<p align="justify"> <strong>Konsepsi Konsumen Muslim<br />
</strong></p>
<p align="justify">Sekilas sering terdengar istilah &#8220;konsumen muslim&#8221; yang bisa mengandung arti pemakai suatu produk barang atau jasa beragama Islam. Tapi, larangan agama, misal terhadap daging babi di negara berpenduduk muslim atau daging sapi di India merupakan bagian pilihan konsumen yang membuat perbedaan wilayah atau komunitas, bahkan status. Dalam kondisi ini Hefner (2000), melihat bahwa logika pilihan konsumen menjadi model yang dipromosikan para pengusaha dalam ranah sosial yang sebelumnya diatur norma-norma non-pasar dan tidak menutup kemungkinan orang lain dalam komunitas tertentu akan melihat barang atau jasa yang diberikan bisa ditolak secara moral.<br />
Upaya kembali memberikan muatan moral pada kekayaan bukan semata-mata refleksi mekanis dari kemakmuran. Bukan pula keseragaman kebetulan yang melintasi suatu kawasan tertentu, melainkan pada kemampuan organisasi keagamaan dan organisasi serupa (termasuk organisasi politik) untuk merespon tantangan gaya hidup yang berlebihan demi kepentingan sesaat atau segelintir orang kaya saja. Bukanlah kekayaan itu sendiri yang buruk, tapi penggunaan yang menolak konsesi yang dilembagakan bagi kepentingan masyarakat.<br />
Kenyataan bahwa konsumen terbesar Indonesia adalah masyarakat muslim telah menghasilkan respon dari pemerintah melalui Departemen Agama (Ditjen Bimas Islam dan Penyelengaraan Haji) yang bertugas memberikan pelayanan dan perlindungan bagi sekitar 85 persen penduduk muslim Indonesia, terutama dalam mengkonsumsi makanan, minuman, obat, kosmetika dan barang gunaan yang halal. Dari segi essensi agama, ada hal-hal yang diberikan kepada konsumen muslim untuk mendapatkan hak-haknya sebagai tuntutan kewajiban dalam mencapai nilai keimanan. Hak-hak yang diberikan kepada muslim sebagai tuntutan kewajiban dalam aktivitas ekonomi di antaranya ialah mendapatkan harta secara halal. Barang dan jasa yang diperoleh harus bermanfaat untuk kemaslahatan umum dan dapat dipertanggung-jawabkan di sisi Allah Swt.<br />
Berangkat dari konsep Islam mengenai harta, hak dan kepemilikan, terlepas harta itu dari model transaksi perdagangan atau bukan, Alimin dkk. (2004), mengartikan konsumen (muslim) adalah setiap orang, kelompok atau badan hukum pemakai suatu harta benda atau jasa karena adanya hak yang sah, baik ia pakai untuk pemakai akhir atau pun untuk proses produksi selanjutnya.<br />
Konsumen muslim sangat berkepentingan mendapat perlindungan hokum, karena terkait kebebasan melakukan kegiatan ekonomi secara syar&#8217;i dalam perlindungan konsumen. Karena itu, para pelaku bisnis atau badan-bdan komersial sangat bertanggung-jawab mempertimbangkan kondisi itu, di samping untuk mempertegas tanggung jawab pelaku usaha dalam Islam.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=27&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/16/konsumtivisme-konsumerisme-dan-konsumen-muslim/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://jurnalnajmu.files.wordpress.com/2007/11/belanja-konsumen.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">belanja-konsumen.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Pada Ketulusan</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/belajar-pada-ketulusan/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/belajar-pada-ketulusan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 23:48:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/belajar-pada-ketulusan/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Najmudin Ansorullah*
“Apabila saya diberi kesempatan belajar dan memiliki waktu luang, maka saya ingin melanjutkan niat untuk belajar kepada seorang tua yang dalam keadaan sakit”.
Pernyataan itu dikatakan seorang ustad muda pimpinan Popes Nurul Hidayah Situdaun Bogor, Furqon Faruq (24 tahun) pada Mei (04/05) lalu, ketika saya terlibat dalam sebuah percakapan menarik dengannya.
Maklum, setelah ayahnya meninggal, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=25&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><strong>Oleh Najmudin Ansorullah*</strong><br />
“Apabila saya diberi kesempatan belajar dan memiliki waktu luang, maka saya ingin melanjutkan niat untuk belajar kepada seorang tua yang dalam keadaan sakit”.<br />
Pernyataan itu dikatakan seorang ustad muda pimpinan Popes Nurul Hidayah Situdaun Bogor, Furqon Faruq (24 tahun) pada Mei (04/05) lalu, ketika saya terlibat dalam sebuah percakapan menarik dengannya.<span id="more-25"></span><br />
Maklum, setelah ayahnya meninggal, ustad muda itu merupakan anak pertama yang menggantikan ayahnya mengelola pesantren, sehingga kelihatan sangat sibuk. Banyak hal dibicarakan, tapi ada satu hal menarik untuk direnungkan, ketika ustad itu menceritakan orang tua renta yang uzur usia, tapi masih giat melakukan aktivitas keagamaan, seperti pengajian rutin. Padahal, kesehatannya sudah terganggu berbagai penyakit.<br />
Pernyataan itu, telah membuat dahi saya mengkerut. Sengaja pernyataannya tidak dipotong agar kelanjutannya dijelaskan. Padahal, secara akal sehat, pikiran saya justru kalau yang diberikan kesempatan belajar banyak itu terjadi pada saya, maka kesempatan itu akan dipergunakan untuk belajar kepada Anda yang usianya masih muda, cerdas, sehat, segar bugar dan memiliki semangat tinggi. Biasanya, meski anak muda sering bertindak emosi dan ego yang tinggi, justru kalau anak muda itu cerdas mungkin akan menguras ilmunya yang ada dan dapat menghilangkan ketegangan, sehingga pembelajaran akan dinikmati secara santai.<br />
