Arsip untuk ‘Budaya’ Kategori

“Suara Belantara”

Remang-remang

Di tengah malam gelap gulita seseorang tertidur sekejap, dua jam. Dalam tidur yang singkat itu, Ia terbawa mimpi ke kampung halaman. Di depan sebuah warung, Ia bersama temannya memperbincangkan tentang kampung halamannya. Temannya bertanya, bagaimana keadaan kampung kita sekarang? Ia berkata, kampung halaman kita sekarang sudah kurang pesonanya! Wah sekarang gaya bicara kamu sudah seperti pejabat saja!, kata temannya. Ketika terbangun dari tidurnya, Ia sadarkan diri dan termenung, ternyata hanya mimpi malam di tengah cuaca yang sedang remang, gumamnya. Baca selebihnya »

Konsumtivisme, Konsumerisme dan Konsumen Muslim

Sumber: Media Konsumen (Kamis, 27 September 2007)

Oleh. Najmudin Ansorullah*

belanja-konsumen.jpgDengan melihat angka 88 persen umat Islam dari 228 juta jiwa penduduk Indonesia, sejatinya umat Islam sangat potensial sebagai penyumbang kemajuan ekonomi nasional. Kenyataannya, Bank Dunia November 2006 menyebutkan kemiskinan di Indonesia 149 juta jiwa (49 persen) dari total penduduk Indonesia. Baca selebihnya »

Belajar Pada Ketulusan

Oleh Najmudin Ansorullah*
“Apabila saya diberi kesempatan belajar dan memiliki waktu luang, maka saya ingin melanjutkan niat untuk belajar kepada seorang tua yang dalam keadaan sakit”.
Pernyataan itu dikatakan seorang ustad muda pimpinan Popes Nurul Hidayah Situdaun Bogor, Furqon Faruq (24 tahun) pada Mei (04/05) lalu, ketika saya terlibat dalam sebuah percakapan menarik dengannya. Baca selebihnya »

Transformasi Budaya dalam Bahasa

Oleh Najmudin Ansorullah*

Bahasa dan budaya merupakan dua sisi mata uang yang berbeda, tetapi tidak dapat dipisahkan, karena bahasa merupakan cermin budaya dan identitas diri penuturnya. Hal ini berarti, apakah bahasa dapat mempengaruhi budaya masyarakat atau sebaliknya?, sehingga bahasa dapat menentukan kemajuan dan “mematikan” budaya bangsa. Baca selebihnya »

“Manusia Kuwulan”

Ketika bangsa Portugis atau VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) -yang banyak membawa rempah-rempah dari Indonesia untuk dijual mahal di Eropa- pertama kali menjajakan kakinya ke Indonesia singgah di tepi pantai Banten, mungkin mereka sempat istirahat sambil mencicipi manisnya buah kelapa. Baca selebihnya »

Dari Pantun “Buhun” Sampai Virus Komputer

Oleh: Najmudin Ansorullah

Ketika “Urang” Bogor Membuat Virus!

Konon, dahulu orang Sunda sangat lihai membuat pantun. Misalanya, dalam Bogor Tunggul Kawung, dikisahkan bahwa Tunggul adalah anak miskin. Ia ditakdirkan hidup dalam kehinaan, sampai kemudian Tuhan berkehendak lain. Ia bertemu dengan Eyang Ajar Sakti, seorang petapa di sebuah Padepokan Lembur Padusunan. Baca selebihnya »