Sang ustad berpikiran lain, “orang tua akan menyumbangkan ilmu dan segudang pengalamannya dari yang terpahit sampai yang dianggap paling berguna secara jujur, tulus dan benar, katanya. Ia melanjutkan, dalam keadaan sakit, orang tua yang berilmu luas akan sering menghindar dari perkataan dusta, berkilah atau perbuatan tidak terpuji seperti korupsi. Ia tidak akan berpikir bagaimana cara menarik masa, memperbanyak uang dan menyembunyikan keadaannya. Bahkan, orang tua berpengetahuan luas dalam keadaan sakit tidak akan berpikir bagaimana anak cucunya besok dapat makan, karena dalam benaknya mungkin terbesit bagaimana kondisi masyarakatnya yang masih suram dan generasi yang akan datang. Pada akhirnya, bagaimana ia harus mempertanggung-jawabkan perbutannya dihadapan Pemiliknya (Tuhan), begitu papar ustad muda.<br />
Pada umumnya, manusia tidak akan membawa “secuil” apapun, kecuali kain kafan ke liang kubur berukuran sempit untuk menemaninya dalam kesunyian malam dalam bawah tanah. Bagi orang berilmu luas (arif), terlebih dalam keadaan sakit, tentu pikiran itu telah ada bahwa harta, tahta dan wanita tidak mungkin dibawa ke liang kubur dan tidak akan menolongnya ketika malaikat maut menjempuntnya. Justru ilmu bermanfaat, pribadi yang bijak, kejujuran, ketulusan dan kedermawanan semasa hidupnya yang akan menolong dia kelak di hadapan Tuhan.<br />
Lalu, bagaimana dengan anak muda apakah memang suka berbohong, berdusta berbuat menyimpang?, bukanlah akalnya lebih cerdas dan fisiknya masih segar bugar di banding orang tua yang sakit?, bukankah anak muda sering belajar pada orang tua?, atau apa sudah saatnya orang tua menimba ilmu pada anak muda?<br />
“Bangsa yang Sedang Sakit”<br />
Perilaku orang tua dapat mempengaruhi sikap anak, karena sikap orang tua dapat ditiru anaknya dan jika terus berlangsung, maka begitu seterusnya sampai cucu, cicit dan “saeuneung-euneung”. Jika tidak diajarkan sikap kritis, maka anak akan belajar pada orang tua dengan cara meniru apa yang baik dan yang buruk.<br />
Kenyataan yang terjadi di Indonesia, semakin orang itu tua, semakin ia ingin ditiru oleh generasinya. Masalah itu masih dalam ambang kewajaran. Tapi, bersaman dengan itu, semakin tinggi kedudukannya, bahkan semakin tinggi ilmunya, maka semakin ingin mempertontonkan jabatannya yang tinggi, semakin ingin memperoleh nama di mata publik dan semakin ingin memiliki pengaruh luas di masyarakat, dan keinginan-keinginan lainnya yang pada akhirnya dia diperbudak keinginannya sendiri akan hal-hal yang dianggap meraup keuntungan, padahal kesulitan telah melilitnya. Sebenarnya seseorang memiliki keinginan itu sah-sah saja, tapi bila keinginan itu telah mengakibatkan kesulitan (bangsa), sama halnya orang tua telah menjerumuskan anak yang lahir dari rahim bangsa Indonesia.<br />
Padahal, sifat keinginan yang terlalu besar itu merupakan sifat yang semestinya dimiliki anak muda. Kenapa tidak pada anak muda saja?<br />
Mungkin belum ada penelitian yang menyebutkan, bahwa kebanyakan korupsi-korupsi yang terjadi di negeri ini mayoritas dilakukan oleh orang-orang tua, sehingga anak-anaknya pun banyak makan uang haram. Mungkin, ada catatan dalam sejarah kelam Indonesia bahwa korupsi terbesar dilakukan oleh orang tua, karena indikasi mengarah ke situ. Maka, pantas bangsa ini banyak tertinggal dari negara-negara lain, karena berat langkah memilkul beban utang negara yang disebabkan korupsi.<br />
Entah penyakit “pikun”, “rabun ayam”, “osteoporosis” atau sebangsanya jika melihat orang-orang tua Indonesia yang masih terlihat melakukan itu, padahal sangat kuat ekonominya. Semestinya jika mengikuti falsafah padi, semakin tua seseorang, maka semakin merendah diri, jujur, tulus terbuka.<br />
Kesehatan atau Kesetanan?<br />
Ada peribahasa kuno, men sana in corpore sano; dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang (juga) sehat. Sementara itu, banyak orang gila lebih kuat fisiknya tertimpa panas dan hujan tanpa berbusana di jalanan. Apakah itu berarti tubuh bangsa yang baik akan menjadi jaminan bagi jiwa bangsa yang baik pula?. Peribahasa ini dikenal juga dalam peribahasa Arab, fi jismi al-salim, al-aqlu salim; di dalam tubuh yang selamat terdapat akal yang selamat. Jadi, bukan hanya sehat. Bagaimana anak muda Indonesia?<br />
Mungkin terlalu dini untuk menilai Indonesia bebas dari korupsi. Karena itu, jangan menilai bahwa anak muda sekarang sudah memasuki babak baru untuk “menertibkan” orang tua agar terhindar dari (penyakit) korupsi turunan, atau menggantikan menjadi koruptor baru (the new corruptor era). Bahkan di Indonesia, sebagian menilai korupsi sudah memiliki akar “budaya” yang kuat. Jangan heran, jika ada anak muda muncul menjadi pengganti orang tua yang koruptor dan terlilit masalah utang.<br />
Ketika para orang tua memiliki kemampuan lebih dalam ekonomi, pengetahuan dan kedudukan, ternyata kelebihannya tidak digunakan untuk masyarakat. Kondisi itu telah memprihatinkan bangsa ini, karena bukan lagi terjadi “menabrak akal sehat”, tapi akal sehat sudah terlanjur dikuasai sifat “setan” (kesetanan). Selamatkanlah “akal sehat” yang tergeletak “di jalan” agar bersikap jujur, tulus dan menjauhi hal-hal buruk untuk keselamatan bangsa.<br />
<em> * Penulis pemerhati masalah-masalah sosial</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/25/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/25/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=25&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/belajar-pada-ketulusan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Transformasi Budaya dalam Bahasa</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/24/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/24/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 23:46:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/24/</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh Najmudin Ansorullah*
Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan “mematikan” budaya bangsa.
 Kepunahan bahasa?
Banyaknya variasi penuturan bahasa daerah tertentu disebabkan terjadinya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=24&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"> Oleh Najmudin Ansorullah*</p>
<p align="justify">Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan “mematikan” budaya bangsa.<span id="more-24"></span><br />
<strong> Kepunahan bahasa?</strong><br />
Banyaknya variasi penuturan bahasa daerah tertentu disebabkan terjadinya perbedaan budaya yang cukup kuat. Namun, menurut Prof. Dr. Arief Rahman dalam penelitiannya, di Kalimantan, misalnya, satu dari 50 bahasa tak lagi digunakan. Di Sumatera, dari 13 bahasa dua di antaranya kritis dan satu punah. Di Sulawesi, satu dari 110 bahasa telah lenyap, dan 36 dalam kondisi terancam. Di Tomor, Flores Bima dan Sumba, tercatat 50 bahasa masih bertahan, tapi delapan di antaranya terancam. Di Papua dan Halmahera, dari 271 bahasa daerah, 56 di antaranya hampir punah. Sementara itu, di Jawa tidak mengalami kepunahan (berbagai sumber).<br />
Sungguh ironis, ketika daerah-daerah yang masih terpelihara dan sangat potensial dalam perkembangan kebudayaannya justru bahasa daerahnya terancam, bahkan sebagiannya punah. Mengapa menurut Prof Dr. Arif Rahman (Kompas, 22/5) di Jawa tidak? Bukankah institusi-nstitusi pendidikan, khususnya sekolah sebagai lembaga formal yang berwenang melaksanakan proses transformasi pengetahuan dan teknologi atau arus globalisasi dituduh sebagai tempat dimulainya pengikisan budaya daerah secara sistematis? Sementara itu, hampir semuanya tersedia di Jawa.<br />
Penelitian yang dilakukan salah satu dosen STISI Bandung (maaf lupa namanya) dengan mengacu pada bahasa dalam Pantun Bogor, bahwa di Bogor Jawa Barat sekira tahun 1990-an bahasa asli daerah hampir sudah tidak bisa ditemukan. Secara geografis, Jawa Barat memiliki kedekatan dengan Jakarta yang nota bene bergaya hidup modern, karena itu “berseliweran” bahasa dan budaya antara kota dan desa.<br />
Wajar saja, apabila laporan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), bahwa volume migrasi ke Jawa Barat mengalami peningkatan. Tahun 1980 jumlah migrasi seumur hidup di Jawa Barat sebanyak 963.372 orang. Tahun 1990-an mengalami peningkatan mencapai 2.408.626 orang. Kemudian, tahun 2000 meningkat sebanyak 3.271.882 orang (PR, 29/08/2006).<br />
Selain itu, jika dihubungkan dengan penelitian Imelda (Inovasi, Vol. 8/XVIII, 2006) bahwa di wilayah Indonesia, hilangnya bahasa secara tiba-tiba mungkin saja terjadi karena wilayah Indonesia rawan bencana alam (tempat pertemuan tiga lempengan dunia: Eurasia, Indo-Australia, dan lempeng Pasifik). Sepanjang tahun 2000-2006, Indonesia setidaknya mengalami tujuh kali gempa bumi dahsyat (lebih dari 6,2 pada skala Richter) dan dua kali tsunami. Salah satunya termasuk dalam kategori gempa terdahsyat di dunia. Gempa dan tsunami di Aceh berkekuatan 9,3 skala Richter yang memicu tsunami dengan ketinggian 10 meter, dalam catatan Owen (National Geographic, 2005) telah memakan korban meninggal dunia mencapai jumlah 240.000 orang di Aceh dan Nias. Bencana lain ialah gempa di Yogyakarta dan gempa tsunami di Selatan Jawa. Dua bencana yang terakhir ini juga menewaskan ribuan orang.<br />
Dari jumlah korban tersebut muncul sebuah prediksi mengenai hilangnya suatu desa dan penduduknya, terutama pada desa yang berada di sepanjang pantai yang tersapu tsunami saat gempa dan tsunami Aceh. Menurut laporan Cahanar (2005: 215) bahwa 70% penduduk kota Calang tewas dalam bencana tersebut, yang menurut data statistik Pemerintah Daerah NAD dari 86.000 jumlah penduduk yang tersisa hanya 25.800 orang di Kota Calang.<br />
Kejadian ini juga secara otomatis “dapat” berarti hilangnya keanekaragaman bahasa di Indonesia. Hilangnya bahasa berarti hilangnya budaya bangsa yang merupakan kerugian tak terhitung nilainya.<br />
Meski data-data di atas memiliki perbedaan pernyataan dalam melihat kondisi bahasa di Jawa, tapi hal itu dapat menunjukan sebaliknya bahwa problem bahasa di Jawa sangat kompleks dan seharusnya mudah terancam. Kiranya, pernyataan Prof. Arief Rahman (Kompas, 22/05), bahwa di Jawa tidak terjadi kepunahan atau penelitian Imelda (2006), yang menyatakan bahwa jumlah penutur bahasa-bahasa nusantara semakin ke Timur semakin sediki perlu ditinjau ulang.<br />
Meski data-data yang disajikan kedua pakar tersebut cukup argumentatif, tapi bukan berarti data-data itu sudah dianggap final. Kemungkinan kepunahan bahasa bisa saja terjadi karena masyarakat sudah sekian lama melunturkan budayanya. Dengan melihat salah satu sisi dalam pemakaian “nama” dan gelar kepemimpinan saja dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya.<br />
Misalkan, bahasa Sunda yang memiliki berbagai dialek dan susunan kata bahasa kerap kali dikaburkan penuturnya dengan objek atau subjek yang berbeda. Istilah “abah” sering ditujukan pada kakek. Padahal, kata “abah” adalah kata serapan dari bahasa Arab yang ditujukan untuk orang tua (bapak), yaitu “aba” atau “abun”, “ya’ba”, “abah”.<br />
Di Tasikmalaya, misalnya, istilah “abah” ditemukan “abah sepuh” (bapak tua) dan “abah anom” (bapak muda). Sementara itu, di Banten lebih menggunakan “bapak kolot” (kakek). Kiranya, penuturan kata seperti itu dalam masyarakat jawa bukan dilihat hanya faktor usia, tapi dinisbatkan kepada orang-orang yang memang “dituakan” masyarakat, misalnya karena menjadi panutan.<br />
Berbeda dengan kata “abu” (bukan nama seseorang) yang bersinonim dengan kata “embah”. Di Bogor, kata “abu” ditujukan untuk perempuan yang sudah tua (nenek). Penuturan seperti itu mungkin sudah menyalahi aturan bahasa, tapi itulah kenyataannya. Seperti halnya dalam panggeugeut (bhs Sunda), nama “Muhammad” menjadi “Mamat” (kadangkala Memet) yang dilihat dari maknanya akan terlihat jauh. “Muhammad” artinya “terpuji” berarti pula diambil dari nama nabi, sedangkan “Mamat” artinya “mati”. Dilihat dari akar bahasanya (bahasa Arab), sebenarnya kata “umi” dan “mamah” memiliki persamaan yang berarti “ibu”. Kata “ibu” bisa juga penyimpangan dari kata “abu”, begitu seterusnya.<br />
Itulah fakta kerancuan bahasa yang terjadi di sekitar kita pada umumnya. Dan apabila dikatakan telah terjadi kepunahan, sesungguhnya telah lama terjadi. Pergaulan masyarakat Indonesia dengan suku-suku bangsa dan agama di dunia masa lalu telah mengakibatkan masyarakat banyak menyerap bahasa Asing ke dalam bahasa sehari-hari, termasuk untuk identitas diri. Misal, karena masuknya (para pedagang Arab) Islam abad ke-9 H/14 M, masyarakat banyak mengubah nama ke-Arab-arab-an.<br />
Oleh karena itu, mengapa harus phobia dengan kehadiran bahasa-bahasa asing kalau memang budaya masih tetap dipertahankan? Atau apakah ada ketidakberesan dalam budaya kita?<br />
Meski masyarakat masih banyak menggunakan bahasa daerah dalam penggunaan nama, tapi banyak yang mengkombinasikan bahasa daerah dengan bahasa asing, karena pengaruh asimilasi dan akulturasi budaya masyarakat dengan bahasa daerah lain atau bangsa asing. Penyerapan bahasa seperti itu berlanjut sampai sekarang, sehingga secara anekdot mungkin terjadi peranakan suku Sunda dan Rusia melahirkan nama Cecep Gorbachev, karena sampai kini banyak orang menyerap bahasa asing ke dalam bahasa daerah atau bahasa daerah yang satu dengan bahasa daerah yang lain, seperti penggunaan nama Andi dari bahasa Sulawesi diserap ke dalam bahasa Jawa.<br />
Memang tidak ada hukum yang melarangnya, tapi persoalannya apabila bahasa yang kita pergunakan sudah tidak sesuai dengan (makna) budaya kita, sehingga akan berpengaruh dalam pensistematikaan bahasa ke dalam kehidupan sehari-hari. Masalah ini akan semakin parah apabila penggunaan bahasa asing itu sudah dianggap gengsi (vrivillege), modern dan sebagainya dan menganggap kuno bahasa dan budaya lokal. Hal ini, tentu memperkeruh budaya bangsa dalam berbahasa atau “budaya bahasa”. Di satu sisi, bahasa asing dianggap penting dalam pergulatan internasional (baca: arus globalisasi). Di sisi lain, penyerapan bahasa asing malah dianggap memperkeruh budaya bangsa.<br />
Apa yang dimaksudkan di atas adalah agar penutur bahasa mampu membawa citra budaya bangsa yang baik. Lebih jauh, karakter budaya lokal harus mampu menghadirkan sosok Indonesia yang lebih bermartabat di mata internasional. “Biarkan lauk-pauknya dari luar (negeri), tapi nasinya tetap citra khas daerah (Indonesia)”. Artinya, bahasa asing boleh dipelajari di berbagai lembaga, instansi dan sebagainya dalam menjawab perubahan zaman, tapi bahasa dan budaya daerah tetap menjadi pokok yang dianut bangsa kita”.<br />
Dengan demikian, tidak akan ada phobia tentang kepunahan bahasa daerah yang berarti pula punahnya budaya dan pada akhirnya kepunahan bangsa. Pandangan kehawatiran kepunahan bahasa kiranya masih abstrak –hanya dari beberapa sudut.<br />
Tatkala bahasa yang indah tidak digunakan dengan baik, seperti “nama” indah dipergunakan penuturnya dengan banyak melakukan kejahatan, mungkin lebih baik nama (maaf) Bagong Suyatno yang prikemanusiaan dari pada Arif bin Bijak, tapi “kepribinatangan”.<br />
Masalah ini sebenarnya merupakan masalah yang harus dilihat secara terintegrasi (seperti integrasi budaya-bahasa) dan menyeluruh, karena bahasa merupakan hasil proses yang amat panjang dari masyarakat.<br />
<strong> Bahasa dan kemajuan budaya</strong><br />
Seandainya benar bangsa Eropa pada masa pencerahan (aufklaerung) telah melakukan “penterjemahan” besar-besaran atas karya agung orang-orang Islam di dunia Timur, Jepang mungkin negara pertama di dunia yang mampu menterjemahkan kembali bahasa Barat tanpa meninggalkan budaya dan bahasanya, sehingga dapat sejajar dengan negara-negara Barat.<br />
Indonesia? Dari satu sudut memang mengalami mental atas penjajahan orang-orang Barat, sehingga bahasa Inggris dianggap bahasa kafir oleh kalangan pesantren. Tapi kemudian, banyak disadari justru kekuatan lokal akan mampu membawa kemajuan dan merupakan kekuatan bangsa, termasuk budaya dan bahasa masyarkat.<br />
Konon menurut Cak Nur dalam Teologi Industri angka nol sebenarnya berasal dari Indonesia yang pada masa kerajaan Sriwijaya dibawa pelajar India, kemudian dipatenkan oleh orang-orang Arab.<br />
Dibandingkan Jepang, Indonesia lebih banyak budaya dan bahasanya, tapi pelestarian budaya tidak serta merta dikembangkan melalui kesadaran masyarakat dalam berbahasa. Padahal, bahasa adalah cermin budaya masyarakat. Maka, wajar ketika bahasa daerah kurang dipergunakan diperkotaan atau dalam lingkup nasional, karena masyakarat seakan tidak diberi “ruang” untuk “percaya diri” dalam menuturkannya. Selama ini, penuturan bahasa masih dilatarbelakangi “primordialisme” semata dan belum disertai “ruang” untuk menuturkan bahasa dengan bebas.<br />
“Sensor” atas pemberitaan di berbagai media juga merupakan cermin dari pengekangan akan berbahasa. Bahkan, di berbagai media masa terlihat bahasa mengikuti trend pasar. Trend itu, terlihat juga di Indonesia ketika bahasa Jepang sudah menjadi pilihan paforit para pelajar yang kursus bahasa-bahasa Asing, karena tawaran bursa kerja yang menggiurkan. Maka, tidak heran jika lembaga-lembaga kursus memberikan tarif berbeda dalam penawaran program bahasa.<br />
<strong> Pengekangan bahasa</strong><br />
Secara tidak disadari pengekangan bahasa sudah semakin kuat, termasuk bias agama. Pemakaian kata “puasa” dianggap masalah, karena itu dipakai kata “shaum rhamadan” dan membenci pemakaian kata “puasa”, “anda” dengan “antum”, “saya” dengan “ana”, “saudara-saudari” dengan “ikhwan-akhwat”, “siswa” dengan “murid” dan lain-lain.<br />
Di negara-negara Barat (baca: Amerika dan Eropa) pengekangan terhadap bahasa malah dicampuri ideologi dan agama. Nama-nama orang Muslim banyak dicurigai memiliki keterkaitan dengan klaim teroris, sehingga terjadi tindakan sweeping dan diskriminasi terhadap pendatang Muslim. Bahkan, di negara mayoritas Muslim sekalipun isu ideologi dan agama sering dikaitkan dengan bahasa. Di negara Turki, kata-kata “bernuansa” Islam seperti “khilafah” atau bahasa-bahasa agama yang dijadikan simbol seperti pelarangan memakai jilbab di parlemen dilarang keras oleh negara.<br />
Demikian di Indonesia, pengekangan bahasa atas nama agama sering terjadi seperti karena isu sekulerisme tanpa terlebih dahulu mengerti bahasa yang sedang dipergunakan. Dengan melihat pengalaman Jepang, apakah tindakan itu dapat menghambat kemajuan?<br />
Seiring perkembangan zaman dan otonomi daerah (Otda), bahasa nasional dan bahasa daerah akan menghadapi berbagai perubahan. Demikian itu, seluruh element masyarakat termasuk pemerintahan dituntut mampu mengembangkan budaya dan melestarikan bahasa dan budayanya itu dalam menyeimbangkan arus perubahan [] <em>Wallahu A’lam</em><br />
* Pemerhati budaya dan bahasa tinggal di Bogor</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=24&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/24/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>&#8220;Manusia Kuwulan&#8221;</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/manusia-kuwulan/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/manusia-kuwulan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 23:38:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/manusia-kuwulan/</guid>
		<description><![CDATA[Ketika bangsa Portugis atau VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) -yang banyak membawa rempah-rempah dari Indonesia untuk dijual mahal di Eropa-  pertama kali menjajakan kakinya ke Indonesia singgah di tepi pantai Banten, mungkin mereka sempat istirahat sambil mencicipi manisnya buah kelapa.
 Pohon kelapa jika sering diambil buahnya secara tidak teratur -misal sering diambil buah yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=21&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify"><font color="#ff0000"><em>Ketika bangsa Portugis atau VOC </em><em>(Verenigde Oost Indische Compagnie)</em></font><font color="#ff0000"><em> -yang banyak membawa rempah-rempah dari Indonesia untuk dijual mahal di Eropa- </em></font><font color="#ff0000"><em> </em></font><font color="#ff0000"><em>pertama kali menjajakan kakinya ke Indonesia</em></font><font color="#ff0000"><em> singgah di tepi pantai Banten, mungkin mereka sempat istirahat sambil mencicipi manisnya buah kelapa.</em></font><span id="more-21"></span><br />
<span></span> Pohon kelapa jika sering diambil buahnya secara tidak teratur -misal sering diambil buah yang muda- dapat mengakibatkan pertumbuhan buah kurang baik. Dengan perlakuan itu, buah kelapa muda akan terihat tua, dan begitu sebaliknya buah kelapa tua ketika dikupas akan terihat muda.<br />
Namun, bila pengambilannya secara tertaur (tidak secara acak), terlihat di atas pohon buah muda akan tetap pada posisi di bawah kelompoknya (Sunda: <em>ranggeuy</em> atau <em>manggar)</em>, sedangkan kelapa paling muda <em>(cengkir) </em>berada pada posisi paling atas dekat kembangnya. Demikian itu, seseorang tidak akan bingung untuk mengambil kelapa yang layak dan tidak layak untuk dimakan atau diminum karena terdapat kelapa hijau (buah muda) yang tanpa daging-hanya berisi air. Buah kelapa yang disebut terakhir biasanya dinamakan buah kelapa kuwulan. Kelapa kuwulan biasanya jatuh sebelum saatnya dan isi daging memburuk.<br />
Dengan memperhatikan kondisi bangsa ini, banyak orang-orang yang tumbuh secara tidak wajar dan tak seimbang. Bahkan, dianggap kurang bermutu, persis buah kelapa kuwulan karena manusia tidak banyak “terpupuk” pada masa pertumbuhannya. Jika perkembangan manusia dibiarkan, maka tidak menutup kemungkinan generasi berikutnya akan mengalami “pembusukan”. Seperti halnya perawatan buah kelapa yang kurang baik dan tidak terurus akan menghasilkan kelapa. Lama-kelamaan buah kelapa hanya menjadi makanan kelelawar atau jatuh dalam kondisi memburuk.<br />
Ada semacam sebuah kesengajaan, baik muncul dari individu itu sendiri atau orang lain ketika manusia tidak berusaha untuk memperbaiki dirinya sehingga hidup manusia statis tidak ada perubahan. Celakanya, kesengajan itu dibuat sedemikian rupa oleh orang lain, baik secara langsung atau tidak (struktural) yang dapat berakibat manusia menjadi “mandul” untuk berkreasi atau beraktifitas.<br />
Terdapat di antara orang yang berstatus sosial tinggi enggan bergaul dengan masyarakat bawah, sehingga terkesan meraka lebih tinggi statusnya atau derajatnya daripada orang yang hidup serba kekurangan. Ketimpangan antara masyarakat serba kecukupan <em>(the have)</em> dan masyarakat serba kekurangan <em>(the have not) </em>dapat mengakibatkan terjadinya sebuah peragian (pengawetan) dalam penuaan dini usia manusia.<br />
Dalam suatu kesempatan, ketika penulis tinggal di Tanjung Sari Sumedang selama dua tahun, memperhatikan seorang bapak berusia sekitar 40 tahun memiliki seorang puteri yang sangat cantik. Gadis itu mempunyai cara berpakaian yang rapi, kegiatannya aktif, gaya berbicara halus, berpikirnya sangat brilian. Penulis sempat kagum melihat gadis, sehingga terpikir bila selepas lulus SMA, gadis itu akan sanggup melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Jika nanti kuliah, Ia akan mendapatkan gelar sarjana yang lengkap; baik, pintar, dan cantik.<br />
Sayang, orang tua gadis yang kerja sebagai petani itu lebih mementingkan ladang sawahnya daripada pendidikan anaknya. Ia terkadang berpikir lebih baik anaknya itu tak pergi ke sekolah daripada kehabisan uang untuk membeli pupuk obat-obatan sawah atau untuk membeli pakan burung kesayangannya. Pada tahun 2002 penulis sering berbincang-bincang dengan orang tua itu. Selama berbincang-bincang dengannya, tak satupun pembicaraan menyinggung tentang pendidikan anak-anaknya, tapi kebanyakan membahas tentang bagaimana cara hidup sebagai petani.<br />
Dari kasus itu, timbul pemikiran, kok masih ada orang tua di zaman sekarang yang berpikir ke belakang -berpikir 1945-tahun-an, sehingga anaknya tak mampu melanjutkan ke jenjang lebih tinggi. Kini, gadis anaknya itu bekerja di sebuah perusahaan swasta menjadi buruh pabrik. Kasus itu, merupakan salah satu dari sekian banyak orang tua yang mengabaikan pendidikan anak-anaknya. Sehingga perkembangan pemikiran anak menjadi pasif di usia muda.<br />
Kini, manusia sudah melampaui batas kewajaran dengan adanya peperangan yang menelan ribuan korban jiwa melayang dengan satu partikel terkecil -atom- saja. Perkembangan manusia sudah dipercepat dan diperhambat secara struktural hingga orang berusia tua terkadang tersisihkan dengan kehadiran bocah-bocah “pendatang baru” yang terpaksa menjadi tua.<br />
Persis kelapa di atas yang tak terawat secara seimbang dan intensif. Kelapa muda akan jatuh sebelum (waktunya) tua. Ketika dikupas, kelapa tampak memburuk (istilah Sunda: <em>kuwulan).</em> Begitu pun kelapa yang sudah matang dengan ciri umum berkas hitam di bawah buah, dan bila dikupas, kelapa muda itu tak mempunyai isi -hanya cairan saja- dan kurang terasa manis apabila diminum.<br />
Demikian juga manusia apabila tak tumbuh secara wajar (seimbang) hanya akan menghasilkan manusia-manusia kurang bermutu <em>(kuwulan).</em> Manusia yang tak “dipupuk” sejak dini akan menghasilkan ‘kemandulan” pada generasi berikutnya. Bahkan, dapat mengakibatkan “kematian”, karena membiarkan manusia menjadi “busuk”. <em>Wallahu A’lam Bisshawab</em>[Najmudin]</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=21&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/manusia-kuwulan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dari Pantun “Buhun” Sampai Virus Komputer</title>
		<link>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/dari-pantun-%e2%80%9cbuhun%e2%80%9d-sampai-virus-komputer/</link>
		<comments>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/dari-pantun-%e2%80%9cbuhun%e2%80%9d-sampai-virus-komputer/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Nov 2007 23:32:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Najmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/dari-pantun-%e2%80%9cbuhun%e2%80%9d-sampai-virus-komputer/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Najmudin Ansorullah
Ketika &#8220;Urang&#8221; Bogor Membuat Virus!
Konon, dahulu orang Sunda sangat lihai membuat pantun. Misalanya, dalam Bogor Tunggul Kawung, dikisahkan bahwa Tunggul adalah anak miskin. Ia ditakdirkan hidup dalam kehinaan, sampai kemudian Tuhan berkehendak lain. Ia bertemu dengan Eyang Ajar Sakti, seorang petapa di sebuah Padepokan Lembur Padusunan.
Eyang Ajar yang welas asih itu berkenan padanya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=20&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Oleh: Najmudin Ansorullah</strong></p>
<p><strong>Ketika &#8220;Urang&#8221; Bogor Membuat Virus!</strong></p>
<p align="justify"><em>Konon, dahulu orang Sunda sangat lihai membuat pantun. Misalanya, dalam Bogor Tunggul Kawung, dikisahkan bahwa Tunggul adalah anak miskin. Ia ditakdirkan hidup dalam kehinaan, sampai kemudian Tuhan berkehendak lain. Ia bertemu dengan Eyang Ajar Sakti, seorang petapa di sebuah Padepokan Lembur Padusunan.</em><span id="more-20"></span><br />
Eyang Ajar yang welas asih itu berkenan padanya dan minta Tunggul mengikuti segala petunjuknya. Tunggul disuruh mandi di Sumur Ayu kemudian ke Sumur Taman Ayu. Ia pun dilarang beristri sebelum cita-citanya tercapai dan tidak boleh berbuat tercela seperti mencuri, berbohong, menipu, dan sebagainya.<br />
Dalam perjalanannya mencari rahasia kehidupan, Tunggul menemukan &#8220;Tangkal Koneng Sakeumbaran&#8221; (pohon bercabang dua berwarna kuning kembar) dan bertapa di sana. Kelak, di hutan di mana ia bertapa itulah pusat Kota Bogor berada (<a href="http://kompas.com/kompas-cetak/0307/21/metro/444467.htm"><em>Kompas, </em>Senin, 21 Juli 2003</a>). Namun, kini, anak-anak muda di Bogor sudah banyak meninggalkan budaya pantun. Ke mana meraka? Selidik punya selidik, di saat Pantun &#8220;Buhun&#8221; Sunda makin tersingkir, ternyata orang Sunda sudah bisa memanfaatkan kemajuan teknologi informasi, bahkan sampai pembuatan virus komputer. Hal ini, menandakan bahwa ada pergeseran budaya yang cukup kuat dalam masyarakat untuk memainkan kekuatan lokal dalam kemajuan teknologi. Bahkan, tidak tanggung-tanggung kekuatan lokal ini menjelma menjadi virus komputer yang berbahaya.<br />
Coba perhatikan, kisah Tunggul Kawung dalam Pantun Buhun tadi, kini sudah menjelma menjadi virus <em>W32/Gultung.A.</em> (Tunggul Kawung).Virus ini disinyalir berasal dari <em>Kota Hujan </em>Bogor.</p>
<p align="justify"><strong>Virus Lokal</strong></p>
<p align="justify">Kehadiran malware di tahun 2007 mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Virus lokal seperti Rontokbro dan Kespo menjadi virus nomor satu. Sementara spyware yang dua tahun lalu sempat menguasai dunia <em>malware</em>, meski kini tetap berlaga, harus tunduk pada intensitas serangan virus lokal maupun mancanegara.<br />
Metode lama seperti menyelipkan <em>spyware </em>melalui game, masihlah efisien. &#8220;Sejumlah game yang bersifat adiktif semisal <em>Bejeweled,</em> <em>Bookworm </em>dan <em>Atomica </em>merupakan target penyelipan <em>spyware </em>yang utama.<br />
Statistik virus lokal yang dihimpun Vaksin.Com memberikan hasil yang menakjubkan. Menurut spesialis antivirus PT Vaksincom Alfons Tanujaya, virus lokal sepanjang tahun 2007 mampu menjadi tuan di rumah sendiri.<br />
&#8220;Bahkan persentase insiden yang dikuasai oleh virus lokal lebih dari 50 persen, jadi kalau statistik penyebaran virus ini diibaratkan sebagai suatu Perseroan Terbatas, maka virus lokal adalah pemegang saham mayoritas,&#8221; ujarnya seperti dikutip dari <a href="http://detikinet.com/index.php/detik.read/tahun/2007/bulan/09/tgl/10/time/085059/idnews/827655/idkanal/323">DetikINET</a> (Senin, 10/9/2007).<br />
Dirigen virus lokal Rontokbro berhasil menguasai 48 persen penyebaran virus di Indonesia.<br />
Tenor dari paduan suara ini, lanjut Alfons, adalah Kespo yang meskipun hanya menguasai 0.95 persen penyebaran virus dengan 1.512 insiden, namun dalam 3 bulan terakhir ini merupakan virus nomor satu memakan korban file-file MS Word dan Excel.<br />
&#8220;Kespo mengubah file MS Word dan Excel dari komputer korbannya menjadi file eksekusi (.EXE) dan pada awalnya program antivirus tidak mampu mengenali virus yang dibuat menggunakan Delphi ini,&#8221; tukasnya.<br />
Ketika program antivirus mampu mengenali virus ini, akan muncul masalah baru dimana file terinjeksi virus yang tadinya MS Office yang berhasil dibersihkan formatnya berubah menjadi .exe sehingga tidak bisa dibuka.<br />
&#8220;Bukan itu saja, sebuah antivirus terkenal dari Rusia bahkan langsung menghapus semua file Office yang diinjeksi Kespo sehingga membuat penggunanya frustasi. Padahal seharusnya virus tersebut dapat dibersihkan dengan antivirus YAV dan file Office yang diinjeksinya dapat diselamatkan,&#8221;.<br />
YAV yang dibuat programmer Warnet Chanal Yogya membuktikan bahwa orang Indonesia juga tidak kalah dengan negara lain dan mampu memisahkan virus Kespo dari file MS Office sehingga korban Kespo banyak yang tertolong justru oleh komunitas programmer lokal.<br />
Hebatnya lagi, YAV dibuat dengan VB Script yang merupakan program ‘kebangsaan&#8217; para pembuat virus. Hal ini menunjukkan bahwa Bahasa Pemrograman adalah alat (senjata) yang jika digunakan untuk tujuan baik akan dapat membantu banyak orang meningkatkan produktivitas.<br />
&#8220;Kespo juga membuat geger dengan menginjeksi file database.dbf sehingga tidak bisa digunakan dan para vendor antivirus dan analis virus di luar negeri angkat tangan. Tetapi sekali lagi berkat bantuan veteran database Indonesia berhasil di recovery Mas Is dan Papuasoft berhasil di-<em>recover</em> dengan baik, imbuh Alfons.</p>
<p align="justify"><strong>Virus <em>W32/Gultung.A.</em> <em>(Tunggul Kawung)<br />
</em></strong></p>
<p align="justify">Celakanya, Alfons menandaskan, hal ini memberi ide bagi pembuat virus dari Bogor untuk membuat virus yang menghancurkan data seperti ‘Small.KI&#8217;, para pengguna komputer yang aktif bertukar data melalui Flash Disk harap berhati-hati dan selalu mem-backup data pentingnya pada media yang terpisah karena data korban virus Gultung (Tunggul Kawung) tidak dapat di-recover dengan sempurna.<br />
&#8220;Hanya teknik recovery advance saja yang dapat me-recover data yang dihancurkan oleh virus ini dengan tingkat recovery dibawah 70 persen,&#8221; tandas Alfons sebagaimana dikutip dari Detik.Net (Senin, 10/09/2007 08:50 WIB). Menurut <a href="http://madsyair.wordpress.com/2007/09/10/menangkal-serangan-tunggul-kawung/">Madsyair</a> (<em>Menangkal Serangan Tunggul Kawung</em>), file virus ini ada dua macam, yaitu file yang dibuat dengan <em>compiler</em> Visual Basic 6, seperti aniee.exe dan hanny.exe dan file yang dibuat dengan Visual Basic Script (VBS), seperti tunggul.vbs, iexplore.vbs, bogor.vbs. Yang bahaya dari virus ini, dia merusak data yang berekstensi doc. File yang dirusak sulit untuk di-recovery. Demikian penjelasan dari <a href="http://vaksin.com/2007/0907/Gultung.htm" target="_blank">www.vaksin.com</a>. Penjelasan lain juga bisa diperoleh di <a href="http://ansav.com/content/view/84/31/" target="_blank">www.ansav.com</a>. Di dalam script file vbs pada virus Tunggul Kawung tersebut, terdapat perintah yang membahayakan data MS. Excel dan MS. Word. Agar perintah tersebut tidak dapat bekerja, file vbs tersebut harus dicegah agar tidak terseksekusi.<br />
Aj Tau, <em>W32/Gultung (Tunggul Kawung):</em><em> </em><em>File MS Office Anda Berubah Jadi Soal Ujian Negara </em>(<a href="http://vaksin.com/2007/0907/Gultung.htm"><em>Vaksin.Com, </em>4 September 2007</a>), mengatakan bahwa setelah merebaknya kasus Kespo yang sempat menghebohkan beberapa waktu lalu, kini telah muncul virus yang mempunyai karakteristik seperti kespo, tetapi boleh dibilang virus ini mempuyai aksi lebih ganas dibandingkan kespo walaupun untuk saat ini masih terbatas menyerang file Office (MS.Word dan MS.Excel).<br />
Namun, menurut Zurick Zaryan (nama inisial, <a href="http://ansav.com/content/view/39/31/">Ansav.com</a>), sebenarnya virus ini menggunakan software virus maker AzVirGen versi 5.50. Kalau dilihat dari jenisnya bisa saja termasuk worm atau trojan, karena virus yang asli dibuat dengan menggunakan visual basic dan di dalam virus tersebut ditumpangi trojan. Nama virus dari visual basic RainCity.exe, kalau RainCity.exe dijalanakan akan membuat tunggul.vbs, KotaHujan.html, kujang.bat, dan KebunRaya.exe. Dari masing-msing file berbeda cara menginfeksinya. File RainCity.exe adalah file induk yang menyimpan beberapa file dan membuat di folder masing-masing file, file tunggul.vbs menyimpan menyembunyikan file DOC dan membuat file dengan nama sama dengan file DOC, tapi berakhiran VBS, file KotaHujan.html, kujang.bat belum terdapat sampelnya, sementara kebunraya.exe menumpangi file yang berakhiran DOC (sama seperti Ksplood) di semua drive kecuali A:.<br />
Dari semua file masing-masing mempunyai tugas tersendiri dan yang paling banyak tugasnya adalah tunggul.vbs.<br />
Pendapat yang terakhir ini lebih mengena daripada pendapat-pendapat sebelumnya mengenai virus Tunggul Kawung ini. Sayang, di Indonesia belum ada <em>spyware</em> yang dapat menangkal serangan virus Tunggul Kawung dari Bogor ini. Sementara di luar negeri sudah mulai membuat anti virus yang membahayakan ini. <em>Wallahu&#8217;alam</em></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jurnalnajmu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jurnalnajmu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jurnalnajmu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jurnalnajmu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jurnalnajmu.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jurnalnajmu.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jurnalnajmu.wordpress.com&blog=1584336&post=20&subd=jurnalnajmu&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jurnalnajmu.wordpress.com/2007/11/15/dari-pantun-%e2%80%9cbuhun%e2%80%9d-sampai-virus-komputer/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d9061c334936c05bbd360e86be4cf873?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Najmu</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>